Obituari Ismai Marzuki, Senandung Melintas Zaman

  • 02 Feb 2026 21:03 WIB
  •  Pontianak

Namanya abadi. Kini tetap dikenang dan lirik nada yang disusunnya terus didendangkan. Alunan karya cipta nada suara syahdunya lestari. Melintasi zaman melewati masa membentuk partitur sejarah abadi. Dan nama yang abadi itu dikenang sepanjang sejarah.

Anak Betawi dari Kwitang itu, Ismail Marzuki, tetap disebut orang. Penghargaan dan tanda jasa untuknya diberikan sebagai bentuk apresiasi atas karya ciptanya. Dan, pengukuhan sebagai Pahlawan Nasional untuk Bang Maing, sapaan akrabnya, adalah anugrah negara untuk sang pejuang lewat nada dan suara ini.

Bang Maing tidak angkat senjata. Tak pula bergrilya. Tapi senandung merdunya menggugah pejuang bangsa. Lirik lagu yang dihasilkan membangkitkan kemauan keras para pemuda untuk berjuang di baris terdepan.

Memang tak berusia panjang, di umur yang singkat Bang Maing meninggalkan hasil olah cipta yang tak sedikit banyaknya. Sejak langgam, keroncong hingga mars. Juga hymne sampai ke tembang populer semasa zamannya, menjadi nada-nada lestari dan abadi sampai kini.

Di Karet Bivak, Bang Maing beristirahat buat selamanya. Selaksa dia masih ada, alunan merdu yang dibuahkannya terus dilantunkan. Dan syair atau lirik karya nadanya berisi dan penuh makna.

Dia sempat menjadi bagian dari Radio Republik Indonesia, RRI, saat embrio corong revolusi kemerdekaan ini dibentuk. Ajakan Jusuf Ronodipuro, pengumandang pertama sekali di udara tetap di udara, mengisi deretan riwayat hidupnya.

Sekembali dari kunjungan pementasan musik, waktu itu dikenal dengan orkes, di beberapa tempat selain Pontianak di Kalimantan Barat di tahun 1930-an, Bang Maing bertemu jodoh dengan seorang biduwanita yang hidup berbahagia hingga akhir hayatnya. Kedua insan ini, rukun bahagia berbalut selembar kecintaan pada musik dan tarik suara.

Serupa Bandung Selatan di Waktu Malam, Selendang Sutera, Hampir Malam di Jogja hingga Halo-Halo Bandung, adalah sedikit dari sejumlah banyak karya ciptaannya. 

Perjuangan Bang Maing lewat gubahan nada yang mengisi rongga dada para pemuda di masa revolusi, tentunya sebagai untaian semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dan getaran iramanya pula mendorong para pemuda menjadi ksatria perkasa membela bangsanya.

Ismail Marzuki tentu bukan hanya sebuah nama. Dia adalah semangat zaman, penggugah perjuangan sekaligus pemandu nurani bangsa lewat lirik dan nada. Tak sedikit lagu yang dialunkan membawa rakyat Indonesia bergerak dan tersentak angkat senjata untuk negaranya.

Meski tidak meninggalkan harta kekayaan melimpah, tapi apa yang pernah dihasilkan dan diciptakan, membawa nama besar Ismail Marzuki sebagai tokoh bangsa yang abadi.

Sejumlah film yang dibuat pada tahun-tahun pertumbuhan perfilman Indonesia tahun 1950-an, menempatkan karya nada Ismail Marzuki menjadi penggugah yang membahana.

Kini Bang Maing atau Ismail Marzuki anak Betawi dari Kwitang telah lama tiada. Namun buah ciptaannya tetap ranum dan terus dinikmati dari generasi ke generasi.

Untuk bangsanya Bang Maing sudah berbuat sedapatnya sesuai apa yang bisa dia lakukan. Menempuh lintasan karya nada adalah pilihan hidupnya untuk berbuat banyak bagi Indonesia.

Seperti salah satu lirik buah ciptaannya, hati telah terpikat semoga kelak kita berjumpa pula ... Dan benar, seluruh lagu maupun musik gubahan yang ditinggalkannya benar-benar memikat. Selaksa senandung melintas zaman dan generasinya.

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia 


Baca juga: Mengenang Soedjatmoko Sang Begawan Humanis Indonesia

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....