Karhutla Kalbar Capai 38.310 Hektare, Kini Tersisa 200 Hektare

  • 08 Sep 2026 13:47 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang melanda sejumlah wilayah. Dari sekitar 38.310 hektare lahan yang terdampak kebakaran, kini tersisa sekitar 200 hektare yang masih dalam penanganan.

Gubernur Kalbar Ria Norsan mengatakan, penanganan karhutla menjadi salah satu persoalan utama yang dibahas bersama para bupati dan wali kota se-Kalbar dalam Rapat Kerja Gubernur dengan Bupati/Wali Kota se-Kalbar Tahun 2026 di Aula Garuda Kantor Gubernur Kalbar. Menurut Norsan, penanganan karhutla dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, brigade pemadam kebakaran, relawan, mahasiswa, serta seluruh elemen masyarakat.

“Indikasi luasan yang terbakar kurang lebih 38.310 hektare. Dan sekarang Alhamdulillah tinggal kurang lebih 200 hektare lahan kita yang masih terbakar,” kata Norsan, Selasa, 8 September 2026.

Ia menyebut, jumlah titik api juga mengalami penurunan signifikan. Dari sebelumnya mencapai lebih dari 2.000 titik, kini berdasarkan pemantauan terakhir tersisa sekitar 156 titik api.

Penurunan tersebut, menurut Norsan, merupakan hasil kerja keras dan koordinasi lintas sektor dalam melakukan pemadaman di berbagai wilayah Kalimantan Barat. “Alhamdulillah dengan kerja keras kita bersama-sama, kita kompak, bupati, wali kota se-Kalimantan Barat bersama TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, brigade pemadam kebakaran dan seluruh stakeholder,” ujarnya.

Meski demikian, Gubernur menegaskan upaya pemadaman dan pemantauan harus terus dilakukan karena sejumlah wilayah masih mengalami kebakaran, terutama daerah yang belum mendapatkan hujan. Ia menyebut hujan telah turun di beberapa wilayah seperti Sambas dan Ketapang. Namun, sejumlah kawasan lain masih membutuhkan penanganan karena kondisi kebakaran belum sepenuhnya berakhir.

Selain dampak lingkungan, karhutla juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat. Hingga 5 September 2026, tercatat 734 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dalam data yang disampaikan Gubernur. Norsan meminta seluruh kepala daerah tetap memperkuat koordinasi dalam penanganan karhutla, termasuk melindungi masyarakat dari dampak buruk kabut asap.

Penanganan karhutla di Kalbar, kata dia, membutuhkan kerja bersama seluruh pihak agar api tidak kembali meluas dan kualitas udara dapat segera membaik. Data luas lahan terbakar sekitar 38.310 hektare juga tercatat dalam laporan penanganan karhutla awal September 2026.

Baca juga: Krisis Air Bersih, AWC Polres Kubu Raya Jadi Armada Distribusi Air Siap Konsumsi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....