Belajar Keteladanan dari Mohammad Natsir
- 25 Des 2025 12:33 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Jejak langkah perjuangan Mohammad Natsir adalah bagian dari catatan sejarah nasional yang tidak boleh dilupakan. Sebaliknya, dengan peran penting yang dijalaninya sejak zaman kolonial hingga akhir hayatnya, haruslah mendudukkan peran dan perjuangannya dalam pentas sejarah yang terhormat.
Dari Natsir belajar bagaimana memimpin bangsa ini dengan tulus. Bagaimana mempersatukan bangsa, salah satunya dengan Mosi Integral. Sebagai pribadi dan pemimpin, menarik sekali untuk menjadikan Natsir sebagai teladan bagi semua orang. Natsir sudah besar dengan sendirinya. Kesederhanaan, sikap tulusnya, dan peran-perannya yang besar dalam membangun bangsa sampai akhir hayatnya akan terus dikenang masyarakat.
Natsir adalah pemimpin Masyumi yang tangguh, yang di dalam kehidupan politiknya dan di parlemen dapat bekerja sama dengan harmonis, dengan pemimpin-pemimpin dan anggota parlemen dari partai politik yang berbeda ideologi dengan dia. Natsir pemimpin yang jujur, sederhana, dan jernih dalam berpolitik.
Dengan Keputusan Presiden tahun 2008, Natsir dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional. Natsir yang dikenal dengan kesederhanaan dan keikhlasannya, tentulah tidak pernah berpikir apalagi menuntut untuk diakui sebagai Pahlawan Nasional. Natsir telah mempersembahkan apa yang bisa dipersembahkan kepada Republik Indonesia.
Natsir dikenal sebagai sosok pendakwah yang teduh, politikus yang jujur, pejuang yang ikhlas, dan negarawan terhormat. Sebagai pendakwah yang teduh, Natsir tampil sebagai ulama intelektual yang menebarkan ajaran Islam dengan penyampaian yang tenang, bijak dan ramah. Islam yang disyiarkan dengan keteduhan, kedamaian, didukung oleh argumentasi yang tepat, dan menjauhkan diri dari tindakan kekerasan.

Makam HM Natsir mantan Menteri Penerangan pertama dan Perdana Menteri RI di TPU Karet Bivak Jakarta Pusat
Di tengah keragaman sikap dalam berdakwah, ada pelajaran yang dapat dipetik dari Mohammad Natsir. Natsir menyebarkan syiar Islam dengan santun, bijak, damai dan penuh toleransi. Dengan cara seperti itu, syiar agama yang dilakukan, akan membawa kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara, ke arah yang lebih terhormat dan beradab. Dapat hidup aman, tenteram, dan damai, baik di antara sesama penganut agama maupun di antara umat beragama lainnya. Dengan sikap Natsir yang seperti itu, dia dikenal di tanah air dan di mancanegara, sebagai seorang guru bangsa, pendidik umat, dan seorang alim.
Selain sebagai juru dakwah, Natsir juga dikenal sebagai seorang negarawan terhormat, politikus yang luhung, dan pejuang yang ikhlas. Dengan posisinya yang seperti itulah, Natsir berjuang membangun tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejak zaman kolonial Belanda, Mohammad Natsir, melalui tulisan-tulisannya, berjuang menentang penindasan, imperialisme dan kolonialisme. Selanjutnya, di periode awal kemerdekaan, Natsir membangun tata kehidupan politik baru.
Nama Mohammad Natsir, tidak mungkin dihapus begitu saja dari lembaran catatan sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dia pernah dipercaya sebagai Menteri Penerangan dan juga Perdana Menteri di zaman Presiden Soekarno. Tidak hanya itu, Natsir harus diakui, sangat besar jasanya dalam memulihkan Republik Indonesia menjadi Negara Kesatuan. Gagasan cerdas Natsir memulihkan NKRI, melalui Mosi Integral Natsir, adalah jasa yang harus ditempatkan pada proporsi yang tepat.
Pendekatan yang manusiawi di antara fraksi-fraksi, tanpa satu orang atau satu kelompok pun yang merasa kehilangan muka, telah menggugah kesadaran semua anak bangsa, akan pentingnya keutuhan NKRI. Natsir telah berhasil mengembalikan persatuan dan kesatuan NKRI dengan cara-cara yang sangat terhormat dan bermartabat. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Mosi Integral Natsir, merupakan prestasi gemilang dan monumental yang pernah dicapai oleh parlemen Indonesia.
Dalam kehidupan politik, dapat meneladani pemikiran, sikap dan tindakan Natsir sebagai seorang demokrat. Dalam sistem multi partai yang ada pada saat itu, ketika Natsir menjadi Perdana Menteri, sikap-sikap seorang demokrat dan negarawan dikedepankan, untuk menjaga keutuhan dan persatuan. Sejarah kemudian mencatat, bahwa jatuh bangunnya pemerintahan, pada saat usia pemerintahan masih sangat muda, telah mengajarkan tentang pentingnya kearifan, norma, etika dan moral yang tinggi dalam berpolitik. Sesungguhnya, dalam era keterbukaan dan demokrasi sekarang ini, selayaknya juga menampilkan sikap politik yang saling menghormati dan saling menghargai, sebagaimana dicontohkan oleh Mohammad Natsir.
