Mengenang Gang Sipan dan Gang Norali Pontianak

  • 19 Feb 2026 20:51 WIB
  •  Pontianak

Dari Gang Sipan ke Jalan Kutilang

Tempo doeloe Sipan adalah nama suatu gang. Jadilah gang Sipan yang sekarang jadi Jalan Kutilang Pontianak. Di sisi jalan ini, di gang ini dulunya, pada pojok persimpangan ada gang pula, gang Wak Serang, yang sekarang menjadi Jalan Rajawali.

Di gang Sipan, di pinggir jalannya dan di tepi parit terdapat tiga kuburan tua yang sekarang tak jelas siapa anak cucunya. Di sekitarnya, waktu dulu, ditumbuhi pohon bunga alamanda yang berwarna kuning berbentuk terompet. Panjang jalan Sipan ini sekitar 600 meter.

Di tempat paling depan, sekarang di tepi Jalan Jenderal Urip persimpangan Jalan Kutilang, dulu pernah ada Gedung Wanita Islam Masyitah, di situlah rumah Sipan atau Pak Sipan, orang pertama di gang itu. Tersebab itulah maka gang ini dinamakan gang Sipan.

Masa itu anak-anak yang berusia 6 sampai 9 tahun, sering bermain dan berlari sepanjang gang Sipan yang sudah diaspal. Terutama main layang-layang atau main kelayang.

Kadang-kadang main kasti dan main sepak bola. Pekarangan rumah yang terbilang luas untuk main sepakbola ada di belakang rumah Meneer Manusama dan Abdul Wahab.

Di kolong rumah tinggi milik Engku Salim pegawai kantor pos Pontianak banyak bergantungan kandang burung. Engku Salin dikenal penyuka batu cincin dan keris.

Di depan rumah Engku Salim ada rumah Abdul Gani dan istrinya Simah. Di gang Sipan ini pula terdapat pohon tanjung bila bunganya gugur selalu dikumpulkan anak-anak.

Beberapa penghuni gang Sipan masa itu antara lain Abdul Salam (ayah dari Drs H Tammar dan Drs H Thamrin serta Syahbani), Sahili, Yusuf, Manusama, Abdul Wahab, Engku Salim dan lainnya.

Permulaan 1940 sudah ada sekolah gang Norali, kepala sekolahnya Mohamad Noor atau dikenal dengan Guru Nong. Satu kelas ada 30 orang murid, di antara gurunya terdapat Engku Syafii anggota HW (Hizbul Wathan) yang selalu memakai jas putih dengan kopiah hitam berpenampilan rapi. Dia mengajar dengan penuh wibawa, telaten namun sangat tegas.

Beberapa murid di sekolah gang Norali ini antara lain Hans Runtu, Mohamad Saleh, Mohamad Dani, Selamat Muslana, Sukasno Rusdi, Mohamad Amir Manap dan lainnya. Kabarnya, rata-rata murid ini diberi bekal ke sekolah oleh orangtuanya berupa uang saku 2 sen. Di dekat sekolah ada Pak Jonet berjualan lontong dan Pak Fatah berjualan es.

Tiap 13 Agustus para murid dihadirkan ke Istana Kadriyah diundang sultan Pontianak Syarif Mohamad Alkadrie untuk merayakan hari ulang tahun ratu Belanda Wilhelmina. Maka hadirlah murid Sekolah Rakyat (5 tahun) dan Sekolah Desa (3 tahun).

Para murid dibawa menyeberang naik sampan tambang dan ada juga naik bidar ke kampung Dalam tempat istana. Di tempat acara para murid semua diatur duduk masing-masing 6 orang menghadap pahar berisi nasi kebuli dengan gulai kambingnya. Pulang acara mereka dibekali sebungkus sate yang dipesan dari Pak Natak tukang saye terkenal yang tinggal di gang Masrono langganan Sultan.

Setiap malam sesudah magrib, anak-anak di gang Sipan berkumpul di rumah Engku Marah Salim mendengarkan musik di radio miliknya.

Dia satu-satunya orang yang punya radio di gang Sipan. Atau ikut mendengarkan lagu nyanyian Miss Annie Landau, Miss Mata Roda, dan penyanyi Abdullah dari alat pemutar piringan hitam yang namanya bango. Sebuah lagu Miss Annie Landau, penyanyi wanita yang buta, adalah lagu bahasa Belanda diterjemahkan menjadi keroncong yang cukup indah tentang bunga.

Sekolah gang Norali bila akan pulang sekolah jam 10.00 oleh Engku Syafii selalu ditutup dengan lagu ciptaannya ... "Matahari mulai terbit, bintang-bintang mulai silam, di Kota Pontianak yang jaya. Marilah kawan-kawanku, laki-laki perempuan, menuntut ilmu kepandaian ..."

Pernah seorang anggota DPRD Kota Pontianak, H Achmad Noor mengelompokkan nama-nama jalan, antara lain daerah Sungai Jawi Luar semua nama buah-buahan, daerah pasar semua nama sungai atau daerah perumahan yang dibangun Gubernur Aflus di Kotabaru semua nama pulau.

Dari Gang Norali ke Jalan Norali

Semuanya berubah dan silih berganti. Hampir semua jalan dan gang di Kota Pontianak mengalami perubahan atau pergantian. Sebut saja antaranya Geravenis Weeg menjadi jalan Penjara, lalu jalan Nusantara kemudian kolaborasi jalan KH Wahid Hasyim dan KH Ahmad Dahlan.

