Mengenang Soedjatmoko Sang Begawan Humanis Indonesia
- 25 Jan 2026 11:47 WIB
- Pontianak
Jam menunjukkan pukul satu siang lewat sepuluh menit, Kamis 21 Desember 1989. Hawa panas dalam ruangan kecil rumah Sekretariat Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Blimbing Sari Yogyakarta. Sejumlah dua puluhan sarjana dari berbagai disiplin ilmu, kebanyakan tamatan universitas Amerika atau Australia, duduk sekitar meja yang disusun empat persegi.
Mereka mendengarkan mantan Rektor Universitas PBB di Tokyo, Soedjatmoko berbicara tentang kecenderungan perkembangan global dan nasional serta antisipasi PPSK sebagai pusat pengkajian. Sedari pukul sepuluh pagi mereka berdiskusi.
Terekam beberapa kata kunci untuk menunjukkan daerah-daerah permasalahan yang disentuh oleh Koko, sapaan akrab Soedjatmoko, dalam uraiannya. Kata kunci itu adalah visi strategis, dualisme, perubahan fundamental, potensial, struktur politik, intelegensia dan akses kepada ilmu pengetahuan modern.
Kemudian Koko berbicara tentang bidang pendidikan. Pada saat, itu suaranya agak menurun volumenya. Mungkin karena dia mulai lelah, mengingat panasnya keadaan dalam ruangan yang ketika itu tak ada AC. Tiba-tiba dia meletakkan tangannya di atas keningnya dan menengadah ke atas, perlahan dia memejamkan matanya.
Mereka yang hadir mengira Koko lagi berpikir keras, sebab begitulah gerak tipikal yang dilakukannya, yaitu menaruh tangannya di atas jidatnya. Beberapa saat lamanya dia tidak berbicara. Hening dalam ruangan. Lalu kepalanya terkulai ke bawah seperti orang yang mau tidur. Orang dalam ruangan mulai sadar ada apa-apa terjadi dengan diri Koko. Di kursi posisi badan Koko mulai telentang. Tak ada reaksi ketika didekati. Tak satu pun gerak yang tampak. Matanya menyuram dan refleksi korneanya pudar. Koko selekasnya dilarikan ke Rumah Sakit Prof Sardjito. Di bagian darurat dicoba ditolong di sana oleh dokter dan perawat. Suasana galau. Segera kemudian Koko masuk ke ruangan ICU.
Hari itu, menjelang pukul dua sore, Koko berpulang ke Rahmatullah, dalam usia hampir 68 tahun. Dia lahir 10 Januari 1922 di Sawahlunto, Sumatera Barat. Istrinya, Ratmini, tak mengira akan terjadi musibah begitu besar waktu dijemput dari hotel dan dibawa ke rumah sakit. Lalu menangis tersedu-sedu. Dia tabah kelihatannya. Mini, begitu istrinya disapa, bersama dua sahabat karib Koko, Anto Murdianto dan Rosihan Anwar, tinggal bertiga depan jenazah Koko. Di ruang sunyi itu, perpisahan selamanya dengan seorang sahabat dan dengan suami yang dicintai.
Tuhan telah mengambil Koko. Dia meninggal di tengah berceramah dan mengajukan pikiran dan cita-citanya di bidang pendidikan. Koko wafat ketika sedangan berdiskusi bersama kelompok intelektual untuk memajukan bangsanya. Ini adalah suatu khusnul khatimah, akhir yang baik. Dia meninggal sedang melaksanakan amal yang baik dan dalam jalan perjuangan. Semoga Tuhan menerima arwahnya di sisi Nya.
Soedjatmoko memang anak sejati dari perubahan. Tidak saja ia tumbuh dewasa dalam zaman yang sedang berubah dengan amat cepat, tetapi ia sendiri berkembang dalam pengembaraan. Lahir di Sawahlunto pada tahun 1922, ia melewatkan masa kanak-kanaknya yang pertama di Negeri Belanda. Kembali ke Indonesia pada usia tujuh tahun, ia mendapati suatu dunia yang sama sekali berlainan. Ia harus menyaksikan pedihnya perlakuan sebagai inlander.
