Perjalanan Spiritual Fahri, Pasca Ramadan
- 30 Mar 2026 11:45 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Matahari pagi menyentuh wajah Fahri dengan lembut, membangunkannya dari tidur yang nyenyak. Ramadan telah berlalu seminggu yang lalu, namun jejaknya masih terasa hangat di dalam dadanya. Di atas meja kecil dekat jendela, Al-Qur’an yang selalu ia baca selama bulan suci masih terbuka di Surah Al-Baqarah, ayat ke-183 tentang puasa. Tapi pagi ini, Fahri merasa ada yang berbeda. Sebuah kerinduan yang dalam, seperti kehilangan sesuatu yang berharga.
“Ramadan pergi, tapi apakah aku ikut pergi bersamanya?” gumamnya sambil menatap langit biru yang bersih.
Selama Ramadan, hari-harinya terstruktur dengan ketat dari bangun sahur, shalat subuh berjamaah, bekerja, berbuka dengan kurma dan air putih, shalat tarawih, dan tadarus hingga larut. Kini, tanpa struktur itu, ia merasa seperti perahu tanpa dayung, terombang-ambing di lautan rutinitas. Shalat lima waktu masih ia jalankan, tapi rasanya ada kekosongan antara adzan dan iqamah.
Di kantor, rekan-rekannya sudah kembali ke obrolan tentang politik, gosip selebriti, dan rencana liburan. Fahri tersenyum, ikut berbincang, tapi hatinya bertanya: “Apakah ini yang disebut ‘kembali normal’? Kembali kepada hal-hal yang melalaikan?”
| Baca juga: Ramadan Sebagai Bengkel Hati yang Berkarat |
Suatu sore, sepulang kerja, ia melewati masjid tempat ia biasa tarawih. Suara anak-anak mengaji terdengar merdu dari dalam. Tanpa berpikir panjang, Fahri masuk. Ia duduk di shaf belakang, mendengarkan. Lalu matanya tertuju pada seorang kakek tua yang sedang membersihkan karpet masjid dengan sapu lidi. Gerakannya pelan, penuh khidmat, seolah-olah ia sedang menyapu halaman Ka’bah.
“Kakek, boleh saya bantu?” tawar Fahri.
Si kakek menoleh, senyumnya merekah seperti bulan sabit. “Silakan, Nak. Tapi ingat, menyapu di sini bukan cuma buat bersihin debu. Ini buat bersihin hati.”
Kalimat sederhana itu menyentak Fahri. Selama ini, ia mengira perjalanan spiritual hanya terjadi di bulan Ramadan, dengan amalan-amalan khusus. Ternyata, ia bisa berlangsung setiap saat, dalam kesederhanaan. Membersihkan masjid, membantu orang lain, bahkan sekadar tersenyum itu semua adalah ibadah.
Sejak hari itu, Fahri mulai “memugar” spiritualitasnya di luar Ramadan. Ia tak lagi menunggu bulan suci untuk khatam Al-Qur’an. Ia tetapkan target satu juz per hari. Ia juga mulai menyisihkan sebagian gajinya untuk anak yatim di panti asuhan dekat rumah, sesuatu yang dulu hanya ia lakukan saat Ramadan. Bahkan di kantor, ia berusaha lebih sabar dan jujur, menganggap setiap interaksi sebagai ujian kesabaran.
Perubahan itu tidak dramatis, tapi bertahap. Seperti tetesan air yang melubangi batu. Suatu malam, saat ia shalat tahajud, untuk pertama kalinya sejak Ramadan berakhir, ia menangis. Bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur. Ia menyadari bahwa Ramadan bukan tujuan, melainkan stasiun pengisian bahan bakar untuk perjalanan sebelas bulan ke depan.
“Ya Allah,” bisiknya dalam sujud yang panjang, “jangan jadikan Ramadan sebagai puncak ibadahku, tapi jadikan ia awal yang konsisten untuk mendekat pada-Mu.”
Keesokan harinya, Fahri bertemu dengan sang kakek lagi di masjid. Kakek itu sedang memungut sampah daun di halaman.
“Sudah menemukannya, Nak?” tanya kakek, matanya berbinar.
“Apa, Kek?”
“Ruh Ramadan. Itu tidak pergi. Ia hanya bersembunyi di dalam hati, menunggu dicari setiap hari.”
Fahri mengangguk, kini ia paham. Perjalanan spiritual pasca Ramadan bukan tentang merindukan masa lalu, tapi tentang menghidupkan esensinya di setiap detik kehidupan. Ramadan telah mengajarkannya bagaimana caranya berjalan. Sekarang, saatnya ia melangkah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....