Pun mencatat, di dalam perjalanan sejarah bangsa, telah terjadi penilaian yang berbeda terhadap peran Natsir, namun harus tetap jernih, obyektif, dan jujur dalam membaca catatan sejarah Natsir. Dengan cara itu, akan dapat memperoleh informasi yang akurat dan komprehensif tentang sejarah Natsir pada dimensi sejarah yang tepat.
Natsir adalah tokoh penting menjelang dan setelah kemerdekaan diproklamasikan. Ketokohannya dalam perjuangan, pemerintahan, dan kemasyarakatan cukuplah monumental. Penampilan sosoknya menjadi lebih lengkap setelah ditambah dengan kesederhanaannya. Beberapa kali disaksikan orang, bajunya ditambal. Sebagai tokoh, Natsir tingkah lakunya arif dengan segala kecendekiawanannya. Pemahamannya mengenai agama dan nasionalisme menjadikan Natsir sosok yang selalu diingat sebagai tonggak sekitar waktu kemerdekaan. Itulah yang menjadi pelajaran dan menjadi suatu idola bagi pendukung dan juga tentu masyarakat yang mengenangnya.
Memang zaman sudah berubah. Kesederhanaan kurang tampil pada zaman sekarang. Namun kesederhanaan Natsir masih sangat layak menjadi suri teladan, sebab kesederhanaannya tidak berdiri sendiri melainkan dilengkapi dengan pikiran yang jauh ke depan dan ketundukannya pada ajaran agama Islam. Watak, pemikiran, dan langkah Natsir sudah cukup dikenal. Pemikirannya sudah banyak dibaca, misalnya dalam kumpulan tulisannya yang sudah dibukukan, yaitu Capita Selecta.
Natsir berpikiran sangat demokratis, apalagi pada zaman pemerintahan parlementer. Pada waktu pemerintahan parlementer, pemerintahan cepat sekali jatuh dan berganti. Natsir menjadi Perdana Menteri hanya sekitar tujuh bulan, tetapi telah menjalankan tugasnya dengan baik. Sulit membayangkan kabinet hanya bertahan tujuh bulan atau setahun, terus menerus serah terima jabatan.
Karena Natsir orang yang demokratis, sulit membayangkan kenapa dia tiba-tiba masuk ke Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia, PRRI, yang saat itu dikatakan sebagai pemberontakan. Jika tidak ada PRRI, Natsir juga tidak perlu masuk hutan. Masalahnya, waktu itu Soekarno melanggar, dan tidak ada yang bisa mengatakan kalau dia melanggar. Namun demikian itu juga adalah bagian dari sejarah yang tentunya menjadi pelajaran untuk semuanya. Setelah itu Natsir lebih dikenal di luar negeri daripada di dalam neger. Biasanya banyak orang menghubungi Natsir untuk mendapatkan rekomendasi belajar di Timur Tengah, karena nama Natsir cukup disegani di sana.
Tak pelak, Mohammad Natsir adalah pemimpin bangsa pada zamannya dan juga panutan untuk semua. Ini menjadi pelajaran, menjadi suatu hal yang mungkin mengembalikan roh Natsir sebagai seorang pemimpin yang tetap perlu dikenang. Pemimpin itu harus menjadi teladan, harus menjadi contoh yang demokratis. Orang bisa berbeda ideologi, orang bisa berbeda pandangan. Tetapi secara pribadi tidak, kekeluargaan tetap baik. Hal itu agak jarang ditemukan pada zaman sekarang.
Natsir hidup, hidup pribadinya sederhana dan jauh dari kecintaan terhadap harta benda dia tidak mau menghabisi orang-orang yang tak sepaham dengannya dengan menghalalkan segala cara. Dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam pergaulan politik dia tetap menjalin persahabatan walaupun dia sering berbeda pendapat dengan tokoh lain bahkan perbedaannya sedemikian tajam karena menyangkut dimensi ideologi dan keyakinan. Natsir berpolitik selalu dengan kata-kata sopan dan sepantasnya tanpa menimbulkan ketersinggungan pribadi. Tidak mengherankan jika di Gedung Parlemen pada 1950-an, Natsir duduk di kantin dan mengobrol sambil minum kopi dan tertawa bersama DN Aidit, tokoh PKI. Padahal semua orang tahu pendirian dan pandangan kedua tokoh ini ibarat bumi dengan langit satu dengan yang lain hampir tidak ada titik temunya.
Dari Mohammad Natsir belajar bagaimana memimpin bangsa ini dengan tulus. Dan dengan caranya, pemikiran-pemikiran Natsir menjadi abadi. Bagaimana mempersatukan bangsa, salah satunya dengan Mosi Integral. Apa yang kurang dari Natsir dijadikan catatan supaya tidak terulang lagi. Aka tetapi, sebagai pribadi dan pemimpin, Natsir dijadikan sebagai teladan bagi semua orang.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia)
Baca juga: Menziarahi Roehana Koedoes Tokoh Pers Perempuan Indonesia
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....