Menziarahi Roehana Koedoes Tokoh Pers Perempuan Indonesia

  • 24 Des 2025 08:38 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: SITI Roehana adalah perempuan kelahiran Kotogadang, Minangkabau, Sumatera Barat. Ia anak pertama dari Moehamad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Lahir pada 20 Desember 1884, bersamaan 14 Shafar 1303, petang Ahad malam. Roehana memiliki lima saudara kandung dari satu ibu, dan 20 saudara dari lima istri lain ayahnya. Rasjad menikah kembali setelah Kiam, ibu Roehana, meninggal dunia.

Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia, adalah saudara Roehana dari lain ibu, Rabiah istri lain Rasjad. Baik Roehana maupun Sjahrir, bersambung saudara dengan Agus Salim, politisi senior tokoh gaek dan diplomat ulung. Ketiganya berasal dari salah satu jalur matrilineal tertua di Kotogadang, keturunan Datuk Nagari dari puak Kato. Kakek Roehana dan Agus Salim adalah dua bersaudara anak dari Datuk Nagari.

Ayah Roehana yang berprofesi sebagai jaksa adalah pelaku rantau, kerapkali karena tugas ia harus berpindah tempat tinggal. Mulai Alahan Panjang, Padang Panjang, Simpang Tonang Talu (Pasaman), Jambi, kembali ke Padang Panjang, balik lagi ke Jambi dan terakhir berlabuh di Kota Medan. Beruntung, selaku putri pertama dan juga sebagai anak tertua, Roehana berkesempatan mengikuti ayahnya merantau semenjak berumur 10 bulan hingga 13 tahun. Saat ibunya meninggal, Roehana mesti kembali ke Kotogadang mengasuh adik-adiknya. Roehana terbilang dekat dengan ayahnya, ia sering dijuluki saudara-saudaranya “Roehana anak ayah”, karena dianggap anak kesayangan.

Sedari kecil dia gemar membaca buku dan surat kabar, menulis, serta berlatih sulam terawang. Semua dikuasainya dalam tempo yang cepat, sekalipun tanpa bersekolah formal bahkan beberapa dipelajarinya secara otodidak. Kelebihan Roehana kian mencolok saat ia berani menjadi guru kecil bagi anak perempuan sebayanya dan juga yang usianya di atas dia.

Usaha menggeluti sekolah terus dijalaninya hingga ia menikah pada umur 24 tahun pada 1908. Roehana dinikahkan dengan seorang aktivis Insulinde, sebuah organisasi politik nonkooperatif terhadap kolonial Belanda, Abdoel Koedoes gelar Pamoentjak Soetan, anak dari Sutan Dinagari Laras Hoofd IV Koto. Koedoes bergiat sebagai notaris independen, aktif menulis di Tjahaja Soematera dan sepenuhnya menyokong aktivitas yang digeluti Roehana. Keduanya tidak sudi untuk bekerjasama dengan kolonial Belanda. Dan kedua suami istri ini pula yang kerap melancarkan kritik pedasnya melalui tulisan terhadap pemerintah jajahan.

Meski Roehana sudah berumah tangga, ia tetap aktif mengurus sekolah, sekalipun fitnah dan tekanan terhadap usahanya memajukan kaum perempuan terbebas dari belenggu kukungan kian gencar. Bahkan suami istri Roehana dan Koedoes dimata-matai dengan tuduhan menanamkan sikap menentang kolonial Belanda. Dan pada 1911, setelah meninggalkan Kotogadang lalu pulang ke Maninjau dan Padang Panjang, Roehana kembali ke Kotogadang. Di sinilah pada 11 Februari 1911 ia bersama suaminya mendirikan perkumpulan Kerajinan Amai Setia.

Tak hanya memajukan kaumnya lewat pendidikan, Roehana kian intens di dunia pers. Kepada Datuk Sutan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe, suatu hari Roehana berkirim surat. Dan apresiasi yang diberikan Datuk Sutan Mahardja dengan menemui Roehana di Kotogadang, terbitlah surat kabar perempuan bernama Soenting Melajoe, pada 10 Juli 1912. Roehana didapuk sebagai pemimpin redaksi, dan redaktur pelaksananya Zubaidah Ratna Juwita yang tak lain adalah anak dari Datuk Sutan Maharadja. Mereka memiliki koresponden di Betawi dan Semarang. Soenting Melajoe beredar luas, tak hanya di kawasan Minangkabau dan Sumatera saja, namun hingga di Jawa. Memang, sebelum Soenting Melajoe sudah ada pers perempuan yang terbit, Poetri Hindia yang diprakarsai RM Tirto Adhi Soerjo.

Dalam usia sembilan tahun penerbitannya, karena alasan kesibukan para redaksi, pada 1921, Soenting Melajoe tutup penerbitan. Meski demikian, Roehana tetap meneruskan karir jurnalistiknya, ia terus menulis di Saudara Hindia yang terbit di Kotogadang. Belakangan, mengikuti suaminya Roehana merantau ke Medan. Di sana ia terus bergiat sebagai seorang guru di sekolah Dharma Putra, dan sejak edisi Juni 1919, terus menulis di Perempuan Bergerak.

Surat kabar Perempuan Bergerak ini berjejaring internasional masa itu, koran ini menjalin kedekatan dengan Europesche Vrouwen en Juffvroum, atau forum istri-istri dan wanita lajang Eropa yang memberikan kabar serta arus pergerakan feminisme di Eropa. Bersama media ini pula, Roehana meneriakkan dengan lantang perjuangan hak suara bagi perempuan, suatu emansipasi, yang saat itu sedang nyaring gaungnya.

Di usia 88 tahun, saat bangsa Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaannya, 17 Agustus 1972, Roehana Koedoes tutup usia. Roehana sempat terpinggirkan dalam pusaran besar sejarah bangsa Indonesia. Namun siapa bisa mengingkari jasa besar dan perjuangan serta pengorbanan Roehana dalam andil mempersembahkan kemerdekaan bangsanya. Roehana berpulang, bangsa Indonesia mengenangnya. Di pemakaman umum Karet Bivak Jakarta, di situlah ia dikebumikan.

Pada akhir pekan pertama Desember 2025 lalu, penulis mengkhususkan diri berziarah ke pusara tokoh emansipasi perempuan dari ranah Minang untuk Indonesia itu. Makamnya terjaga baik dan dipelihara sempurna, meski terkesan kurang terawat. Kijing pekuburannya masih seperti saat awal pemakamannya, belum ditata sebagaimana pusara lainnya tak berhingga banyaknya. Alfatiha Ibunda Roehana Koedoes ...

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....