Relawan Gempur Sukadana Salurkan Logistik Langsung ke Titik Api
- 02 Okt 2026 15:47 WIB
- Pontianak
Poin Utama
- Kisah Relawan GEMPUR salurkan bantuan
- Kabupaten Kayong Utara
- Pengalaman Relawan GEMPUR
RRI.CO.ID, Pontianak - Relawan Gerakan Pulihkan Rimba dan Budaya (Gempur) Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, memilih menyalurkan bantuan logistik secara langsung ke titik kebakaran lahan dan hutan. Langkah ini dilakukan berdasarkan pengalaman di lapangan, agar bantuan makanan dan minuman benar-benar diterima oleh para pemadam yang berada di lokasi.
Relawan Gempur Sukadana, Sakinah, mengatakan tim logistik awalnya memang difokuskan untuk membantu kebutuhan tim pemadam kebakaran. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bantuan logistik terkadang tidak sampai langsung kepada petugas yang berada di titik api.
“Karena banyaknya pengalaman-pengalaman kami di lapangan, bahwa logistik makan minum itu tidak sampai ke pemadamnya langsung. Makanya kami memutuskan untuk langsung ke titik apinya, langsung naik bukit, langsung kasih ke mereka yang di atas,” ujar Sakinah, di Pontianak, Jumat, 2 Oktober 2026.
Sakinah menceritakan salah satu pengalamannya ketika menerima permintaan bantuan dari warga pada tengah malam. Saat itu, seorang warga menghubunginya dan menyampaikan bahwa hanya tiga orang yang sedang berupaya memadamkan api di lokasi, sementara kobaran api cukup besar.
Meski dirinya merupakan relawan logistik dan bukan bagian dari tim pemadam, Sakinah memutuskan untuk datang ke lokasi sekaligus mencari bantuan tambahan. Sakinah kemudian menuju posko dan membawa sejumlah perlengkapan, seperti respirator, sepatu bot, minuman, makanan ringan, serta senter kepala sebelum berangkat menuju lokasi kebakaran.
Sesampainya di lokasi, Sakinah bersama tim membantu memenuhi kebutuhan para pemadam. Salah satu kendala yang dihadapi saat itu adalah bahan bakar untuk pompa air yang habis di tengah perjalanan.
“Di tengah jalan, bensin mereka habis. Tengah malam itu juga langsung cari bensin, gedor rumah orang yang jual bensin. Kami minta tolong karena pompa kami kehabisan,” tuturnya.
Menurut Sakinah, kondisi kebakaran di kawasan Bukit Peramas saat itu cukup mengkhawatirkan. Api terlihat menyebar dan membentuk lingkaran di bagian atas bukit.
Tim kemudian berupaya membasahi area yang belum terbakar untuk mencegah api bergerak turun. Namun, upaya pemadaman terkendala tekanan pompa yang tidak cukup hingga menyebabkan bagian sambungan pompa mengalami kerusakan.
“Pompanya ke atas, tapi tekanannya tidak cukup. Akhirnya airnya balik dan sambungannya pecah, jadi tidak bisa hidup lagi,” ucapnya
Karena kondisi peralatan yang rusak dan kobaran api semakin besar, tim akhirnya memilih turun dari lokasi sebelum fajar. Keputusan tersebut juga mempertimbangkan keselamatan relawan dan pemadam yang berada di tengah kawasan perbukitan.
Sakinah mengatakan saat itu suara pohon-pohon yang tumbang mulai terdengar akibat terbakar. Kondisi tersebut dinilai berisiko karena pohon yang tumbang dapat menutup jalur evakuasi mereka.
“Kami posisinya di tengah bukit, tengah pohon. Takutnya nanti pohonnya tumbang yang kena api, menutup jalan kami keluar. Malah lebih bahaya lagi,” katanya, mengakhiri.
Baca juga: Prediksi Musim Hujan 2026/2027, Pemprov Kalbar Perkuat Kesiapsiagaan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....