Rohana Muthalib Ahli Kecantikan Menata Pontianak
- 26 Des 2025 09:01 WIB
- Pontianak
KBRN, Jakarta: Jumat, 8 April 1983, dari Jakarta, jenazah Ibu Rohana Muthalib dibawa ke Bogor untuk dimakamkan di Pemakaman Umum Blender Kebon Pedas di sana. Meninggal Kamis, 7 April pada pukul 23.00. Ibu Rohana adalah walikota wanita pertama di Pontianak dan di Indonesia. Lahir 29 April 1900 di Baso Solok Sumatera Barat. Di tahun 1953, di bawah Perdana Menteri Wilopo, Menteri Dalam Negeri Mohamad Roem berkunjung ke Pontianak setelah sebelumnya beberapa kali mengunjungi kota ini, mengangkat Ibu Rohana Muthalib istri arsitek Abdul Muthalib seorang perempuan sebagai Walikota Pontianak. Dia memiliki ijazah kecantikan dari Instituut Cor van der Leeuw di Negeri Belanda. Lembaga itu mempunyai perwakilan di Jakarta yang membuka kursus kecantikan. Tiap tahun sebuah tim dari Negeri Belanda datang ke Jakarta untuk memimpin ujian.
Seorang walikota wanita, ketika itu dikesankan mengurus kota sebenarnya bukan soal politik, melainkan banyak yang merupakan ketekunan dan pengawasan yang teliti. Sampah yang kadang-kadang tertimbun setinggi gunung kecil, tidak memerlukan biaya banyak kalau lekas-lekas ditangani dan tidak dibiarkan terlalu lama. Begitu juga lubang-lubang yang muncul di jalan, jika lubang sudah besar dan dalam, maka biaya perbaikan akan lebih mahal. Kemudian ada kesimpulan, bahwa mungkin banyak kepentingan kota, yang lebih lekas mendapat perhatian bila walikotanya seorang wanita. Banyak kepentingan sehari-hari dan pemandangan di kota yang lebih dulu akan diperhatikan wanita daripada oleh seorang laki-laki.
Kabinet Wilopo yang bertugas dari 1953 sampai 1954, mencatat dua orang wanita sebagai walikota. Nyonya Augustine Magdalena Woworuntu di Manado dan Ibu Rohana Muthalib di Pontianak. Walikota Pontianak ini semula bekerja di kantor Menteri Dalam Negeri di Jakarta, adalah ahli kecantikan dengan ijazah internasional. Keduanya dipandang berhasil sebagai walikota. Malah, waktu mereka mengalami kesulitan oleh Sobsi, berhaluan Komunis, kedua walikota itu menghadapi mereka sebagai seorang ibu yang berhadapan dengan anak-anaknya.
Di tahun itu keuangan negara belum mampu untuk menambah gaji, seperti yang dikehendaki para pekerja. Waktu Serikat Buruh bersiap-siap untuk beraksi, yaitu menuntut kenaikan upah dengan ancaman mogok, walikota lebih dulu mengumpulkan mereka untuk diajak berbincang-bincang. Pada pertemuan itu maka keluarlah tuntutan kenaikan upah yang dijawab oleh walikota, “Anda barangkali belum sadar benar, bahwa kita ini sekarang benar-benar sudah merdeka. Kalau Anda ingin mendapat upah lebih banyak, saya setuju sekali, tapi tolonglah saya bagaimana mencari sumber untuk menambah upah itu. Sumber yang ada dua Kotapraja Pontianak sebagai daerah otonom, adalah antara lain menaikkan atau jika belum, mengadakan pening sepeda. Menaikkan karcis pasar, memungut pajak dari semua yang berjualan, baik di dalam atau di luar pasar. Ini tidak mengenai toko-toko yang sudah membayar retribusi. Kalau ini tidak cukup, baru minta bantuan dari Pemerintah Pusat. Jangan minta bantuan dari Pemerintah Pusat, kalau kita belum ikhtiar sendiri”.
Waktu mereka mendengar Ibu Walikota berbicara demikian, mereka menginsafi bahwa sumber itu sebagian harus dipikul sendiri. Maka Ibu Walikota Pontianak berhasil menyabarkan tuntutan kenaikan upah. Suatu tuntutan yang tidak dapat dipenuhi, dengan alasan sederhana saja, waktu itu keuangan negara belum mungkin memenuhi tuntutan itu. Maka Walikota Pontianak itu bertindak seperti seorang ibu, berhasil menyabarkan para karyawan.
Seorang ahli kecantikan menjadi walikota. Beberapa tahun sebelum Perang Dunia II, surat-surat kabar di Jakarta memberitakan, bahwa Ibu Muthalib adalah ahli kecantikan Indonesia yang pertama. Dan Ibu Muthalib inilah ahli kecantikan yang disebut-sebut dalam berita surat-surat kabar itu. Berita tentang ahli kecantikan, seorang Indonesia pertama ini telah menarik perhatian orang, dan Ibu ini tidak jarang mengadakan demonstrasi yang mendapat kunjungan banyak orang terutama mereka yang ingin dipercantik.