Begitupun gang Sipan, menjadi Jalan Kutilang. Kadang ada nama yang sama di beberapa tempat berbeda, misalnya gang Sepakat, gang Nusa Indah dan lain-lain. Tapi yang namanya gang Norali, mulai zaman penjajahan Belanda, masa Jepang, pemerintahan NICA sampai kini, namanya tetap Norali.

Di SR gang Norali atau SR I, salah satu gurunya Engku Mohamad Saleh. Waktu itu di Pontianak hanya ada dua SR 6 tahun. Sekitar tahun 1947 banyak murid dipindahkan dari SR I atau SR Norali ke SR Kampung Melayu atau SR II. Di kelas 6 bergabung anak asli SR Kampung Melayu dan pindahan SR Norali. Semuanya berjumlah 28 murid. Gurunya baru lulus Sekolah Normal di Banjarmasin, dia berasal dari Sambas, namanya Engku Zar'in.

Satu-satunya murid perempuan di antara 28 murid pertama kelas 6 SR II Kampung Melayu namanya Fatimah. Lainnya murid laki-laki antara lain Wan Usman, Mat Noh, Mat Awal, Mat Saleh Dinil, Mat Husin Sakman, Mat Tos, Hasri Aspas, Selamat Muslana.

Waktu murid-murid ini tamat, ada yang meneruskan ke OVVO atau sekolah guru desa pengganti CVO. Wan Usman ke SMP bersebelahan ruangan di dekat jam segitiga, sekarang gedung BNI 46. Tahun 1951 mereka tamat, Wan Usman meneruskan SMA di Jawa, belakangan pernah menjadi Rektor Universitas Tanjungpura.

Pada zaman Jepang tak banyak orang berani berjualan. Namun masih ada yang memberanikan diri untuk meraih pisang sampai ke parit Sri Gadoh, Punggur, dan Kalimas. Di zaman NICA dan zaman tenang, mulai orang berdagang buah-buahan serupa durian dan cempedak dan menjual ikan. Berdagang berkeliling dihutangkan pada ibu-ibu di gang Mariana, gang Tengah dan gang Wak Serang.

Zaman itu ada beberapa surau terkemuka, tempat di mana anak-anak belajar mengaji, membaca huruf Arab Melayu dari kitab terbitan Pelita dan Mercu Suar, di antaranya surau Wan Sagap dan sekolah agama di gang Mariana yang diajar Ustad Akib dan Ustad Sead.

Pada masa awal pendudukan Jepang murid-murid dipindahkan ke sekolah di gang Tengah yang terdiri dari tiga kelas, kelas 1, 2, dan 3. Kepala sekolah Guru Nong tinggal di Palmenlaan, dia mengajar di kelas 1, guru kelas 2 Encik Sakmah dan kelas 3 diajar Engku Uray Amin rumahnya di jalan Kamal persis di depan sekolah gang Tengah.

Sekelas ada 24 orang murid, semua laki-laki di antaranya Oktavianus, Ali Buton, Selamat Muslana, Abd Rahman, Jimmy Mohamad Ibrahim, Hamin Gembel dan lain-lain. Kira-kira Juni 1942 pindah seorang murid baru dari Jawa di sekolah ini, namanya Sangat.

Walau cuma sampai kelas 3 sekolah gang Tengah mempunyai regu atau kesebalasan kasti yang paling tangguh di Pontianak. Para pemainnya antara lain A Rasyid Sanak, Motoaki (anak Jepang), Sangat, Ibrahim Zuber dan Jumari. Setelah kenaikan kelas, kelas 3, ada murid yang pindah ke SR 3 tahun di gang Radio kepala sekolahnya Engku Mahmud.

SR gang Radio murid kelas 3 diajar oleh guru Awang Ali, garangnya luar biasa. Di kelas 3 ada 32 orang murid, campuran murid laki-laki dan perempuan, di antaranya Sutrisno, Selamat Muslana, Ramlan, Payem, Tambi, Wagiyem, Amnah dan Jihim.

Perkumpulan kesenian di SR Radio dipimpin Kadir Rais dan Nuraini. Bersekolah zaman Jepang murid hanya belajar tiga hal saja tiap harinya, pagi hari taiso (senam), agak siang belajar bahasa Jepang memakai huruf hiragana, katakana dan kanji, dan siang sekali mempelajari lagu perjuangan bahasa Jepang dan Indonesia.

SR Kampung Melayu

SR II 6 tahun kampung Melayu boleh dibilang di pinggir kota. Walaupun di depannya ada kantor wedana yang waktu itu dikepalai Nuriman dan pembantunya M Saleh Hamzah. Sekolah ini dikepalai Salimin, dengan beberapa guru bantunya Engku Junaidi, Engku Burhan Ibrahim dan Engku Zar'in. Untuk di aekolah belakang atau kelas 1, 2, 3 ada Engku Hamid Lahir dan B Manurung.

Banyak muridnya yang tinggal di gang Nurdin, Sargo, Kelenteng, Tengah dan lain-lain. Tiap hari murid-murid ini berjalan kaki menempuh jarak hampir 3 kilometer melewati kuburan Cina, kebun sayur dan di baluk dapur rumah di kebun darat, gang Sentiong, gang Hijas dan lain-lain. Tapi muridnya sampai di sekolah tak pernah terlambat.

Rasa kekeluargaan mereka besar sekali, mereka semua tak pernah berkelahi, bahkan regu kasti sekolah ini dipimpin Parel, Yance, Mat Awal, Wan Usman, yang terkuat di Pontianak.

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat kajian sejarah dan budaya

Baca juga: Inmemorium Rohana Muthalib Perempuan Pertama Walikota Indonesia

Rekomendasi Berita