BMKG: Hotspot Kalbar Diprediksi Memuncak pada Agustus-September 2026
- 05 Agt 2026 18:05 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak memprediksi jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat akan terus meningkat sepanjang Agustus hingga September 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi musim kemarau yang lebih panjang, curah hujan yang rendah, serta pengaruh fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori kuat.
Ahli Madya BMKG Supadio Pontianak, Sutikno, mengatakan berdasarkan pemantauan citra satelit, sejak Januari hingga awal Agustus 2026 telah terdeteksi ribuan hotspot di Kalimantan Barat. Kabupaten Ketapang masih menjadi wilayah dengan akumulasi titik panas terbanyak sepanjang tahun, sementara dalam satu bulan terakhir Kabupaten Sanggau mencatat jumlah hotspot tertinggi.
"Kalau melihat pola dari tahun-tahun sebelumnya, puncak hotspot hampir selalu terjadi pada Agustus atau September. Juli saja sudah mencapai sekitar 9.000 titik panas, sehingga Agustus dan September berpotensi lebih tinggi lagi karena curah hujan diprediksi masih dominan rendah," ujar Sutikno dalam program Kentongan RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, Kabupaten Ketapang menjadi salah satu daerah yang perlu mendapat perhatian khusus karena hingga awal Agustus telah mengalami 34 hari tanpa hujan. Kondisi tersebut menyebabkan vegetasi semakin kering dan meningkatkan potensi munculnya titik panas maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Sutikno, BMKG memperkirakan musim kemarau tahun ini akan berlangsung hingga akhir September, bahkan berpotensi berlanjut sampai awal atau pertengahan Oktober. Kondisi ini dipicu oleh fenomena El Nino yang diprediksi dapat mencapai kategori sangat kuat, serupa dengan kondisi pada tahun 2015.
"Prediksi kami kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih kering dibanding beberapa tahun sebelumnya. Karena itu seluruh pihak perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla," katanya.
Selain meningkatnya hotspot, BMKG juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi penurunan kualitas udara. Asap dari kebakaran lahan di Kalimantan Barat maupun kiriman dari wilayah lain, termasuk Kalimantan Tengah, berpotensi memengaruhi Kota Pontianak dan sekitarnya seiring dominannya arah angin dari tenggara hingga selatan.
Meski demikian, Sutikno menyebut koordinasi lintas instansi dalam penanganan karhutla saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Hal itu diharapkan mampu mencegah dampak yang lebih besar seperti terganggunya aktivitas penerbangan maupun proses belajar mengajar.
"Kami berharap walaupun hotspot meningkat, penanganan di lapangan tetap maksimal sehingga dampaknya tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Bandara tetap beroperasi dan aktivitas masyarakat dapat berjalan normal," ujarnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau, mulai dari menjaga ketersediaan air bersih, memperhatikan kualitas udara, hingga tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
"Kami menyampaikan informasi ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai bentuk kewaspadaan. Pastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi seperti BMKG atau RRI agar tidak terpengaruh hoaks," tutup Sutikno.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....