Inmemori Pak Cum Sosok Multi Dimensi

  • 02 Feb 2026 13:59 WIB
  •  Pontianak

RI.CO.ID, Pontianak - Sebagai seorang tokoh besar, Prof Sumitro Djojohadikusumo merupakan sosok yang sangat unik dan kontroversial. Karena keunikannya, ia bagai sumur di tengah rimbun pepohonan, pemikirannya tak surut walau ditimba terus menerus. Tak kering sekalipun di tengah kemarau panjang.

Karena kekontroversiannya, banyak orang berupaya untuk membangun tafsir atas dirinya, menyodorkan pertanyaan dan memberikan penjelasan, terutama soal keputusan dan langkah politiknya.  

Sering banyaknya diskusi soal pemikirannya yang juga telah diselenggarakan.

Satu hal yang mendominasi perbincangan mengenai Pak Cum, panggilan akrab Sumitro, adalah penyebutannya sebagai seorang begawan ekonomi.

Tak salah memang. Tetapi hal ini semacam membatasi tafsir yang bisa muncul atas pemikiran dan tindakan politik selama hidupnya. 

Pak Cum bukan hanya sekadar ekonom. Pikiran dan terutama tindakan politiknya membentang jauh pada hal-hal di luar urusan ekonomi, meski ekonomi tetap menjadi ilham baginya untuk masuk ke urusan-urusan lain.

Seperti  geopolitik, lingkungan, sosial, dan kebudayaan. Hal itu meyakinkan bahwa tentang Pak Cum harus diletakkan pada posisi yang lebih mendasar. 

Posisi itu mencerminkan visi ideologi tentang manusia, masyarakat, dan tentu juga bangsa. Dan pilihannya adalah menggunakan perspektif keadilan sebagai dasar pijakan untuk menggali kembali pemikiran Pak Cum.

Dalam bejana yang bernama Indonesia, Pak Cum sekali lagi mencerminkan paradoks dari upaya pencapaian keadilan. Ia gigih memperjuangkan keadilan, tapi ia juga didera berbagai persoalan ketidakadilan.

Sebagai keturunan bangsawan Jawa, leluhurnya merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro. Sebagai intelektual publik ia telah menuliskan pikiran-pikiran ekonomi politiknya sejak era 1940-an sampai dengan penghujung abad XX. 

Pak Cum sebagai akademisi, ia mendirikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sebagai aktivis politik ia terlibat dalam perlawanan terhadap Nazi ketika bersekolah di Belanda.

Ia juga salah seorang tokoh penting dalam Partai Sosialis Indonesia besutan Sutan Sjahrir. Pernah terlibat dalam menggalang dukungan bagi kemerdekaan Indonesia di forum-forum internasional. Menjadi menteri di era Soekarno dan Soeharto. 

Dicap pemberontak karena ikut memproklamirkan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Menjadi pelarian politik di luar negeri.

Dan yang tidak kalah penting. Sumitro adalah ayah dari anak-anak yang di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh utama dalam kancah politik nasional Indonesia. Prabowo Subianto di antaranya, adalah Presiden Republik Indonesia saat ini. 

Kesemua unsur tersebut menjadikan sosok Pak Cum seperti memiliki banyak dimensi. Dimensi-dimensi yang satu sama lain kadang berdampingan, tapi kerap juga berjauhan. Dimensi-dimensi yang dapat terus menerus ditafsir ulang dengan berbagai sudut pandang.

Sekali air besar datang, sekali tepian berubah. Dulu tatanan global harus dibangun ulang akibat negara-negara Barat berhasil menyelenggarakan dua kali parang dunia. Sekarang, negara-negara Barat meruntuhkan tatanan dunia yang dibangunnya dulu akibat ketidakmampuan menangani krisis mereka sendiri.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga. Jika dulu Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo harus mengintegrasikan kebijakan ekonomi politik internasional Indonesia ke dalam tatanan global.

Tak disangka dan tidak diduga, sekarang putranya, Prabowo Subianto, harus memimpin kebijakan politik internasional Indonesia dan berdiplomasi menghadapi tatanan global yang mengalami disintegrasi.

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesi

Baca juga: Mengenang Soedjatmoko Sang Begawan Humanis Indonesia

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....