Jangan Sampai Panik dan Apatis Berpilin Berkelindan

  • 19 Mar 2026 19:18 WIB
  •  Pontianak

Catatan Syafaruddin DaEng Usman

RRI.CO.ID, Pontianak - Sepanjang perjalanan dari Sambas ke Pontianak, sementara ini masih sekitar Pemangkat, pemandangan umum masyarakat tumpah ke jalan untuk mendapatkan BBM.

Seluruh SPBU yang dilintasi, pun juga kios kecil, dalam keadaan tutup pintu dan gantung jerigen.

Panik massal sedang menghinggapi masyarakat. Bukan hanya di Kalimantan Barat. Kondisi demikian berbarengan masyarakat yang akan berlebaran, namun dalam kondisi menunggu hasil sidang isbat yang diselenggarakan pemerintah, apakah di hari yang sama atau beda, untuk merayakan Idul Fitri.

Tidak untuk menyebutkan hal-hal lainnya, cukup fokus ke kelangkaan BBM, masyarakat sudah dalam kondisi cemas. Dan (sepatutnya jangan) menjurus panik.

Sekalipun pemerintah telah menghamburkan kata dan menyiramkan kalimat penuh diplomatis untuk menenangkan.

Namun, kecemasan dan ada pula emosi yang semakin kuat.

Kita berharap jangan panik dan emosi berpilin berkelindan menjahit isu atau hoax sehingga terhampar selembar apatis.

Dalam keadaan seperti sekarang, sebaiknya pihak pemangku kenegaraan menginsyafi untuk "jangan ada dusta diantara kita".

Penangguk di air keruh suasana sekarang pun tak terbilang banyaknya. Bahkan bukan hanya menangguk, tapi juga berusaha menyedot habis. Ini realita.

Patut dipahami mengapa keadaan sekarang terjadi? Harap tidaklah ada kambing hitam yang digadang-gadang. Dan ini politik tingkat dewa.

Mungkin saja keadaan peperangan skala dunia, kebenaran juga di kawasan negara minyak, tema yang diusung kemari adalah kelangkaan minyak. Dan seterusnya seakan tema ini paling bagus digunakan untuk mengecoh.

Nampak di bagian ini, isu minyak akan langka, disikapi antara iya dan tidak. Namun, sebagai gorengan, dimanfaatkan untuk digoreng. Dan meski belum berlebihan, tapi masyarakat sudah panik massal.

Satu yang tidak diinginkan adalah akibat panik massal akan jadi emosi massal.

Nah, di bab ini harus diwaspadai. Secermat apapun masyarakat tentu akan kalah cepat dengan gerakan aktor atau otak penyulut keadaan. Sekali lagi, patut diwaspadai.

Menanggapi keadaan yang berkembang dan tengah dirasakan sekarang, percayalah dulu kepada para "juru wicara suasana". Karena ada keyakinan, dalam tiap kalimat yang disampaikannya sudah ada gambaran akhir di sana.

Hanya akhir yang seperti apa, ini yang abu-abu.

Selamat menikmati suasana, apa pun itu Indonesia tetap dicintai ...

Baca juga: Puasa dan Lebaran di Ngabang Setengah Abad Silam

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....