Tim Norjemah Pihtar Untan Dapat Dukungan Pengembangan Penerjemah Bahasa Serawai

  • 09 Sep 2026 22:02 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Norjemah Pihtar Universitas Tanjungpura (Untan) melakukan audiensi dengan Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, Kalimantan Barat untuk mempresentasikan inovasi penerjemah suara Bahasa Dayak Serawai Ambalau dan Bahasa Indonesia.

Dalam audiensi tersebut, tim memperkenalkan prototipe Norjemah Pihtar yang dikembangkan sebagai perangkat penerjemah suara dua arah secara real-time dan offline. Inovasi tersebut ditujukan untuk membantu komunikasi sekaligus mendukung pelestarian Bahasa Dayak Serawai Ambalau melalui pemanfaatan teknologi digital.

Wakil I DAD Kota Pontianak, Alexandra Djaoeng menyambut baik inovasi yang dikembangkan mahasiswa Untan tersebut. Ia menyatakan DAD Kota Pontianak memberikan dukungan terhadap pengembangan Norjemah Pihtar dan meminta tim untuk terus menginformasikan perkembangan inovasi tersebut kepada DAD.

“Alat ini sangat bagus. Kami dari Dewan Adat Dayak Pontianak sangat mendukung penuh pengembangan inovasi ini. Apa pun itu pasti kami dukung untuk tim yang menciptakan dan mengembangkan alat ini. Intinya nanti informasikan ke DAD kita,” ujar Alexandra, Rabu, 9 September 2026.

Dukungan terhadap pengembangan Norjemah Pihtar tersebut juga sejalan dengan dukungan Ketua Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat terhadap upaya pengembangan dan pelestarian bahasa serta budaya Dayak melalui inovasi mahasiswa.

Menurut Alexandra, Bahasa Dayak Serawai Ambalau termasuk bahasa yang cukup sulit dipahami sehingga pengembangan alat penerjemah tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan pelestarian bahasa daerah.

“Bahasa Dayak Serawai Ambalau ini termasuk bahasa Dayak yang memang agak sulit, jadi sangat relevan dengan inovasi yang kalian kembangkan ini. Luar biasa ini, saya kasih jempol,” katanya.

Ia juga berharap ke depan tersedia penerjemah digital yang dapat membantu menerjemahkan berbagai bahasa daerah yang cukup sulit dipahami. Menurutnya, inovasi semacam Norjemah Pihtar tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga dapat mendukung pengembangan budaya, komunikasi di daerah, serta pelestarian bahasa dan budaya Dayak.

“Harapan kita memang agar ada penerjemah digital yang bisa menerjemahkan bahasa-bahasa daerah yang terbilang cukup sulit dipahami,” ujar Alexandra.

Alexandra juga membuka peluang untuk memperkenalkan Norjemah Pihtar dalam kegiatan atau pameran yang berkaitan dengan budaya Dayak. Ia menyebut perangkat tersebut dapat diperkenalkan sebagai hasil karya mahasiswa yang mengembangkan alat penerjemah digital untuk mendukung budaya dan bahasa daerah.

“Saya juga bisa nanti kalau ada Gawai Dayak ini akan saya buat pameran di sana. Nanti disampaikan bahwa ini adalah hasil mahasiswa kita yang membuat alat penerjemah digital, tujuannya untuk pengembangan budaya, alat komunikasi di daerah, dan pelestarian bahasa dan budaya juga,” katanya.

Alexandra mengatakan DAD Kota Pontianak terbuka untuk mendiskusikan bentuk dukungan yang dapat diberikan terhadap pengembangan Norjemah Pihtar. Ia juga mendorong tim untuk membawa inovasi tersebut kepada pihak-pihak lain guna memperoleh dukungan setelah perangkat selesai dikembangkan.

“Ini kami dukung dari DAD. Apa yang bisa kami bantu nanti sampaikan saja. Apabila setelah alat ini selesai dibuat, nanti kita sama-sama bawa alat ini ke pihak mana pun untuk meminta dukungan,” ujarnya.

Ia menilai pengembangan inovasi mahasiswa seperti Norjemah Pihtar merupakan sesuatu yang bernilai dan perlu terus didorong. Alexandra juga meminta tim untuk tetap bersemangat dalam mengembangkan inovasi tersebut.

“Intinya semangat, jangan minder dan jangan mikir yang tidak-tidak untuk ke depannya,” katanya.

Baca juga: Mahasiswa UNTAN Kembangkan WALL-INSPECT, Alat Deteksi Retakan Dinding Berbasis AI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....