Puasa dan Lebaran di Ngabang Setengah Abad Silam

  • 14 Mar 2026 16:25 WIB
  •  Pontianak

TAK kurang dari tiga puluhan tahun, sejak 1992, aku tak berlebaran hari pertama di kampung halaman. Meski berselang-seling pada beberapa kali lebaran aku dan keluarga pulang kampung, namun itu sekitar hari ke tiga atau tujuh. Dan bukan di hari pertamanya.

Hal ini disebabkan sejak kepindahan kami dari kampung kelahiran ke kota tempat tinggal menetap sekarang di Pontianak. Semula disebabkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, selepas itu karena bekerja dan lalu berumah tangga menyebabkan pindah sepenuhnya dari tempat dilahirkan.

Meski begitu, tak kurang habis dalam ingatan begitu ranumnya untuk dikenang berbagai kenangan lebaran di kampung halaman. Sedari memulai hari pertama puasa, malam-malam sepanjang bulan Ramadhan, tiap subuh menjelang sahur selama sebulan, sampai malam terakhir Ramadhan dengan tradisi takbiran keliling yang tak mengabaikan menunaikan zakat fitrah sebelum sholat Id dilakukan.

Ngabang Landak itulah tempat kelahiranku lima puluhan tahun lampau. Aku lahir tahun 1973. Pada usiaku kini 50-an tahun, dua puluh tahunnya dilalui di kota ini, tepatnya di Ilir Tengah, sebuah permukiman penduduk yang kental tradisi lokalnya.

Menyambut puasa, sedari sore hari di surau kami, dulu disebut langgar sebelum perluasannya, namanya Babul Hidayah, berkumpullah orang-orang tua dan pemuka masyarakat. Beliau-beliau sembari berpuasa menanti penjelasan resmi dari pemerintah tentang 1 Syawal.

Dibuat semacam sebuah panitia kecil. Tujuannya untuk mengkoordinir pelaksanaan takbiran dari rumah ke rumah hingga penyelenggara sholat Id berjamaah. Tradisi takbiran dari rumah ke rumah sungguh mengesankan. Tali pengikat erat silaturahmi dan penanda rasa kekeluargaan yang tinggi satu sama lainnya.

Aku ingat, sekitar tujuh hari sebelum Ramadhan berakhir, kaum emak sibuk sekali di dapur. Beraneka resep kue dibuat, pada umumnya adalah kue tradisional orang Ngabang. Dan sekarang, terutama di luar kampung kelahiran, mustahil mendapatkan kue-kue lebaran ala orang Ngabang ini.

Sebutlah antaranya roti kap, juadah talam, kue lengkot, putu kembang, putu sagu, sampai putu kacang. Tak pernah lewat biulu (asal kata baulu) ambur dan biulu sepit, keripik dan kue semprit. Sementara dodol, jangan ditanya. Mulai dari dodol labu kuning sampai dodol kelapa (disebut dodol niur), pepaya atau dodol kates hingga dodol ketan dan cengkaruk selalu dibikin.

Sederet kue khas itu nampaknya belum lengkap kalau tak diikutkan dengan kue keleban, semacam kik. Dan yang khas juga adalah lemang atau suman, yang pembuatannya (serupa juga mengerjakan aneka dodol) tak gampang dan mudah. Butuh waktu, tenaga serta ketelatenan.

Kalau membuat lemang atau suman, aku terbiasa menemankan pamanku. Dia cekatan sekali "membakar" buluh-buluh kecil yang didalam lingkarnya diisi beras atau ketan, berbalut daun pisang muda dan disiram santan kelapa muda. Disusun berjejer, lalu diberikan perapian yang harus dijaga agar jangan sampai gosong atau hangus.

Kebiasaan yang lekat sebagai simbol persahabatan, lebih tepatnya pluralisme yang sudah ada di sana sedari dulu, ada penduduk yang menyiapkan bingkisan kue-kue yang dibuatnya untuk diantarkan ke sahabatnya, terutama orang Tionghoa, yang tak merayakan lebaran.

Antaran itu biasa dibalas dengan diberi minuman yang disebut "air botol", atau minuman kaleng lainnya. Betapa indah silaturahmi dan persahabatn itu bersemi.

Mendekati malam takbiran, saat sore hari menjelang waktu maghrib, atau berbuka terakhir Ramadhan, di langgar atau surau dibunyikan beduk bertalu-talu. Ini pertanda bahwa esok akan lebaran dan nanti malam akan ada takbiran.

Kami yang masih kanak-kanak saat itu sudah beramai-ramai pergi ke langgar atau surau. Duduk rapi menyusun sap sholat, menunggu orang-orang tua mengumumkan regu takbiran. Ini dibagi, karena banyak pesertanya. Dan perkelompok akan mengunjungi rumah ke rumah.

Selama bulan puasa, bunyi meriam bambu atau meriam buluh selalu sahut bersahut. Bahkan meriam karbit pun dibuat pula.

Dentuman suaranya yang menggelegar makin menambah marak suasana. Pada umumnya yang bermain meriam buluh adalah anak-anak, sedang meriam karbit kebanyakan orang dewasa.

Anak-anak di malam hari, terutama seminggu menjelang akhir puasa yang sebulan, membuat permainan keriang bandong. Mengarak obor dari batang bambu kecil, keliling kampung di jalanan.

Di halaman depan rumah kadang dibuat juga obor dari damar. Sedangkan bunyi petasan tak mengalahkan letusan meriam bambu. Permainan tradisional ini kurasa belakangan sudah berkurang, namun ada niat baik menghidupkannya lagi, sehingga dalam beberapa tahun belakangan mulai marak.

