Instruktur Astra Tekankan Fokus Bukan Stigma saat Berkendara
- 23 Jul 2026 11:07 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Fenomena pengendara yang menyalakan lampu sein ke kiri namun berbelok ke kanan, yang kerap dikaitkan dengan istilah "emak-emak sein kiri belok kanan" di media sosial, dinilai tidak bisa digeneralisasi hanya kepada pengendara perempuan. Perilaku tersebut lebih dipengaruhi oleh hilangnya fokus saat berkendara.
Instruktur Safety Riding Astra Kalimantan Barat, Febri Andrian, mengatakan pengendara perempuan umumnya lebih mudah terbawa berbagai pikiran ketika berada di jalan. Kondisi tersebut dapat mengurangi konsentrasi sehingga berpotensi memicu kesalahan saat berkendara.
"Sebenarnya ketika berkendara, yang lupa sein kiri belok kanan itu bukan cuma emak-emak, terkadang pengendara lain juga kadang lupa. Maka dari itu, untuk wanita tetap harus menjaga emosi dan tetap fokus ketika berkendara. Saat lagi sedih, marah ataupun gembira, kita harus tetap fokus dan cari aman," kata Febri, usai Sosialisasi Safety Riding di RRI Pontianak, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurutnya, keselamatan berkendara bergantung pada kemampuan setiap pengendara menjaga konsentrasi, terlepas dari jenis kelamin. Karena itu, stigma yang berkembang di media sosial sebaiknya tidak dijadikan dasar untuk menghakimi kelompok tertentu.
Febri menambahkan Astra Kalimantan Barat secara rutin menggelar edukasi keselamatan berkendara bagi perempuan, terutama bertepatan dengan peringatan Hari Kartini setiap April. Kegiatan tersebut menyasar ibu rumah tangga hingga mahasiswa agar semakin memahami pentingnya budaya berkendara yang aman.
"Biasanya pada bulan April, saat Hari Kartini, kami mengundang wanita-wanita, mulai dari ibu-ibu sampai mahasiswa agar mereka paham keselamatan berkendara. Keselamatan berkendara bukan hanya penting bagi laki-laki, tetapi juga bagi wanita," ujarnya.
Febri mengatakan edukasi keselamatan berkendara yang dilakukan Astra Kalimantan Barat terbukti meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai prinsip safety riding. Hal itu terlihat dari hasil evaluasi yang dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan sosialisasi.
"Kalau dilihat dari hasil pre-test dan post-test, sebelum sosialisasi tingkat pemahaman masyarakat tentang keselamatan berkendara berada di kisaran 70 hingga 79 persen. Setelah mengikuti sosialisasi, angkanya meningkat menjadi 90 sampai 98 persen," ujar Febri.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan edukasi keselamatan berkendara masih menjadi langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga diharapkan mampu menekan risiko kecelakaan akibat kelalaian maupun kurangnya konsentrasi saat berkendara.
Baca juga: Astra Motor Kalbar Gencarkan Kampanye #CariAman Tekan Kecelakaan
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....