Desa Sungai Besar Bergerak Hadapi Ancaman ‎Karhutla

  • 13 Agt 2026 20:00 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID,Pontianak - Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, menunjukkan langkah nyata ‎dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Melalui kegiatan pengabdian kepada ‎masyarakat yang digelar pada Kamis, 9 April 2026, warga, pemerintah desa, akademisi, dan berbagai unsur ‎pendukung duduk bersama untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla di kawasan gambut yang rawan ‎terbakar.

‎Kegiatan bertema “Edukasi Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan dalam Mendukung Pengelolaan ‎Lingkungan yang Berkelanjutan dan Pemetaan Partisipatif Kerentanan Kebakaran Hutan dan Lahan sebagai ‎Dasar Penguatan Desa Siaga Api” ini digelar oleh Universitas Tanjungpura Pontianak, Fakultas Teknik,

‎Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Sasaran utamanya adalah meningkatkan kesadaran ‎masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi antar pihak dalam mencegah kebakaran yang setiap tahun mengintai wilayah tersebut

Ancaman Serius di Lahan Gambut

‎Desa Sungai Besar bukan tanpa alasan dipilih sebagai lokasi kegiatan. Wilayah ini berada di kawasan ‎dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla, terutama karena karakteristik lahan gambut yang ‎mudah terbakar saat kondisi kering. kebakaran lahan bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga ‎berdampak pada kesehatan, ekonomi, dan hubungan sosial masyarakat.

‎Perangkat desa juga menegaskan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di satu titik. Api bisa meluas ke ‎desa-desa sekitar, seperti Sungai Pelang, Sungai Bakau, dan Pematang Gadung, yang semuanya berada ‎dalam lanskap gambut dengan risiko kebakaran tahunan. Bahkan, kebakaran sudah terdeteksi sejak awal ‎Maret di salah satu desa di kawasan tersebut.

‎Dalam sambutannya, Sekertaris Desa, Rismanto menilai kegiatan ini penting sebagai upaya bersama untuk meminimalkan potensi kebakaran. Masyarakat Peduli Api, Bhabinkamtibmas, BPD, tokoh masyarakat, ‎hingga ibu-ibu desa ikut disebut sebagai bagian penting dari barisan pencegahan di tingkat akar rumput.

Ketua pelaksana kegiatan, Anthy Septianti ST.MT menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya hadir ‎sebagai pemberi materi, tetapi juga sebagai mitra yang membantu masyarakat membaca persoalan ‎lingkungan secara ilmiah. Salah satu tujuan penting kegiatan ini adalah pemetaan partisipatif, yaitu memadukan pengetahuan warga dengan pendekatan akademik untuk menghasilkan strategi mitigasi yang lebih tepat sasaran.

‎Dari Edukasi ke Aksi Lapangan

Kegiatan tidak berhenti pada sosialisasi di aula desa. Dalam pemaparan materi, para narasumber ‎menjelaskan bahwa pencegahan karhutla harus dilakukan melalui kerja teknis dan kerja sosial sekaligus.

‎Perwakilan Tropenbos Indonesia, Mulyadi memaparkan pentingnya tata kelola hidrologis gambut, ‎termasuk pembangunan sekat kanal, patroli bersama, dan penguatan kapasitas masyarakat.

Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Sungai Besar, Masturi kemudian menyoroti pentingnya pemantauan ‎tinggi muka air tanah sebagai indikator kerawanan kebakaran. Semakin dalam posisi muka air gambut, ‎semakin besar risiko api menjalar. Karena itu, sumur pantau dipasang di titik-titik strategis untuk ‎membantu warga memantau kondisi lahan secara rutin.

‎Sementara itu, Bhabinkamtibmas, Wawan Hadiansyah menegaskan bahwa pencegahan karhutla tidak bisa diserahkan pada satu lembaga saja. Masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat menjadi tantangan

‎tersendiri, apalagi jika ada yang masih membuka lahan dengan cara membakar. Dalam sesi ini juga

‎disampaikan bahwa kebakaran pada bulan Maret sempat mencapai sekitar 4 hektare, menjadi pengingat ‎bahwa ancaman karhutla masih sangat nyata.

‎Perempuan dan Warga Ikut Ambil Peran.

‎Kegiatan ini juga memberi ruang bagi suara perempuan melalui The Power of Mama (TPOM). ‎Perwakilannya menyampaikan bahwa perempuan adalah kelompok yang paling merasakan dampak karhutla, mulai dari ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan keluarga. Karena itu, dukungan lintas pihak ‎dinilai sangat penting agar upaya pencegahan bisa berjalan berkelanjutan.

‎Pada sesi pemetaan partisipatif, warga lalu menandai lokasi-lokasi yang dianggap rawan kebakaran di atas ‎peta. Proses ini menjadi momen penting karena pengetahuan masyarakat lokal dapat langsung ‎diterjemahkan menjadi data awal untuk penguatan strategi pencegahan di tingkat desa.Langkah Kecil, Dampak Besar ‎Kegiatan di Desa Sungai Besar memperlihatkan bahwa menghadapi karhutla tidak cukup dengan

‎pemadaman saat api muncul. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran, memperkuat koordinasi, dan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam menjaga lingkungan.

‎Dari edukasi hingga pemetaan partisipatif, semua rangkaian kegiatan mengarah pada satu tujuan: menjadikan desa lebih siap, lebih waspada, dan lebih tangguh menghadapi musim kemarau serta ancaman ‎kebakaran lahan gambut. Jika pola kolaborasi seperti ini terus diperkuat, maka langkah menuju desa siaga ‎api bukanlah hal yang mustahil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....