Mengenang Buya Hamka Sang Pemandu Umat
- 17 Jan 2026 12:29 WIB
- Pontianak
Di masa Demokrasi Terpimpin, Buya Hamka adalah sosok yang kadang berbeda pendapat dengan Presiden Soekarno, dan juga berseberangan dengan kaum komunis. Melalui majalah Lentera, karya-karyanya diserang habis. Berbulan-bulan lamanya ia hadapi hantaman orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Dua tahun empat bulan lamanya, Buya Hamka hidup dalam penjara rezim Soekarno.
Meski begitu, ia tak marah. Buya Hamka tidak hanya dekat dengan mereka yang sepaham sepemikiran, tapi juga tidak menghindari orang yang tidak ia sukai.
Ia berprinsip bahwa dengan mengenal sesama yang berbeda, akan menemukan sudut pandang baru. Meski ilmunya sangat tinggi, ia tak pernah merasa besar diri. Sikap hidupnya yang lurus terbukti saat ia menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ia jalankan amanah itu dengan penuh tanggung jawab. Meski mendapat banyak tekanan, ia tetap teguh bersikap dan memegang prinsip.
Baginya, kehebatan ulama diukur sejauh mana ia mampu melembutkan kerasnya hati para pembenci. Sejauh mana kemampuannya menenangkan jiwa-jiwa yang gundah gulana.
Hamka adalah pribadi yang sangat luas, baik jiwa maupun pemikirannya. Maka itu, melihat Buya Hamka hanya dari satu sisi seringkali melahirkan salah persepsi.
Dia bukanlah sosok yang terlalu keras atau terlalu lembek. Dia di tengah-tengah saja dan fleksibel. Dengan begitu, Buya Hamka bisa masuk ke dalam wilayah sosial kemasyarakatan lapisan manapun.
Apa yang dilakukan Buya Hamka jauh dari kepentingan pribadi karena persatuan bangsa dan keutuhan umat Islam lebih utama baginya. Jika ingin dirumuskan secara bersahaja, letak kebesaran Buya Hamka adalah pada kemampuannya menjadikan diri berharga dan berarti bagi aneka ragam manusia melalui sikap yang sangat positif dan konstruktif.
Buya Hamka menghargai manusia lain secara tulus. Mungkin selama ini informasi tentang Buya Hamka hanya diserap setengah-setengah. Sebagai penganut Islam Pembaharuan, Buya Hamka tak canggung membaca doa qunut.
Dalam persepsinya pula pemahaman Wahabi menjadi lebih netral. Bisa begitu, karena, sekali lagi, Buya Hamka itu luas. Maka, jangan memandangnya dengan kacamata kuda.
Buya Hamka adalah ibarat sumur dalam yang jernih airnya dan tidak akan pernah habis ditimba oleh siapa pun. Semakin ditimba, semakin pahamlah bahwa air sumur ini bersumber jauh di dunia hakikat. Entah sudah berapa tesis dan disertasi tentang pemikiran tokoh yang tidak tamat Sekolah Dasar ini telah ditulis oleh banyak peneliti.
Tirai kehidupan Buya Hamka yang nyaris tidak terbuka adalah kenyataan bahwa dia adalah sosok yang memiliki kelembutan, kesabaran, ketabahan, ketiadaan dendam, pemaaf, dan kecintaan kepada semua orang, termasuk kepada yang menyakitinya. Meski Soekarno pernah memenjarakannya, Hamka tetap memaafkan.
Di saat Pramoedya Ananta Toer menuduhnya sebagai plagiat, Hamka tetap berlapang dada. Menganggap tuduhan Pram hanya kesalahpahaman semata. Hamka tetap mendudukkan Pramoedya sebagai sastrawan tanah air yang memiliki prestasi gemilang.
Bahkan, saat Muhammad Yamin mendiamkannya bertahun-tahun lamanya hanya karena berseberangan pemikiran soal dasar negara, Buya Hamka sama sekali tidak menyimpan dendam. Buya Hamka justru menemani Muhammad Yamin sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Persepsi kebanyakan orang terhadap Buya Hamka sering salah. Hamka selalu diidentikkan sebagai seorang yang tegas dan kaku. Seorang muslim kolot yang tidak bersedia kompromi dengan golongan yang tak sepemikiran dengannya.
Nyatanya, Hamka adalah seorang yang lembut hatinya, santun dan teduh dakwahnya, ulama perangkul bukan pemukul. Prinsip yang selalu ia pegang adalah semakin tinggi ilmu, semakin sedikit menyalahkan liyan.
Ia adalah satu di antara sekian banyak ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia. Pengaruh dan keilmuannya berhasil menyentuh semua golongan, baik religius maupun nasionalis, masyarakat dalam negeri maupun luar negeri.
Hamka adalah sosok ulama paripurna, moderat, teduh yang tidak mudah membuat gaduh, apalagi memancing di air keruh. Tuturan dan pesan dakwahnya selalu menyejukkan bukan memojokkan, mengundang simpati, jauh dari kata umpat dan hujat.
