Mengenang WD Mochtar Aktor Kawakan Dari Pontianak

  • 07 Jan 2026 09:18 WIB
  •  Pontianak

Lahir di Pontianak 9 Mei 1928 di kawasan Palmenlaan atau Jalan Merdeka Timur sekarang. Akibat serangan jantung, meninggal dunia di Tanjung Karang Lampung pada 13 Desember 1997 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang Bandar Lampung.

Berpendidikan HIS di Jalan Tamar atau Kampung Tengah Pontianak. Pada masa pendudukan Jepang, antara 1942-1945, Wagino menjadi tentara bantuan bentukan Jepang, (Kaigun Heiho) di Pontianak. Dalam kesatuan ini, ia sering diturutsertakan dalam acara-acara hiburan sebagai penyanyi dan penari.

Penghujung 1945, bersama pemuda pejuang Achmad Noor, Oemar Saidi, La Ode Idjo, Hamdy Moursal, Yusuf Yatim, Abassuni Abubakar dan pemuda republikein lainnya, bergerak menentang keberadaan NICA dan pemerintah sipil Belanda di Pontianak. Dikenal aksi pemuda mencoba merebut kapal Dhampea dan membakar tangsi militer Belanda, namun gagal.

Awal 1946, ia hijrah ke Jawa dan menggabungkan diri pada TRI di Krawang. Ikut hijrah ke Yogya, kemudian bergerilya di Jawa Barat. Keluar dari dinas militer ketentaraan selepas Pengakuan Kedaulatan, 1949, dan langsung terlibat dalam dunia perfilman.

Perkenalannya dengan film terjadi lewat Tirtonadi (1950). Selanjutnya sampai tahun 1955 menjadi pemain tetap studio Tan & Wong Bros yang kemudian ganti nama menjadi Tjendrawasih Film. Sebagian tugasnya adalah main dalam film-film ala 1001 malam yang sedang jadi mode pada tahun-tahun itu.

Antara tahun 1955 - 1959 absen dari film. Baru balik lagi lewat Badai Selatan (1960) yang disutradarai oleh Sofia Waldy yang kemudian jadi istrinya (Sofia W.D.).

Pada tahun 1960, suami istri ini mendirikan Libra Musical Show yang menyelenggarakan pertunjukan hiburan ke berbagai pelosok Tanah Air. Kegiatan ini adalah selingan dari masa kosong pembuatan film saat itu. Anggota yang dibawanya umumnya pemain film. W.D. Mochtar tampil dalam acara nyanyi dan tari.

Permainannya dalam Matjan Kemajoran (1965) tiba-tiba melambungkan namanya ke atas. Permainan berikutnya dalam film-film yang disutradarai Wim Urnboh tambah memperkuat kedudukannya sebagai salah seorang pemain teratas sejak dimulainya sejarah pembuatan film ber-warna disini.

Terpilih sebagai best actor dalam pemilihan Best Actor Actress PWI-Jaya 1971 untuk permainannya dalam Sanrego. Film-filmnya antara lain: Pengantin Remaja (1971), Mama (1972), Tokoh (1973), Melawan Badai (1974), Krakatau (1977) Petualang-petualang (1978), Si Ayub (1979) dan sederet panjang lainnya.


Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia 


Baca juga: Satu Jam Bersama Pak Tab

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....