Mengenang Adinegoro Nestor Jurnalis Indonesia

  • 12 Jan 2026 21:03 WIB
  •  Pontianak

Pertengahan tahun 1926, di atas kapal Tambora yang sedang berlayar dari Batavia menuju Eropa, terdapat seorang pemuda yang membantu seorang dokter yang hendak melakukan perjalanan ke Negeri Belanda. Pemuda itu, murid sekolah dokter Stovia, dua tahun lagi akan menjadi dokter. Tetapi Stovia ditinggalkannya. Di dadanya bergejolak jiwa muda, jiwa petualang. Ia ingin mengelilingi dunia. Empat tahun ia bermukim di Jerman, belajar jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopolitik.

Tahun 1931 ia kembali ke tanah air. Ilmu yang didapatkan selama petualangannya di Eropa dituangkannya ke dalam tulisan yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan menyumbangkan darma baktinya dalam dunia penerbitan pers. Ia menjadi pelopor kaumnya untuk menuntut ilmu secara formal, dan banyak sumbangannya kepada perkembangan bahasa Indonesia. Dia merupakan salah seorang pelopor dari kaum wartawan Indonesia yang menuntut ilmu publisistik dan ilmu jurnalistik, langsung dari sumbernya, di Jerman.

Pada masa itu masih langka sekali jumlah kaum wartawan Indonesia yang menuntut ilmu jurnalistik secara formal, mengingat bahwa pada tahun 1920-an di Indonesia, yang masih menjadi tanah jajahan Belanda, masih belum mempunyai sekolah yang sejenis. Pemerintah kolonial Belanda mendirikan sekolah untuk kaum pribumi, terutama diperuntukkan agar pihak penjajah mendapatkan tenaga-tenaga murah, terampil dan dengan sedikit pengetahuan bisa membantu rezim penguasa mengelola tanah jajahannya.

Perkembangan zaman jugalah yang menyebabkan anak pribumi lalu ingin maju dan mengenyam ilmu pengetahuan setinggi-tingginya. Tentunya dalam segala bidang ilmu, termasuk pula ilmu publisistik yang kini lebih dikenal lagi dengan sebutan ilmu komunikasi massa. Dia selain menjadi pelopor kaumnya untuk menuntut ilmu secara formal juga banyak sumbangannya kepada pertumbuhan bahasa Indonesia yang belakangan menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia.

Dalam kenyataan itu pula, lebih dari separuh usianya memang diabdikan untuk keperluan itu. Dia mendarmabaktikan sebagian besar hidupnya kepada tanah air dan bangsanya dalam bidang jurnalistik dan dalam bidang pengembangan bahasa. Di samping itu, dia sedikit banyak juga menyumbangkan kebiasaannya dalam bidang pemetaan, suatu bidang yang kala itu juga masih sangat langka ditekuni oleh orang Indonesia. Dia bukannya seorang orator yang pandai membakar semangat pendengarnya dengan keterampilan berpidato, atau dengan suaranya yang menggelegar.

Namanya juga tidak pernah menonjol sebagai seorang politikus, atau pembuat analisa politik luar dan dalam negeri. Akan tetapi tulisannya banyak mendapatkan minat serta perhatian dari para pembacanya. Tidak sedikit jumlah kaum muda di sekitar tahun 1930-an menjadi pengagumnya dan di kemudian hari bahkan lalu menduduki tempat yang penting di kalangan jagat wartawan Indonesia. Diam-diam mereka meneladani serta mengikuti jejak langkah yang telah ditempuh olehnya tadi.

Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya dia memang berhasil mendapatkan tempat yang terpandang di kalangan semesta jurnalis Indonesia. Dan bahkan untuk menghormati serta memperingati jasa-jasanya, bermula dari Persatuan Wartawan Indonesia Jakarta Raya, menyediakan tanda penghargaan bagi karya jurnalistik yang paling baik. Tanda penghargaan tadi diberi nama Hadiah Adinegoro, yang memang dikaitkan dengan nama nestor jurnalis Indonesia itu.

Bernama asli Djamaluddin, lahir 14 Agustus 1904 di Talawi Sumatera Barat. Ayahnya Tuanku Laras Usman Bagindo Chatib, seorang terpandang dan memiliki jabatan penting sebagai kepala laras atau demang yang masa itu disebut districthoofd setempat. Dia bersaudara sebapak dan lain ibu dengan Muhammad Yaman gelar Rajo Endah. Demikian pula Djamaluddin juga bersaudara sebapak dengan Prof Dr Mr H Muhammad Yamin (pahlawan nasional) dan Dr Muhammad Amir seorang dokter ahli jiwa terkemuka bangsa Indonesia pada masanya.

Adalah Landjumin Datuk Tumenggung, wartawan dan penerbit majalah Tjahaja Hindia dan harian Neratja, pemilik media tempat Djamaluddin menyalurkan tulisannya serupa juga pewarta lainnya seperti Bahder Djohan, Siti Danilah, Agus Salim, Abdul Muis, Kasuma Sutan Pamuntjak dan Muhammad Yamin. Landjumin yang menulis artikel dengan nama Notonegoro inilah yang menganjurkan Djamaluddin untuk menggunakan nama Adi Negoro, kemudian ditulis Adinegoro, dalam tiap tulisannya. Dan semenjak itulah Djamaluddin berjuluk Adinegoro.

Nestor Jurnalis Indonesia ini menyelesaikan tugasnya di alam dunia dengan menutup mata untuk selamanya pada 8 Januari 1967. Jenazahnya disemayamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak Jakarta sebagai tempat peristirahatan abadinya. Tak sedikit pelayat yang mengantarkannya ke peristirahatan terakhir dan abadinya itu.

Adinegoro sebagai wartawan dan penulis telah menghasilkan sejumlah buku, termasuk juga karya roman sastra. Pemerintah tidak melupakan jasanya. Pada tahun 1974 dia dianugerahi gelar Perintis Pers Indonesia. Dia tak sempat menyaksikan perkembangan pers Indonesia serta kehidupan kaum wartawan pada zaman yang silih berganti ini.

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia

Baca juga: Mengenang Thamrin Pahlawan Nasional dari Sawah Besar

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....