SDN 52 Sungai Raya Bangunan Rusak, Siti Mahruf: Kursi Kami dari SD Lain!
- 15 Jul 2026 15:17 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Kubu Raya - Kondisi bangunan SD Negeri 52 Sungai Raya di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, memprihatinkan. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan, mulai dari tiang penyangga yang lapuk, plafon jebol, hingga fasilitas belajar yang tidak layak digunakan. Di sisi lain, sekolah tersebut juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hampir setiap tahun mengintai.
Saat dikunjungi pada Selasa, 14 Juli 2026, salah satu tiang penyangga dinding terlihat telah keropos dan terputus di bagian bawah sehingga membuat struktur bangunan menjadi rapuh. Kerusakan juga tampak pada plafon ruang kelas yang jebol dan memperlihatkan rangka atap kayu serta lembaran seng di atasnya.
Kondisi ruang belajar semakin memprihatinkan karena perabotan yang digunakan merupakan meja dan kursi bekas dari sekolah lain.
Guru sekaligus Bendahara SDN 52 Sungai Raya, Siti Mahruf, mengatakan fasilitas tersebut merupakan barang lungsuran yang diberikan setelah sekolah lain memperoleh perabot baru.
"Ini kursi kami dari SD lain. Barang-barang lama SD 23. Ketika mereka mendapat meja dan kursi baru, yang lama diberikan ke sekolah ini," ujarnya.
Selain fasilitas yang terbatas, ruang belajar juga dipisahkan menggunakan sekat triplek sederhana sehingga suara dari kelas yang bersebelahan saling terdengar dan mengganggu proses belajar mengajar.
"Biasa kalau lagi jelasin tidak dengar karena kelas sebelah sudah selesai mengerjakan tugas. Jadi sangat mengganggu," kata Siti.

Menurutnya, kondisi tersebut bermula ketika bangunan lama sekolah dirobohkan karena rusak parah, namun hingga kini belum dibangun kembali. Akibatnya, ruang kelas yang tersisa harus disekat untuk menampung seluruh siswa.
Minimnya jumlah peserta didik juga berdampak pada besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima. Kondisi itu membuat sekolah kesulitan melakukan perbaikan maupun pengadaan fasilitas.
| Baca juga: Rumah Warga Sungai Kakap Hangus Terbakar |
"Pembiayaan kami dari BOS berdasarkan jumlah murid. Untuk memperbaiki fasilitas sangat terbatas, bahkan mengecat meja dan kursi pun kami patungan dari guru," ungkapnya.
Kepala SDN 52 Sungai Raya, Dwi Mirawati, mengatakan sekolahnya juga berada di kawasan gambut yang rawan terdampak karhutla. Dalam dua tahun terakhir, api tercatat tiga kali mendekati area sekolah.
"Lahan di dekat sekolah memang daerah rawan karhutla. Yang terakhir terjadi saat 1 Syawal. Api sudah sangat dekat, hampir merambat ke ruang kepala sekolah, ruang guru, dan toilet," katanya.
Ia menjelaskan, saat kejadian tersebut dirinya bersama komite sekolah harus membawa mesin pompa air dan berjaga selama hampir dua hari untuk mencegah api merambat ke bangunan sekolah.
Selain ancaman kebakaran, kabut asap akibat karhutla juga pernah memaksa sekolah meliburkan siswa karena kondisi udara dinilai membahayakan kesehatan.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan ancaman karhutla yang terus membayangi, proses belajar mengajar di SDN 52 Sungai Raya tetap berlangsung. Para guru dan siswa berharap pemerataan pembangunan pendidikan dapat segera diwujudkan agar mereka dapat belajar dalam lingkungan yang aman dan layak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....