Masa sekolah dasarnya ia jalani di Menado, kemudian di Surabaya, dan akhirnya di Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Dan yang terakhir ini tak sempat diselesaikannya gara-gara mogok kuliah yang dilakukannya dalam rangka protes terhadap jepang di tahun 1943. Terhadap semua itu harus ditambahkan dunianya yang lebih dalam lagi, latar belakang keluarga priyayi Jawa, yang sejak lama menjadi perbenturan pelbagai budaya. Ayahnya Dr KRT Mohamad Saleh Mangundiningrat, adalah ahli bedah berpendidikan Barat, tetapi juga dokter keraton Surakarta dan pernah memimpin Universitas Islam Tjokroaminoto.
Dunia Koko tampaknya memang merupakan dunia yang senantiasa berubah. Medan perbenturan pelbagai pengaruh, dan mau tak mau harus bersikap terbuka terhadap perubahan itu sendiri. Tentu saja dunia itu sangat istimewa. Berada di puncak masyarakat, dengan jendela yang terbuka ke segala arah, ia tak harus terjerat dalam tradisi setempat. Dunia itu boleh jadi juga sangat menghargai penalaran, keterpelajaran, kebebasan.
Tetapi, yang mungkin lebih mengesankan adalah pengembaraan intelektualnya. Bacaan yang paling memukaunya ketika masih di sekolah dasar adalah seri sejarah dunia dan kisah-kisah petualangan fiksi ilmiah Jules Verne. Ini memberikan kepadanya kesadaran akan sejarah dan perhatian terhadap luasnya pengalaman manusia. Di akhir sekolah dasar ia mulai membaca, walaupun belum bisa memahami sepenuhnya, buku-buku tentang alam pikiran Yunani dan filsafat Barat.
Tahap yang mungkin paling menentukan dalam pertumbuhan intelektualnya justru terjadi ketika selama tiga tahun ia terpencil di Solo, setelah dikeluarkan dari Sekolah Tinggi Kedokteran. Dalam keadaan hilang kontak dengan dunia luar, ia menemukan keasyikan dalam banyak buku. Krisis ini telah membawa Koko kepada semacam kesadaran baru tentang makna pengetahuan. Dia memandang pengetahuan sebagai pengluasan dari dalam, pengluasan dari pertumbuhan akal dan jiwa manusia.
Semua pengaruh yang diterimanya dalam penjelajahan, apakah itu Barat, Timur dan Islam, akhirnya menjadi batu-batu penyusun bangunan dirinya. Pengetahuan kemudian menjadi alat pembuka pengertian, yang tidak ada artinya tanpa keikhlasan dan keinginan untuk tahu, untuk mengerti dan untuk pada akhirnya cinta kepada sesama manusia. Penemuan besar itu juga mengakhiri rasa keterasingan yang timbul dari penjelajahan: rasa kurang mengenal masyarakat sendiri, rasa terpencil dari arus-arus irasional dan kebencian dalam revolusi. Koko mengakui, sesudah itu dan sejak itu dia tidak pernah menyangsikan bahwa dia ini orang Indonesia. Koko menemukan dirinya sendiri sebagai manusia budaya Indonesia, yang juga menjadi warga dunia.
Penemuan diri itu menempatkan Soedjatmoko pada posisi seorang humanis, seorang yang menerima gagasan tentang kesemestaan manusia, untuk merumuskannya secara ringkas. Banyak pengertian dikaitkan orang dengan istilah ini, tetapi dalam konteks Indonesia biasanya dikaitkan dengan gagasan yang memandang kebangsaan sebagai bagian dari kemanusiaan semesta, baik karena isi gagasan itu sendiri, maupun sebagai jalan keluar dari antagonisme Timur dan Barat yang menjadi beban sejak polemik kebudayaan. Biasanya gagasan itu juga ditafsirkan sebagai keterbukaan identitas keindonesiaan yang tak perlu dipagari dengan suatu definisi.
Babak pertama dari perjalanan Soedjatmoko sebagai cendekiawan agaknya lebih berkisar di bidang pemikiran kebudayaan. Pemikirannya di bidang sastra dan kebudayaan sering sangat mendalam dan banyak memperoleh sambutan. Tulisannya tentang krisis sastra di awal tahun 1950-an mengundang perdebatan yang hangat di kalangan sastrawan dan budayawan, apalagi di lingkungan yang sedang ramai-ramainya mempersoalkan humanisme universil pada masa itu. Kedudukannya sebagai Pemimpin Redaksi Siasat, dan kemudian juga pengasuh ruangan budaya Gelanggang setelah Chairil Anwar meninggal, tentunya memberi Koko tempat yang khusus dalam pemikiran kebudayaan. Lapangan lain yang lebih ramai tentu saja adalah politik partai, dengan kaum juris-politikus sebagai pemain utama. Koko walaupun tak selalu di garis depan, nampaknya diterima dengan hormat di kedua lapangan itu.