Figur ulama pembina bukan penghina, pendidik bukan pembidik, pengukuh bukan peruntuh. Ketika mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat dan memihak umat Islam, Buya Hamka lebih memilih jalur pena dalam rangka menyampaikan aspirasi dan pesannya daripada menggalang aksi massa.
Pendiriannya teguh, prinsipnya kuat, namun lentur dan menaruh hormat kepada liyan yang berbeda. Sosok ulama besar yang bersahaja, tak terbeli, independen, dan tak gemar mengobral fatwa.
Beragam laku luhur inilah yang membuat ulama berdarah Minangkabau ini disegani semua orang, semua golongan. Di dalam diri seorang Buya Hamka, menyatu berbagai sebutan antara lain sastrawan, wartawan, budayawan, sejarawan, ulama, mubalig dan lain sebagainya.
Buya Hamka bukan hanya ayah dan imam dalam lingkungan keluarganya, tapi juga merupakan ayah dan imam bagi umat Islam di Nusantara, termasuk di negeri-negeri yang menggunakan bahasa Melayu. Buya Hamka adalah seorang putra terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Dengan kata lain, adalah seorang multi talenta yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Rasa cinta tanah air pada diri Buya Hamka, salah satunya, terbukti ketika dia turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat penjajah Belanda bermaksud merebut kembali bangsa ini.
Saat itu Buya Hamka bergabung dengan pejuang di Sumatera Barat. Dia turut bergerilya keluar masuk di pedalaman dan pelosok, demi menjaga agar kedaulatan republik tidak jatuh kembali ke tangan penjajah asing.
Tidak heran jika di kemudian hari Buya Hamka menggelorakan semangat cinta tanah air. Dapatlah dikatakan, bahwasannya karena mencintai Tuhanlah maka timbul cinta kepada tanah air.
Rumpun cinta yang seperti ini, cinta tanah air, dari tauhidlah datangnya menurut Hamka.
Hingga akhir hayatnya, hubbul wathan minal iman tetap dipegang oleh Buya Hama sebagai pedoman hidup. Segala yang dilakukannya, baik ceramah-ceramah agamanya, tulisan-tulisannya, maupun kritikan-kritikannya, demi rasa cinta dan kepeduliannya yang besar terhadap tanah airnya.
Semua yang diperbuatnya demi kemajuan dan kejayaan bangsanya. Di buku Pandangan Hidup Muslim, Buya Hamka menuliskan pernyataannya bahwa tanah tumpah darah tempat dilahirkan adalah daerah yang harus dicintai.
Tanah air adalah nikmat Ilahi kepada hamba Nya. Di atas bumi Nya hamba Nya dibesar, hasil bumi Nya yang dimakan, air Nya yang mengalir yang diminum, sehingga, dapatlah dikatakan bahwa karena mencintai Tuhan, maka tumbuhlah cinta terhadap tanah air dan bangsa.
Menurut Buya Hamka, cinta sejati tidaklah mengharapkan balas jasa. Demikian juga dengan mencintai tanah air, tidak boleh orang yang melakukannya menuntut jasa balik. Melakukan yang terbaik untuk tanah air, nusa, dan bangsa adalah kewajiban sebagai warga negara.
Sebab, kata Buya Hamka pula, tanah air sudah berjasa besar pada hamba Nya, karena telah memberikan kehidupan dan segala hal yang diperlukan.
Tak perlu diperdebatkan lagi bahwa cinta pada tanah air itu tumbuh karena tauhid. Karena beriman kepada Allah, maka tumbuhlah perasaan cintanya terhadap tanah air, nusa, dan bangsanya.
Mencintai tanah air merupakan sebuah keutamaan, khususnya bagi orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah Swt dan Rasul Nya. Iman merupakan pusat yang menggerakkan manusia, yang salah satunya adalah menggerakkan manusia untuk membela tanah air dan bangsanya.
Oleh karena itu, bagi siapa saja yang masih bertanya-tanya atau menggugat hubbul wathan minal iman, tidak ada dalil atau dasarnya, cukuplah menjadikan Buya Hamka sebagai cermin.
Sebab, siapa saja yang memahami Buya hamka, maka dia akan paham pula sebesar apa kiprah ulama besar itu untuk Indonesia.
Bulan Ramadhan pada Jumat, 24 Juli 1981, Buya Hamka pribadi yang mengandung arti penting dan harum namanya bagi tanah air, bangsa, negara dan agama, di usia senja berpulang ke haribaan Ilahi.
Lahir 17 Februari 1908, Pahlawan Nasional ini dicatat sebagai ulama pertama di tanah air ini yang mampu mempergunakan sastra sebagai alat untuk menyampaikan pesan Allah Swt dan risalah Rasul Nya.
Untuk menyebut sedikit dari yang banyak buah karyanya, Di Bawah Lindungan Kabah dan Tenggelamnya Kapal van Der Wijk, Buya Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah, meninggalkan karya monumental Tafsir Al-Azhar yang abadi sepanjang masa.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....