Perempuan di Industri Media: Antara Kesempatan, Pembuktian, dan Ruang Aman

  • 11 Jun 2026 17:29 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Keterlibatan perempuan dalam industri media di Kalimantan Barat terus menunjukkan perkembangan positif. Namun, tantangan terkait kesempatan kerja yang setara, stereotip gender, hingga kebutuhan akan ruang kerja yang aman masih menjadi perhatian. Hal tersebut disampaikan Maria, seorang jurnalis yang kini aktif sebagai Staf Media Program She Can PPSW Borneo, dalam program dialog Pengarusutamaan Gender dan Inklusi bertajuk "Suara Perempuan di Dunia Media" di RRI Pro 1 Pontianak.

Maria mengatakan kehadiran perempuan di dunia jurnalistik memberikan perspektif yang berbeda dan melengkapi sudut pandang yang ada di ruang redaksi. Menurutnya, perempuan sering kali memiliki kedekatan emosional yang memudahkan proses penggalian informasi di lapangan, terutama ketika berinteraksi dengan narasumber perempuan.

"Ada beberapa perspektif yang dipunyai teman-teman laki-laki, ada juga yang dipunyai perempuan, dan keduanya sama-sama menarik. Ketika di lapangan ketemu ibu-ibu, kita yang perempuan ini kalau ngobrol lebih nyambung. Jatuhnya bukan wawancara kaku, tapi kayak lebih bergosip sama ibu-ibu. Jadi informasinya dapat, tapi koneksinya juga dapat," ujarnya.

Meski jumlah jurnalis perempuan di Kalimantan Barat dinilai cukup banyak, Maria menyoroti masih terbatasnya keterlibatan perempuan dalam liputan mendalam maupun investigasi. "Untuk keterlibatan liputan seperti indepth ataupun investigasi, sebenarnya itu masih terbatas banget untuk perempuan. Aku bisa terlibat itu bukan karena didorong, tapi aku yang mendorong diriku sendiri. Aku harus membuktikan dulu kemampuanku seperti apa baru dilihat," katanya.

Menurut Maria, perempuan di ruang redaksi kerap harus bekerja lebih keras untuk memperoleh kepercayaan yang sama dibandingkan rekan laki-laki. Ia menilai masih ada anggapan bahwa tugas-tugas liputan berisiko tinggi lebih cocok diberikan kepada laki-laki.

Selain persoalan kesempatan kerja, Maria juga menyoroti pentingnya menciptakan ruang aman bagi pekerja media. Ia mengingatkan agar candaan yang berpotensi merendahkan atau membuat tidak nyaman tidak dianggap hal biasa.

"Kawan-kawan jangan menyepelekan hal-hal nonverbal atau ucapan dengan dalih bercanda. Karena bercanda itu ketika dua orang saling tertawa. Nah, ketika salah satunya tidak tertawa, harusnya itu bukan menjadi candaan dan tidak bisa dimaklumkan," katanya, menegaskan.

Ia juga mendorong pekerja media untuk berani melapor apabila mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan, baik berupa pelecehan verbal maupun nonverbal. Menurut Maria, kesadaran jurnalis perempuan saat ini semakin meningkat. Banyak yang mulai berani menyuarakan pengalaman mereka dan mencari dukungan melalui komunitas maupun organisasi profesi.

Di akhir dialog, Maria mengajak perempuan yang tertarik berkarier di dunia media untuk tidak ragu mengembangkan kemampuan, terutama keterampilan menulis dan komunikasi. Ia berharap industri media ke depan dapat menjadi ruang yang lebih inklusif, setara, dan aman bagi semua pekerja tanpa memandang gender.

"Mari kita jadikan media itu ruang yang nyaman dan aman untuk kita semua," katanya, mengakhiri.

Baca juga: Public Speaking dan Modeling Bantu Tingkatkan Kepercayaan Diri Anak sejak Dini

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....