Wujudkan Masjid Jadi Penggerak Ekonomi dan Pusat Pemberdayaan Ummat

  • 24 Jul 2026 16:18 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, dan Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, sepakat mendorong masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembinaan ummat, pelayanan sosial, dan penggerak ekonomi masyarakat. Komitmen tersebut disampaikan dalam Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pontianak Tahun 2026, di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Jum'at, 24 Juli 2026.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, DMI Kota Pontianak telah memiliki kepengurusan hingga tingkat kecamatan yang selama ini aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan di masjid. Namun, menurutnya, peran masjid sebagai pusat pembinaan ummat, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi masih perlu terus diperkuat.

"Harapan kita, masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat pembinaan ummat, ekonomi, dan lain sebagainya. Ini memang masih belum optimal kita rasakan," ujarnya.

Edi mengungkapkan, Kota Pontianak memiliki 347 masjid dan hampir 600 mushala. Jumlah tersebut dinilai menjadi potensi besar apabila dikelola melalui program-program yang kreatif, inovatif, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Menurutnya, potensi ekonomi yang dimiliki masjid sangat besar. Jika dikelola secara terkoordinasi, masjid dapat menjadi kekuatan dalam mendorong pemberdayaan ekonomi ummat.

"Potensi ekonomi di masjid itu sebenarnya sangat besar. Kalau ini kita koordinir dan kembangkan, bisa menjadi kekuatan ummat Islam, terutama dalam pemberdayaan ekonomi," katanya.

Ia menilai pengelolaan dana ummat secara produktif dapat menciptakan kekuatan ekonomi yang signifikan. Karena itu, DMI diharapkan membangun sinergi dengan lembaga keuangan syariah maupun berbagai pihak terkait agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

Selain aspek ekonomi, Edi juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan masjid kepada masyarakat, mulai dari peningkatan kapasitas imam, takmir, hingga pengurus masjid.

"Program ke depan yang bisa kita implementasikan adalah meningkatkan kualitas pelayanan masjid kepada masyarakat, termasuk kualitas imam dan takmir," ucapnya.

Edi turut menyoroti perlunya percepatan sertifikasi tanah wakaf dan aset masjid agar memiliki kepastian hukum. Ia menambahkan, Pemerintah Kota Pontianak setiap tahun mengalokasikan dana hibah sekitar Rp2 miliar hingga Rp2,5 miliar untuk mendukung pembangunan dan rehabilitasi masjid, serta mulai memberikan perhatian terhadap pembangunan fisik madrasah tradisional.

"Kita sekarang juga fokus menangani madrasah-madrasah secara fisik, karena madrasah sangat penting untuk SDM masyarakat," ujarnya.

Ia berharap Musda DMI menjadi momentum menyusun program-program yang lebih implementatif serta menjadi ruang bagi pengurus masjid menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di wilayah masing-masing.

"DMI Kota harus berusaha membuat program yang implementatif, kreatif, dan memberi dampak positif, terutama bagi perekonomian umat dan jamaah," katanya.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengapresiasi dedikasi pengurus DMI sebelumnya yang dinilai telah bekerja maksimal dalam memakmurkan masjid di Kota Pontianak.

"Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pengurus Dewan Masjid yang telah berlalu, yang telah berkiprah semaksimal mungkin. Mudah-mudahan apa yang dilakukan menjadi ladang amal di kemudian hari," katanya.

Menurut Ria Norsan, keberhasilan pengurus masjid tidak hanya diukur dari aspek administrasi, tetapi juga sejauh mana masjid mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

"Kita berbicara masjid tidak hanya mengurus sebagai pengurus saja, tetapi yang paling penting bagaimana masjid itu bisa makmur. Artinya, masyarakat di sekitarnya terpengaruh oleh apa yang kita lakukan di dalam masjid tersebut," ujarnya.

Ia menegaskan, masjid harus menjadi pusat berbagai aktivitas keagamaan, pendidikan, sosial, hingga pemberdayaan ekonomi ummat. Sehingga masjid mampu menghadirkan berbagai program sosial, misalnya pelayanan musafir, sedekah, hingga unit usaha yang menopang kegiatan masjid.

"Masjid bukan hanya tempat beribadah saja, tetapi tempat kegiatan umat. Kita bisa mengadakan pengajian, pembinaan ummat, kegiatan sosial, bahkan pemberdayaan ekonomi masyarakat," katanya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya peran marbot dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid agar masyarakat semakin betah beribadah.

"Marbot memegang peranan penting. Masjid yang bersih, indah, tempat wudhunya nyaman dan toiletnya bagus akan membuat masyarakat senang datang ke masjid," katanya.

Ria Norsan juga mengungkapkan harapannya setelah dipercaya menjadi Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi Kalimantan Barat. Ia berharap amanah tersebut menjadi jalan memperoleh petunjuk dari Allah SWT.

"Saya berharap dengan menjadi Ketua Dewan Masjid Indonesia Kalimantan Barat, mudah-mudahan saya mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Itu harapan saya," ucapnya.

Menutup sambutannya, Ria Norsan mengajak seluruh pengurus DMI memperkuat persatuan dan menjadikan Musda sebagai momentum melahirkan program-program yang mampu memakmurkan ratusan masjid di Kota Pontianak.

"Bukan masalah menang atau kalah dalam musyawarah ini, tetapi bagaimana kita memberdayakan masyarakat untuk memakmurkan masjid. Mudah-mudahan musyawarah hari ini membawa gagasan demi masjid-masjid di Kota Pontianak yang semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," katanya, mengakhiri.

Baca juga: DMI Kota Pontianak Gelar Musda Bahas Program dan Pilih Pengurus Baru

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....