Dosen Untan Bangun Mini Studio Digital untuk Pemuda Tuli Pontianak

  • 05 Agt 2026 18:08 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak — Tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura (Untan) menghadirkan mini studio konten digital ramah disabilitas bagi pemuda Tuli anggota West Borneo Deaf Community (WBDC) di Sungai Bangkong, Kota Pontianak. Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Kegiatan yang diketuai oleh Arman Jaya, S.Pd.I., M.M., bersama anggota tim Dody Pratama Marumpe, S.Pd., M.M., dan Anggun Permata Husda, S.E., M.Acc. ini turut melibatkan lima mahasiswa Untan, yaitu Pink Calista Angelique, Stevany Marsela, Rudoli Sinaga, dan Zulfan Nur Fahlevi dari Program Studi Manajemen, serta Ardella Mela Asyara dari Program Studi Bimbingan dan Konseling. Program ini menyasar 18 anggota aktif WBDC berusia 17–30 tahun.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi program, dilanjutkan dengan empat pelatihan yang didampingi Juru Bahasa Isyarat (JBI) pada setiap sesi, yaitu pelatihan soft skill kerja, pelatihan literasi keuangan dasar, pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan mini studio konten digital, serta pelatihan pengelolaan media sosial dan produksi konten digital. Seluruh pelatihan dirancang dengan pendekatan visual dan praktik langsung agar dapat diikuti secara optimal oleh peserta Tuli.

Sebagai wujud penerapan teknologi tepat guna, tim pengusul juga membangun satu unit mini studio konten digital ramah disabilitas di sekretariat WBDC, dilengkapi smart TV, tata pencahayaan, mikrofon, serta perangkat produksi lainnya, dan ditata senyaman mungkin agar mendukung proses belajar. Studio ini menjadi ruang belajar sekaligus sarana produksi bagi anggota WBDC untuk berlatih membuat konten digital secara mandiri, sehingga dapat menghasilkan portofolio kerja yang layak dipublikasikan maupun digunakan sebagai bukti kompetensi.

Tim juga menjalankan pendampingan berkelanjutan bagi anggota WBDC dalam produksi konten, pengelolaan media sosial, dan penggunaan mini studio secara mandiri.

Ketua WBDC, Yusi Aprilia, menyambut baik kehadiran fasilitas ini. Ia menilai program tersebut membuka ruang bagi anggotanya untuk mengembangkan potensi produksi konten digital secara lebih terarah dan profesional, sekaligus memperluas peluang mereka mengakses dunia kerja dan ekonomi kreatif berbasis digital.

Arman Jaya menjelaskan bahwa program ini menyasar penguatan kesiapan kerja pemuda Tuli sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan.

Tim pengusul menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Ditjen Risbang atas dukungan pendanaan program ini, serta kepada Universitas Tanjungpura, khususnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untan dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, atas dukungan penuh dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Program diharapkan dapat berkelanjutan dan dikelola secara mandiri oleh komunitas WBDC sebagai pusat kreativitas pemuda Tuli di Kalimantan Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....