Sebelum Perang Dunia II, Kota Pontianak belum merupakan daerah otonom. Kepadanya hanya diberikan sekadar otonomi yang sangat terbatas dengan pembentukan apa yang dikenal sebagai Plaatselijke Fonds. Dengan perkembangan kota, otonomi sangat terbatas itu tidak dapat lagi dipertahankan. Demikianlah setelah Perang Dunia tersebut selesai dan daerah Kalimantan Barat masih dikuasai oleh Netherlands Indies Civil Affairs (NICA) serta dijadikan Daerah Istimewa dengan menggabungkan daerah-daerah swapraja dan neoswapraja dalam suatu federasi, maka Kota Pontianak oleh pemerintah Swapraja Pontianak dijadikan sebuah Landschape Gemeente. Setelah penyerahan kedaulatan Pontianak mengenal seorang walikota wanita yang pertama yang memangku jabatan sekitar tiga tahun lebih. Di penghujung masa jabatan Ibu Rohana Muthalib selaku walikota ini, Landschaps Gemeente ditingkatkan sebagai Kotapraja Pontianak.

Pusara Ibu Rohana Muthalib walikota perempuan pertama di Pontianak dan Indonesia di bawah kerimbunan tumbuhan hanjuang hijau di TPI Blender Kebon Pedas Bogor, Jawa Barat. (Foto: Dok. Syafaruddin)
Kabinet Wilopo berkuasa hanya 13 bulan, yang paling lama dari kabinet-kabinet parlementer pada waktu itu. Akan tetapi Walikota Ibu Rohana Muthalib masih terus bertugas. Perdana Menteri Burhanuddin Harahap, yang menggantikan Wilopo, waktu ia berkunjung ke Pontianak, masih menjumpai walikota yang ahli kecantikan itu. Waktu itu walikota sedang mengusahakan air minum untuk Pontianak. Pontianak yang dialiri Sungai Kapuas yang terbesar di Indonesia, sebenarnya betul-betul tidak kekurangan air. Hanya saja airnya bukan air minum. Kesulitan-kesulitan yang sering dihadapi masyarakat Pontianak yang menggunakan air hujan sebagai sumber air minumnya adalah apabila musim kemarau terlalu panjang.
Upaya walikota Ibu Muthalib inilah kemudian pada tahun 1957 dibangun instalasi penjernihan air minum oleh Etablissements Emile Degromont setelah mempelajari laporan-laporan survei oleh Mr Balabanian dan Mr Harel. Sebagai sumber air diambil air dari Sungai Kapuas Kecil. Akan tetapi sebagaimana kebanyakan sungai-sungai di daerah Kalimantan Barat, Sungai Kapuas Kecil ini sangat dipengaruhi oleh keadaan pasang surut air laut berhubung dengan keadaan tofografi yang tidak begitu berbeda ketinggiannya dengan permukaan air laut. Walaupun jarak muara Sungai Kapuas Kecil sampai ke Kota Pontianak lebih dari 20 kilometer, tetapi pengaruh pasang surut dari laut masih sangat terasa sehingga setiap tahunnya selama seminggu atau lebih pada musim kemarau air Sungai Kapuas Kecil mengandung kadar garam yang tinggi.
Ibu Rohana Muthalib Walikota Pontianak yang ahli kecantikan ini hidup mencapai usia 83 tahun (lahir 29 April 1900-wafat 7 April 1983), dan lima tahun terakhir sebelum ajal menjelangnya, sudah sakit-sakitan dan keluar masuk rumah sakit. Lahir dari pasangan Djamin Datuk Mangkuto Sati dan Sitti Sawiyah, keduanya berasal dari Minangkabau. Rohana lahir di Baso Solok Agam sebuah kota kecil antara Bukittinggi dan Payakumbuh di Sumatera Barat. Ayahnya semasa itu menjabat sebagai Asisten Demang Onderdistrik Baso. Rohana antara lain bersaudara dengan Noermatias Datuk Bagindo Sati. Menikah dengan Insinyur Abdul Muthalib seorang arsitek yang belakangan ditugaskan di Pontianak Kalimantan Barat. Mereka dikarunia lima orang anak, di antaranya Nani Razak yang dicatatkan sebagai seorang pengacara terkemuka di Jakarta pada masanya dan disebutkan sebagai pengacara perempuan pertama Indonesia.
Sebagai pemimpin Kota Pontianak yang semulanya bekerja sebagai pegawai di Kementerian Dalam Negeri masa Perdana Menteri Wilopo dan Menteri Dalam Negerinya Mohamad Roem, Rohana dikenal terbuka dan dekat dengan kalangan pers. Setiap hari di Balaikota Pontianak, Rohana menyediakan waktu untuk melayani awak media massa yang tak sedikit jumlahnya ketika itu. Dalam masa itu pula, surat kabar Pembangunan yang dikelola para redaksi antara lain Aliaswat Saleh, Ibrahim Saleh dan Achmad Noor, memprakarsai dan menyelenggarakan untuk pertamakalinya pameran pers Kalimantan Barat dengan menampilkan tak sedikit terbitan harian dan mingguan serta majalah terbitan Kalimantan Barat. Dan untuk ukuran zamannya, pameran ini tercatat sangat besar dan memperoleh apresiasi secara nasional.
Semoga Allah Swt Tuhan YME akan memberi pahala untuk jasa-jasanya yang setimpal. Semoga pula hidupnya menjadi teladan bagi generasi yang selanjutnya.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia)
Baca juga: Belajar Keteladanan dari Mohammad Natsir
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....