Politik memang tak pernah jauh dari dirinya. Bahkan jalan hidupnya sebenarnya banyak dipengaruhi oleh kegiatan politik yang dilakukannya semasa mahasiswa. Setelah kemerdekaan, ia memulai karir di pemerintahan sebagai wakil kepala urusan luar negeri kementerian penerangan, suatu seksi yang sangat vital pada masa awal kemerdekaan itu, justeru karena pengakuan internasional sangat diperlukan.
Ia juga menjadi Penanggung Jawab majalah Het Inzicht dari 1946-1947. Ini disambung kemudian dengan jabatan anggota Delegasi RI ke Dewan Keamanan PBB, Counseller Kedutaan RI di Washington dan Wakil tetap Pengganti di PBB, semuanya hingga tahun 1952. Bahkan setelah mengundurkan diri dari jabatan pemerintahan, ia tak pernah lepas dari dunia politik, dalam kegiatannya sebagai Pemimpin Redaksi Siasat, anggota redaksi Pedoman, dan sejak 1956, anggota Konstituante mewakili Partai Sosialis Indonesia. Semuanya ini berlangsung sampai tahun 1960, ketika malapetaka politik menimpa partainya.
Sebagai seorang humanis, tentunya Soedjatmoko menatap realitas manusia sebagai sebuah sistem terbuka. Dan sejarahnya pun, merupakan sejarah terbuka. Karena itu, Koko menolak pandangan yang melihat sejarah sebagai sistem tertutup, baik itu berasal dari pandangan lama yang menganggap sejarah sebagai lingkaran kekinian, maupun pandangan deterministis yang menganggap sejarah berjalan menurut hukum-hukum perkembangan tertentu, yang suka disebut keharusan sejarah.
Bagi Koko, kesadaran sejarah, pada akhirnya justeru membebaskan manusia dari perangkap keharusan sejarah itu. Sejarah menjadi nisbi. Dan manusia menjadi lebih sadar akan luasnya pilihan yang ia hadapi yang tentu saja menghadapkan dia kepada tanggung jawabnya yang tak terbatas.
Koko memang bersikap kritis terhadap revolusi, terutama bila menjurus kepada pemerosotan kemanusiaan. Di masa Nasakom, ketika Soekarno mengumumkan penemuan kembali revolusi, Koko mengingatkan bahwa sejarah tidak berjalan menurut garis-garis lurus seperti yang diperkirakan oleh kaum revolusioner. Ia merupakan proses yang maha dahsyat, dengan kekuatan yang dahsyat pula, yang impersonal sifatnya dan lebih besar proporsinya daripada orang-orang yang merasa mengendalikan dan memimpinnya. Koko menolak penggiringan manusia dalam skema totalitarian oleh mereka yang merasa memiliki kebebasan mutlak. Ia membela kehidupan manusia yang lebih kuat dan kaya akan kompleksitas.
Itulah posisi humanisnya Koko. Suatu posisi yang diperolehnya dari pengembaraan yang jauh ke dunia gagasan dan pemikiran tentang manusia dan dunianya, serta pertemuannya yang traumatik dengan revolusi. Posisi itu pulalah yang ternyata dipilihnya, setelah berkeliling Eropa Barat dan Timur di tahun 1952, untuk mengaji bagaimana isme-isme besar seperti kapitalisme dan sosialisme menjawab persoalan-persoalan zamannya. Ia memang pulang dengan tangan kosong, dalam arti tak mengantongi sesuatu isme. Seperti kaum sastrawan Angkatan 45, Koko tidak mengabdi sesuatu isme, tapi mengabdi kemanusiaan yang mengandung segala yang baik dari sekalian isme.
Seperti Angkatan 45, ia bertemu dengan manusia konkrit. Pada simpul inilah barangkali Soedjatmoko berdiri, menjadi pandu gagasan pembangunan yang humanis.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia
Baca juga: Mengenang Buya Hamka Sang Pemandu Umat