Satgas Penyuluh Karhutla TNI Dorong Perubahan Perilaku Warga Cegah Karhutla
- 02 Sep 2026 13:12 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Satgas Penyuluh Karhutla Mabes TNI mendorong perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Ketua Tim Satgas Penyuluh Karhutla Mabes TNI Wilayah Kota Pontianak, Brigjen TNI Hari Mulyanto, menyampaikan hal tersebut dalam Dialog Khusus RRI Pontianak, Rabu, 2 September 2026.
Hari mengatakan, pencegahan karhutla tidak cukup hanya dengan mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting melalui pendekatan soft power.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita mengubah mindset masyarakat. Jangan sampai kebiasaan yang selama ini dianggap biasa justru menjadi sumber masalah,” ujar Hari.
Salah satu kebiasaan yang menjadi perhatian adalah “mambong”, yakni mengumpulkan sampah kemudian membakarnya. Satgas mendorong masyarakat mengubah kebiasaan tersebut dengan mengolah sampah organik menjadi kompos.
“Kita dorong masyarakat supaya sampah tidak dibakar, tetapi dibuat kompos. Selain lebih menguntungkan, kompos juga bisa menyuburkan tanah,” katanya.
Upaya edukasi tersebut diperkuat dengan patroli rutin untuk menjangkau dan mengecek lokasi secara berkala. Langkah ini dilakukan agar potensi titik api dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
“Jangan sampai kita baru bergerak setelah api sudah besar. Patroli dilakukan untuk melihat langsung kondisi di lapangan,” jelas Hari.
Hari menegaskan, karhutla yang berulang setiap tahun tidak akan selesai jika hanya mengandalkan pemerintah dan aparat. Dibutuhkan komitmen bersama dari seluruh lapisan masyarakat.
“Karhutla ini tidak mungkin selesai kalau hanya dilakukan oleh satu pihak. Harus ada komitmen bersama dari masyarakat, pemilik lahan, pemerintah daerah, dan seluruh unsur yang ada,” tegasnya.
Perhatian khusus juga diberikan terhadap lahan gambut. Hari mengingatkan, permukaan gambut yang terlihat hijau belum tentu terbebas dari potensi kebakaran di bagian bawah.
“Lahan gambut yang kelihatannya hijau belum tentu aman. Di bawahnya bisa saja masih ada bara atau kondisi kering yang memungkinkan api menjalar,” ungkapnya.
Selain itu, kondisi kemarau dapat memengaruhi ketersediaan air, termasuk akibat intrusi air laut atau rob yang membuat air menjadi payau hingga asin.
Hari meminta pemilik lahan kosong atau lahan tidur memiliki rasa tanggung jawab terhadap kondisi lahannya. Lahan yang tidak terurus berpotensi menjadi sumber kebakaran dan berdampak kepada lingkungan sekitar.
“Pemilik lahan harus punya sense of security. Jangan merasa karena lahannya kosong kemudian tidak perlu diurus,” ujarnya.
Untuk mengatasi keterbatasan sumber air, terutama di lokasi yang minim parit, Satgas mendorong pembuatan sumur melalui pengeboran. Dukungan pemadam kebakaran swasta juga dinilai penting untuk memperkuat penanganan di lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....