Ekspor Alumina Kalbar Kembali Bergulir, Kijing Disiapkan Direct Call

  • 07 Agt 2026 18:46 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Ekspor alumina dari Kalimantan Barat kembali bergulir setelah pemerintah menyelesaikan kendala regulasi yang sempat menghambat pengiriman.

Pelepasan ekspor komoditas Alumina Hydroxide dan Alumina Oxide oleh PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) berlangsung di Pelabuhan Dwikora, Pontianak, Jumat, 7 Agustus 2026. Pelepasan ekspor ini menjadi penanda kembali lancarnya ekspor produk hilirisasi mineral dari Kalimantan Barat.

Prosesi pelepasan ekspor dipimpin Kepala Staf Kepresidenan RI, Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, bersama Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan dan sejumlah pejabat pemerintah serta BUMN.

Kepala Staf Kepresidenan RI, Dudung Abdurachman, mengatakan pelepasan ekspor ini menjadi bukti pemerintah bergerak cepat menyelesaikan kendala regulasi yang sempat menghambat ekspor alumina. Perbedaan interpretasi mengenai ketentuan logam tanah jarang telah disepakati melalui koordinasi lintas kementerian sehingga aktivitas ekspor dapat kembali berjalan.

Menurut Dudung, penyelesaian tersebut berdampak langsung pada terbitnya 85 laporan surveyor yang sebelumnya tertunda. Lebih dari 100 kapal ekspor kini kembali beroperasi mengangkut hampir 400 ribu ton komoditas mineral senilai sekitar 124 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp2,2 triliun, sekaligus menjaga keberlangsungan ribuan tenaga kerja di sektor pertambangan, pelabuhan, hingga logistik.

Kepala Staf Kepresidenan RI, Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, memimpin pelepasan ekspor komoditas Alumina Hydroxide dan Alumina Oxide PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) di Pelabuhan Dwikora, Pontianak, Jumat (7/8/2026), dengan menekan tombol sirene sebagai simbol kembali lancarnya ekspor produk hilirisasi mineral dari Kalimantan Barat (Foto : RRI/Harmanta).

Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, mendorong percepatan operasional penuh Terminal Kijing sebagai pelabuhan internasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengatasi keterbatasan alur pelayaran akibat pendangkalan di muara Sungai Kapuas yang selama ini memengaruhi aktivitas ekspor melalui Pelabuhan Dwikora.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Kalbar juga meminta dukungan pemerintah pusat dalam penataan pertambangan emas tanpa izin agar dapat dikelola secara legal dan memberikan kontribusi bagi penerimaan negara maupun pendapatan daerah.

Direktur Komersial PT Pelindo, Farid Padang, mengatakan ekspor komoditas alumina hydroxide dan aluminum oxide dari PT Indonesia Chemical Alumina kini kembali berjalan lancar setelah kendala regulasi berhasil diselesaikan melalui koordinasi dengan pemerintah. Saat ini, sekitar 1.000 boks produk alumina diekspor setiap bulan ke Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan India.

Untuk menjaga kelancaran aktivitas ekspor, Pelindo terus mempertahankan kedalaman alur Pelabuhan Pontianak hingga lima meter melalui pengerukan (dredging) secara berkala. Langkah ini dilakukan agar kapal-kapal pengangkut ekspor tetap dapat beroperasi dengan aman tanpa terganggu pendangkalan alur pelayaran.

Farid menambahkan, Terminal Kijing juga tengah dipersiapkan menjadi pelabuhan ekspor utama di Kalimantan Barat. Bulan depan, Pelindo akan mendatangkan dua unit Rubber Tyred Gantry (RTG) dan dua Quayside Crane (QC) dari Medan untuk meningkatkan kapasitas bongkar muat peti kemas.

Selain itu, Terminal Kijing ditargetkan mulai melayani kapal direct call dari Tiongkok pada bulan depan. Pelindo juga akan memindahkan sebagian aktivitas pengguna jasa dari Pelabuhan Pontianak ke Terminal Kijing secara bertahap. Menurut Farid, langkah tersebut akan mempercepat proses ekspor, menekan biaya logistik, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat daya saing komoditas unggulan Kalimantan Barat di pasar global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....