BMKG Kalbar Gelar Pelatihan SLI-SLCN Bagi Petani dan Nelayan di Desa Sungai Purun

  • 08 Agt 2026 21:37 WIB
  •  Pontianak
Poin Utama
  • Sekolah Lapang Iklim dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan
  • BMKG Kalbar
  • Komisi V DPR RI

RRI.CO.ID, Mempawah – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat menggelar Pembukaan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), Sabtu pagi, di Kantor Desa Sungai Purun Kecil, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi masyarakat, khususnya petani dan nelayan, dalam memahami informasi iklim dan cuaca sebagai dasar untuk menentukan langkah adaptasi terhadap perubahan kondisi cuaca.

Anggota Komisi V DPR RI, Yuliansyah, menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan SLI Tematik dan SLCN. Menurutnya, pelatihan yang diberikan BMKG sangat penting karena dapat membantu petani dan nelayan memahami informasi cuaca dan iklim yang berkaitan langsung dengan aktivitas mereka.

“Saya sebagai anggota DPR RI selalu support dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, termasuk SLI tematik untuk para petani dan juga SLCN untuk para nelayan. Pelatihan-pelatihan ini sangat bermanfaat, ilmu ini sangat penting bagi para petani maupun para nelayan,” ujar Yuliansyah.

Yuliansyah berharap para peserta dapat mengikuti seluruh materi dengan baik dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mendukung aktivitas mereka sehari-hari.

Yuliansyah juga menegaskan Komisi V DPR RI akan terus mendorong penguatan sinergi dengan BMKG agar kegiatan literasi dan pelatihan terkait cuaca maupun iklim dapat semakin diperluas di Kalimantan Barat.

“Sebagai anggota DPR RI, kita sebagai mitra BMKG akan support kegiatan ini, semakin banyak lagi pelatihan-pelatihan yang bisa didapat, khususnya di Kalimantan Barat,” katanya.

Sementara itu, Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, mengatakan pelaksanaan SLI dan SLCN merupakan bagian dari upaya BMKG membantu masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim. Menurutnya, perubahan iklim yang terjadi saat ini menuntut masyarakat untuk semakin memahami informasi cuaca dan iklim, terutama sektor pertanian dan perikanan yang sangat bergantung pada kondisi alam.

“Kami juga melakukan kegiatan BMKG dalam konteks adaptasi iklim. Saat sekarang ini iklim juga berubah, sehingga kita harus beradaptasi. Dukungan dari anggota Dewan untuk meningkatkan kegiatan literasi kepada publik ini menjadi peran yang sangat penting,” jelas Marjuki.

Marjuki menambahkan, kondisi musim kemarau tahun ini perlu menjadi perhatian masyarakat karena bersamaan dengan aktivitas El Nino. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi curah hujan sehingga musim kemarau dapat terasa lebih panas dan kering.

“Dalam konteks saat sekarang ini, musim kemarau kita bersamaan dengan aktifnya El Nino. Tentunya akan mengurangi curah hujan, jadi musim kemarau kita akan menjadi lebih panas, lebih kering,” ungkapnya.

Selain itu, El Nino juga berpotensi memperpanjang musim kemarau karena dapat menunda datangnya awal musim hujan. Jika secara umum hujan mulai terjadi pada Oktober, kondisi tahun ini diperkirakan dapat mengalami kemunduran.

“Musim kemarau juga akan menjadi lebih panjang karena El Nino ini menunda kehadiran awal musim hujan. Yang biasanya Oktober secara umum sudah hujan, ini mungkin nanti Oktober mundur, bisa 20 hari atau 30 hari,” pungkas Marjuki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....