Tim PKM-RSH Untan Gali Perspektif ABK tentang Banjir
- 05 Agt 2026 21:29 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Perspektif anak berkebutuhan khusus terhadap fenomena banjir menjadi fokus penelitian yang dilakukan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Tanjungpura (Untan) di SLB C Dharma Asih Pontianak pada 3–4 Agustus 2026. Melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR), penelitian ini berupaya menggali pengalaman, pemaknaan, serta cara anak-anak mengekspresikan fenomena banjir yang kerap terjadi di Kota Pontianak.
Tim PKM-RSH yang beranggotakan Riski Purnomo, Lyra Diva Selnya, Manja Afiyanti, Kevin Dwiky Rafaell, dan Raffi Nugraha ini dibimbing oleh Budi Utomo, S.P.W.K., M.P.W.K. Penelitian yang mereka lakukan berjudul "Suara Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Memaknai Fenomena Banjir Melalui Pendekatan Participatory Action Research" dan berfokus pada pemahaman, pengalaman, serta pemaknaan anak berkebutuhan khusus dengan karakteristik tunagrahita dan tunarungu/wicara terhadap fenomena banjir.
Ketua tim, Riski Purnomo, mengatakan ide penelitian tersebut berangkat dari kondisi Kota Pontianak yang kerap mengalami banjir. Menurutnya, selama ini perspektif anak berkebutuhan khusus masih jarang menjadi bagian dari kajian kebencanaan, padahal mereka juga memiliki pengalaman dan cara pandang tersendiri terhadap bencana tersebut.
"Kami ingin menempatkan ABK sebagai subjek. Dalam artian bukan sebagai objek gitu, kami mau mereka ini sebagai subjek jadi setara gitu posisinya sama peneliti. Jadi kami ingin berdiskusi dengan mereka gitu gimana cara mereka mengekspresikan banjir, kayak gimana pengalaman mereka," ujar Riski.
Sebelum pelaksanaan penelitian, tim terlebih dahulu melakukan observasi di sekolah untuk membangun komunikasi dengan para siswa sekaligus mengenalkan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan. Selanjutnya, para siswa diajak mengikuti berbagai aktivitas partisipatif, seperti mengenal penyebab dan dampak banjir, menggambarkan pengalaman mereka terkait banjir, membuat montase mengenai penyebab dan penanganan banjir, hingga memetakan lokasi yang pernah terdampak banjir menggunakan peta sederhana.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, tim memperoleh berbagai perspektif mengenai cara anak-anak memaknai banjir. Menurut Riski, para peserta mampu menyampaikan pengalaman dan pemahaman mereka berdasarkan sudut pandang masing-masing.
"Mereka bisa mendeskripsikan banjir menurut perspektif mereka tuh seperti apa, terus mereka juga bisa menyebutkan gitu kayak menjelaskan apa yang mereka pahami tentang banjir," katanya.
Selain memperoleh berbagai perspektif mengenai banjir, tim juga mengamati tingginya kepedulian antar siswa selama kegiatan berlangsung. Mereka saling membantu teman yang mengalami kesulitan bergerak maupun berkomunikasi tanpa harus diminta. Tim juga menemukan bahwa setiap anak memiliki pengalaman dan pemaknaan yang berbeda terhadap banjir.
Ada yang mengaku merasa takut ketika banjir datang, ada pula yang melihat banjir sebagai kesempatan bermain air. Meski demikian, mereka memahami bentuk banjir, penyebabnya, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika banjir terjadi.
Melalui penelitian ini, tim berharap hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menyusun program penanganan banjir yang lebih inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pendidik, pendamping, dan keluarga dalam menyusun strategi edukasi kebencanaan yang lebih mudah dipahami, sekaligus memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian komunikasi kebencanaan yang inklusif.
Baca juga: Prodi Manajemen Untan Perkuat Wirausaha Perbatasan Lewat KKM
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....