Mengenang Thamrin Pahlawan Nasional dari Sawah Besar
- 10 Jan 2026 22:38 WIB
- Pontianak
Permulaan tahun ini, suatu sore, jalan masuk Taman Pemakaman Umum Karet Bivak Tanah Abang Jakarta Pusat, di samping flyover Karet tak terlalu ramai. Beberapa petugas keamanan duduk dekat pintu gerbang. Beberapa peziarah, warga, dan sejumlah pedagang melewati jalan itu.
Tak sampai 100 meter dari pintu gerbang, tampak sebuah kompleks kecil di antara pemakaman besar dikelilingi tembok berkeramik putih setinggi sekitar 50 sentimeter. Setidaknya ada 12 nisan dengan nama keluarga Thamrin. Paling mencolok sebuah nisan berbentuk seperti tugu segi empat.
Di bagian di dinding depan nisan tugu tertulis, "Di sini tempat beristirahat Mohammad Hoesni Thamrin". Tak seberapa jauh darinya, ada plang bercat hijau dengan tulisan "Makam Pahlawan Hoesni Thamrin". Tentu ada yang berziarah sebelumnya, ada taburan bunga mawar merah di atas pusaranya.
Di tempat ini, tatkala MH Thamrin wafat, ada sekitar 20 ribu orang pelayat mengantarkan jenazah Thamrin. Ahad pagi hingga siang hari, 12 Januari 1941, pemakaman ini penuh sesak para pelayat. Itulah saat Thamrin dimakamkan.
Lahir di Sawah Besar, Batavia, MH Thamrin berasal dari keluarga berada tumbuh dalam lingkungan pendidikan Barat dan masyarakat Betawi yang religius. Sang ayah, Thamrin bin Tabri, membekalinya menjadi politikus yang pro-pribumi.
Suara lantang dan sepak terjang MH Thamrin sebagai anggota Volksraad membikin gerah rezim pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bagai onak dalam daging, Thamrin adalah politkus yang cakap dan licin dalam sistem. Diduga ia termasuk golongan orang yang harus disingkirkan karena dianggap merongrong kewibawaan pemerintah Belanda.
Meninggalnya Mohammad Hoesni Thamrin boleh dikatakan cukup mengejutkan banyak pihak. Sebelumnya, dia diberitakan menjadi tahanan rumah oleh pemerintah Belanda. Penahanannya diduga berkaitan dengan kekritisannya. Ia dengan pedas mengkritik kebijakan Belanda dan membuat mereka gerah.
Kematian Thamrin diliputi kabut misteri. Banyak yang menduga ia sengaja disingkirkan karena aktivitas politik dan suara lantangnya. Surat kabar Keng Po menyebutkan ia meninggal karena malaria tropika.
Malam jelang dinihari, 10 Januari 1941, saat itu kondisinya sedang panas dan menggigil. Suasana mencekam ketika beberapa orang dari pasukan Belanda, termasuk seorang dokter, tiba-tiba datang ke rumah gedongan di Sawah Besar, Batavia, itu. Rumah ini hanya dihuni Thamrin, istrinya Otoh Arwati dan anak mereka Deetje Zubaidah, serta Entong pembantu mereka.
Pasukan memasuki kamar Thamrin, seisi rumah tak berani berbuat apa-apa. Termasuk saat dokter menyuntikkan sesuatu ke tubuh Thamrin. Selepas itu, Thamrin kaku tak bergerak. Di subuh yang pilu itu, Thamrin diyakini menghembuskan napas terakhirnya setelah sentuhan tangan dokter yang menyuntikkan sesuatu kepadanya.
Kecurigaan Thamrin meninggal karena dibunuh itu ada meski tidak terdapat bukti. Keluarganya saat itu tak bisa berbuat banyak untuk menyelisik kematian Thamrin.
Lahir dari keluarga kaya, Mohammad Hoesni Thamrin berikhtiar memperbaiki hidup warga pribumi Batavia dengan menjadi anggota Dewan Kota. Memperjuangkan kemerdekaan lewat Volksraad, peran besarnya tereduksi menjadi sekadar tokoh Betawi. Sejatinya dia sahabat dan kawan diskusi Bung Karno.
Banyak yang menyangka dia adalah pahlawan yang semata memperjuangkan nasib warga Betawi di masa menjelang kemerdekaan. Padahal, lebih dari itu. Kiprah politiknya mengubah banyak hal yang berhubungan dengan nasib bangsa.
MH Thamrin, pria Betawi berdarah Eropa lahir 16 Februari 1894, berada dalam pusaran besar sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sesuatu yang tak dia rasakan hingga akhir hayatnya.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia
Baca juga: Belajar Hidup Sederhana Penuh Makna Dari Baswedan
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....