Konservasi Alam Butuh Peran Bersama, BKSDA Kalbar Ajak Masyarakat Peduli
- 03 Agt 2026 18:11 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Upaya menjaga kelestarian alam tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan, pembalakan liar, hingga perburuan satwa, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem bagi generasi mendatang.
Hal tersebut disampaikan Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Dian Setyaningsih, dalam program Green Radio RRI Pontianak, Sabtu, 1 Agustus 2026. Menurutnya, konservasi alam merupakan upaya melindungi dan mempertahankan sumber daya alam agar tetap lestari dan mampu menopang kehidupan masyarakat saat ini maupun di masa depan.
"Konservasi alam adalah upaya bagaimana kita melindungi dan mempertahankan sumber daya alam agar berkesinambungan, sehingga dapat menjadi penyangga kehidupan bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang," ujar Dian.
Ia menjelaskan, BKSDA Kalimantan Barat mengelola 13 kawasan konservasi yang terdiri dari cagar alam dan taman wisata alam yang tersebar di sejumlah kabupaten. Selain itu, lembaganya juga bertugas mengawasi peredaran tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi.
Dian mengungkapkan, saat ini tantangan terbesar dalam menjaga kawasan konservasi adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan akibat musim kemarau panjang. Berdasarkan kondisi cuaca yang dipengaruhi fenomena El Nino, jumlah titik panas di Kalimantan Barat sempat mencapai hampir seribu titik, termasuk di kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan, Kabupaten Ketapang.
"Kondisi sekarang memang memasuki puncak musim kemarau. Karena itu kita harus sama-sama menjaga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar yang akhirnya menimbulkan kebakaran hutan," katanya.
Selain kebakaran hutan, ancaman lain yang masih menjadi perhatian adalah praktik illegal logging dan perburuan satwa liar. Untuk mengurangi ancaman tersebut, BKSDA Kalbar terus melakukan berbagai program edukasi, di antaranya Visit to School dan School Visit, yang mengenalkan pentingnya menjaga hutan, tumbuhan, dan satwa liar sejak usia dini.
Menurut Dian, pendidikan konservasi penting dilakukan agar generasi muda memahami bahwa mencintai satwa liar bukan berarti memeliharanya, melainkan menjaga mereka tetap hidup di habitat aslinya. Jika masyarakat menemukan satwa liar di permukiman, ia mengimbau agar segera melaporkannya kepada petugas BKSDA agar dapat dievakuasi dan dilepasliarkan kembali.
BKSDA Kalbar juga menggandeng masyarakat adat di sekitar kawasan konservasi untuk memperkuat perlindungan satwa liar. Salah satunya dilakukan di kawasan Cagar Alam Gunung Niut, Kabupaten Landak, dengan memasukkan larangan berburu satwa dilindungi ke dalam aturan adat setempat.
Selain itu, masyarakat juga dapat berkontribusi melalui langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik, menghemat air dan listrik, menanam pohon, serta membuang sampah pada tempatnya. Menurut Dian, perubahan perilaku masyarakat menjadi tantangan terbesar dalam upaya konservasi.
"Tantangan terbesar kami adalah mengubah perilaku dan pola pikir masyarakat agar memiliki semangat konservasi. Langkah kecil yang kita lakukan hari ini merupakan napas kehidupan bagi esok hari," tuturnya.
Menjelang peringatan Hari Konservasi Alam Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus, Dian mengajak seluruh masyarakat Kalimantan Barat menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab bersama sekaligus wujud cinta terhadap Indonesia. Ia berharap kepedulian terhadap alam terus tumbuh agar hutan, satwa liar, dan sumber daya alam tetap terjaga untuk dinikmati oleh generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....