Pontianak: Kota Persilangan dan Negosiasi Budaya
- 17 Jan 2026 17:10 WIB
- Pontianak
Bersumber dari bahan saya dan gagasan yang muncul di diskusi bertajuk “Khatulistiwa Connect: Menuju Lintasan – Silangan” yang digelar Komunitas Susur Galur, Pontianak di Ruangan Tugu Khatulistiwa, Pontianak (20/9/2025), maka tulisan hadir di hadapan pembaca.
Selain saya, di diskusi itu hadir pula Ibu Hilda (Dosen Prodi Antropologi FISIP UNTAN), dan Bpk. Juliadi (Kepala/Pamong Budaya BPK Wilayah XII. Susur Galur bermaksud menandai peristiwa astronomi – tatkala terjadi kulminasi matahari pada 20-23 September 2025. Mereka menyebutnya sebagai peristiwa “hari tanpa bayangan”. “Karena bayangan kita seolah diserap bumi, tepat di bawah telapak kaki kita,” ujar Gusti Enda – penggiat Kolektif Susur Galur.
Momen tersebut dioptimalkan secara cerdas oleh komunitas ini untuk mengaitkannya dengan pengetahuan dan identitas. Diskusi digelar. Beberapa pemantik diskusi dihadirkan sesuai kompetensinya.
Ada perwakilan dari BMKG, BPBD, Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota UNTAN, BAPPERIDA Kota Pontianak, Dinas PUPR Pontianak, BAMUSBUD Provinsi Kalbar, Ikatan Arsitek Indonesia Provinsi Kalbar, DISPORAPAR Kota Pontianak, Dosen Prodi Pengelolaan Usaha Rekreasi Politeknik Negeri Pontianak.
Konsep dan arsitektur bangunan rumah panjang (Dayak Bakatik: ramin bantang, Dayak Iban: rumah panyai, Dayak Desa: Batang Panjang, Dosan: rumah betang, Kanayatn: rumah radakng) dibangun di tepin sungai di atas tiang-tiang tinggi untuk menghindari risiko ancaman binatang buas, mengurangi risiko banjir, dan ancaman musuh.
Bahkan keadaan bulan, matahari, tanah, hutan bahkan air perlu dicermati dalam budaya agraris orang Dayak. Itu semua menentukan kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana sebuah ladang dan praktik berburu dan menanglap ikan dilakukan.
Hal lain yang turut menentukan adalah faktor mimpi dan tanda-tanda alam. Sebuah mimpi yang dianggap buruk, misalnya mimpi bertengkar, mimpi ada kematian, bisa membatalkan aktivitas penyiapan lokasi lahan ladang. Saat bertemu dengan hewan liar di jalan, aktivitas penyiapan lahan ladang bisa dibatalkan.
Berdasarkan letak geografisnya, kota pelabuhan, kota Khatulistiwa, kota pelajar dan kota kuliner ini berada di persimpangan 3 sungai: Kapuas, Kapuas Kecil dan Landak. Syarif Abdurahman Alqadrie menyadari posisi strategis kota ini sehingga pada 1771 ia dirikan kota ini jadi kota pelabuhan. Kota ini jadi perlintasan hubungan dagang yang vital. Kemudian di abad ke-19, pelabuhan Seng Hie menambah status perlintasan aktivitas dagang. Pelabuhan Dwikora mempertegas identitas Pontianak sebagai urat nadi aktivitas dagang, perekonomian dan bisnis barang dan jasa antarwilayah.
Sekitarnya juga terus bergerak. Meski ekonomi makro terasa sulit, tapi warkop, cafe dan tempat kuliner terus bangkit.
Tak ketinggalan pula di daerah Ampera dan sekitarnya: kampus dan gedung UPGRI Pontianak terus berbenah diri. Tak perlu dibilang lagi di wilayah sekitar Untan, UPB, dan kampus UWD. Pontianak jadi kota pelajar dan kuliner. Saban tahun banyak anak muda datang menjadi warga diaspora kota untuk alasan pendidikan maupun mencari kerja. Di kota inipun impian banyak anak muda meraih gelar sarjana (di berbagai strata) diperjuangkan secara akademik.
Semua itu khas fenomena pertumbuhan dan perkembangan kota. Pengaruh budaya pop dan gaya hidup metropolitan memperkokoh daya tarik urban. Anak-anak muda menentukan tumbuh berkembangnya kota Khatulistiwa ini. Kendaraan di atas roda 6 dan kontainernya menambah kesibukan aktivitas pelabuhan. Kota Pontianak terus tumbuh dibentuk, dinegosiasikan.
Di Kota Pontianak, even Festival Meriam Karbit, Cap Go Meh, Naik Dango telah punya jadwal masing-masing dalam agenda tahunan DISPORAPAR. Hal ini mempertegas kota wisata – dengan wisata budayanya yang khas. Pengunjung dari luar Kalimantan pun tak ingin ketinggalan menyaksikan berbagai atraksi yang menarik. Semoga kota ini terus jadi ruang huni yang nyaman secara sosial ekologis, inklusif dan berkelanjutan.

Penulis: R. Giring – Penggiat Isu Kebudayaan di Pusat Dayakologi
Baca juga: Duka Ekologis Sumatera dan Kalimantan Selatan: Refleksi
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....