Suasana malam takbiran, perasaan suka duka membaur menjadi satu. Usia kanak-kanak ketika itu yang kami rasakan adalah perasaan gembira. Gembira berbaju baru, sepatu atau sandal baru.

Namun sejatinya ada rasa duka, bagaimana saudara kami yang tak tersedia baju dan lain-lainnya yang baru. Belakangan tadi terbayang di pelupuk mataku, tak sedikit keluargaku dulu yang mengalami kedukaan di hari kegembiraan itu.

Menyambut Idul Fitri dalam suasana bahagia di kampung halaman sekitar tiga puluh tahun lampau, adalah kenangan yang tak mungkin lenyap dalam ingatan. Malam takbiran berkunjung dari rumah ke rumah, dalam sebuah rombongan yang biasanya tiap regu sedikitnya sepuluh orang.

Kelompok takbiran mendatangi rumah penduduk, bertakbiran, disuguhi hidangan ringan sampai makan malam biasanya. Dan di antara anggota regu membawa peti kecil yang dinamakan "kotak atau peti tanggukan".

Sebelum regu takbiran pamit, tuan rumah mengisi uang sekadarnya ke dalam kotak tanggukan ini. Bahagianya kami saat kembali ke surau selepas mengunjungi rumah-rumah untuk menghitung uang hasil tanggukan. Diserahkan ke pengurus langgar atau surau untuk disimpan sebagai uang kas.

Begitulah suasana yang syahdu di malam yang mengharu biru bagi anak-anak sebayaku sekitar tiga atau empat puluh tahun yang sudah lalu itu.

Tetap teringat dan terasakan bahagianya berkeliling kampung di Ngabang sembari bersama kawan-kawan sebaya membawa obor atau keriang bandong yang disebut juga "colok".

Sedihnya kalau malam takbiran hujan turun tak hentinya.

Syafaruddin DaEng Usman, sejarawan dan budayawan Kalbar

Begitulah suasana berpuasa dan berlebaran di Ngabang setengah abad yang lalu. Disebutkan oleh orang-orang tua, kalau malam di minggu ketiga Ramadhan, mereka jarang tidur.

Menanti "lailatul qadar" singgah ke rumah mereka. Sibuklah emak-emak membuka tutup tempat menyimpan beras, bahkan tempat menaruh emas berlian yang dipunyai, agar disinari lailatul qadar. Itu sebuah keyakinan yang terus ditumbuhkan sampai saat tersebut.

Begitu juga di malam "likuran" atau disebut malam tujuh likur. Orang-orang tua dan keluarga kami sangat fanatik untuk melaksanakan sedekah, meski hanya segelas air manis. Keyakinan mereka, pada malam itu para leluhur dijamu dengan hidangan yang disedekahkan. Bahkan ada yang membuat jamuan makan malam bersamaan buka puasa untuk hal tersebut.

Demikian itulah kisah masa lalu puasa dan lebaran di kampung halamanku di Ngabang. Di hari pertama lebaran, sebelum pergi ke masjid bersama bapakku untuk sholat Id, emak di rumah sudah menyiapkan perlengkapan mandi yang dinamakan mandi "berlangir dan berbedak".

Aroma serai wangi yang dicampur pada air langir dan bedak, menciptakan suasana yang begitu berkesan bahwa lebaran adalah suatu yang sangat istimewa. Selepas itu lalu pergi ke masjid untuk ikut sholat Id. Sepulangnya, masing-masing menuju rumah untuk menemui orangtua dan keluarga utamanya.

Pada waktu menemui orangtua di rumah, begitu syahdu terasa. Peluk cium kedua orangtua melambangkan restu kasih sayang kepada anak terkasih buaian hati tersayang mereka.

Waktu itu di rumahku masih ada nenek kami yang usianya sekitar tujuh puluh tahun. Karena dituakan dalam keluarga besarnya, maka ramailah rumah kami dikunjungi kaum kerabat untuk menciumi tangan nenek kami. Maklumlah, nenekku ketika itu dituakan dalam garis kerabat terdekatnya.

Pernah suatu ketika di sekali waktu malam takbiran, kulihat emak dan pamanku serta kakak mereka yang paling tua, duduk bersama. Satu sama lainnya menangis sedih. Itu setelah nenek kami tiada lagi.

Meski sudah menjadi orangtua bagi kami, emak dan kakak serta adiknya tak bisa menyembunyikan rasa ketiadaan orangtua mereka. Dan, hal itu kini terjadi pula padaku yang kini tak dibersamai bapak dan emak serta uwak kami yang sudah berpulang.

Alangkah romantisnya masa-masa indah di waktu kanak-kanak di saat berpuasa dan berlebaran di kampung halaman dulu. Kini, semuanya hanya lambat-lambat diingat dan kukenang sebagai cerita bagi generasi kami selanjutnya.

Semoga masa lalu tiga atau empat bahkan lima puluh tahun lampau itu sebagai nostalgia istimewa yang tak habis buat diingat dan kenangkan. Puasa dan lebaran di kampung tetap menggema dalam semangat berpuasa dan berlebaran di tempat rantau sekarang ini.

Salam bahagia buat masa lalu yang telah berlalu dan berlaku ...

(Penulis Syafaruddin DaEng Usman, sejarawan dan budayawan Kalbar)

Baca juga: Mengenang Gang Sipan dan Gang Norali Pontianak

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....