Kolaborasi PASTI Bangun SDM Unggul lewat Pencegahan Stunting

  • 05 Agt 2026 21:05 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kolaborasi antara dunia usaha, organisasi kemanusiaan, dan pemerintah dinilai menjadi kunci dalam mempercepat penurunan stunting di Indonesia. Melalui Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI), berbagai pihak memperkuat intervensi berbasis masyarakat untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Kepala Kantor Cabang Utama (KCU) BCA Pontianak, Suriyanto Daniel, mengatakan keterlibatan BCA dalam Program PASTI merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan perusahaan melalui Bakti BCA. Menurutnya, pembangunan ekonomi yang kuat di masa depan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang dibentuk sejak usia dini.

"Melalui Bakti BCA, kami berkomitmen untuk turut berkontribusi di bidang kesehatan. Pengembangan sumber daya manusia harus dimulai sejak dini. Jika SDM kita berkualitas, maka perekonomian Indonesia ke depan juga akan semakin kuat. Karena itu, kami mendukung berbagai upaya yang mampu melahirkan generasi sehat dan berkualitas," ujar Suriyanto saat Donor Visit Program PASTI di Kabupaten Kubu Raya, Rabu, 5 Agustus 2026.

Ia menegaskan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat diperlukan agar setiap anak memperoleh akses terhadap gizi, layanan kesehatan, dan pengasuhan yang optimal sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

Senada dengan itu, Program Director Wahana Visi Indonesia (WVI), Eben Ezer Sembiring, mengatakan Kabupaten Kubu Raya dipilih sebagai lokasi pelaksanaan Program PASTI karena masih tingginya jumlah anak yang berisiko mengalami stunting. Selain itu, program tersebut sejalan dengan komitmen WVI sebagai organisasi kemanusiaan yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan anak.

"Anak-anak yang paling rentan adalah mereka yang berusia nol hingga lima tahun, khususnya bayi di bawah dua tahun yang berisiko stunting. Karena itu kami ingin memastikan mereka memiliki kesempatan tumbuh dengan gizi yang baik sehingga dapat terhindar dari risiko stunting," katanya.

Menurut Eben, salah satu capaian penting Program PASTI adalah terbentuknya desa model yang memperkuat kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam pencegahan stunting. Pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, tokoh agama, tokoh adat, hingga remaja dilibatkan dalam mengidentifikasi keluarga berisiko dan menyusun langkah intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Berbeda dengan program serupa, lanjut Eben, Program PASTI tidak hanya berfokus pada pemberian intervensi gizi, tetapi juga membangun sistem pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Pendekatan tersebut diwujudkan melalui penguatan Pos Gizi DASHAT di 20 desa dan kelurahan, pelatihan Tim Pendamping Keluarga (TPK), edukasi kepada orang tua, serta pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi keluarga.

Program ini juga memperluas edukasi kepada remaja melalui pelatihan bagi 33 Duta Generasi Berencana (GenRe) sebagai pendidik sebaya yang kemudian menjangkau 460 remaja usia 15–19 tahun mengenai pencegahan anemia, kesehatan reproduksi, dan kesiapan membangun keluarga sehat. Di sisi lain, kapasitas Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di tingkat desa dan kecamatan turut diperkuat agar perencanaan program semakin berbasis data.

Kunjungan para mitra pendanaan ke Kubu Raya juga menampilkan berbagai inovasi masyarakat, mulai dari kebun gizi, budidaya ayam petelur, demonstrasi pengolahan pangan lokal bergizi, hingga pertunjukan edukatif mengenai pencegahan perkawinan anak. Praktik-praktik tersebut diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai upaya membangun sistem pencegahan stunting yang berkelanjutan, kolaboratif, dan berpusat pada pemberdayaan masyarakat.

Manfaat Program PASTI juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Wasyiatul (26), salah seorang ibu baduta peserta Pos Gizi DASHAT di Kubu Raya, mengaku memperoleh banyak pengetahuan mengenai penyusunan menu bergizi berbasis pangan lokal. Ia belajar mengolah bahan pangan seperti tempe, daun singkong, dan sayuran menjadi menu yang lebih bervariasi sehingga anak lebih lahap makan. Dampaknya, berat badan anaknya mengalami peningkatan setelah mengikuti program tersebut. Sementara itu, Ivana (41), ibu hamil yang tergolong berisiko Kurang Energi Kronis (KEK), mengaku mendapatkan edukasi mengenai kesehatan kehamilan, pemantauan perkembangan janin, hingga pengolahan makanan bergizi yang membantu meningkatkan kondisi kesehatannya selama kehamilan.

Program Manager PASTI, Hotmianida Panjaitan, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti akses terhadap pangan bergizi, edukasi, dan tingginya angka perkawinan usia anak. Karena itu, Program PASTI dirancang untuk membangun sistem pencegahan yang melibatkan seluruh unsur masyarakat, mulai dari keluarga, kader kesehatan, pemerintah desa, dunia usaha, hingga generasi muda. Melalui kolaborasi tersebut, para mitra berharap praktik baik yang telah berkembang di Kabupaten Kubu Raya dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai model percepatan penurunan stunting yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....