Esensi Kurban, Ustadz Tri Wibowo: Esensi Terdalamnya adalah Menyembelih Ego
- 04 Jun 2026 20:58 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan ternak saat Hari Raya Idul Adha. Lebih dari itu, kurban merupakan momentum untuk menyembelih sifat egoisme, kesombongan, dan ketamakan yang ada dalam diri manusia.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustadz Tri Wibowo, M.Pd dalam program siaran "Mutiara Pagi" RRI Pro 1 Pontianak yang mengangkat tema "Esensi Kurban Menyembelih Sifat Ego dan Kesombongan Diri", Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Ustadz Tri Wibowo, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi pelajaran besar tentang ketaatan dan keikhlasan kepada Allah SWT.
"Hari raya kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan. Esensi terdalam dari ibadah kurban adalah menyembelih ego, ketamakan, dan sifat sombong yang ada dalam dada kita," ujar Ustadz Tri Wibowo.
Ia menjelaskan bahwa saat Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya yang sangat dicintai, Nabi Ismail AS, ujian terbesar yang dihadapi bukanlah kehilangan, melainkan membuktikan ketaatan mutlak kepada Allah.
Menurutnya, kurban juga menjadi pengingat bahwa seluruh harta, jabatan, dan kekayaan yang dimiliki manusia hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Sang Pencipta.
"Orang yang sombong merasa harta yang dimiliki adalah miliknya sendiri. Padahal semua hanyalah titipan. Yang kita bawa ke akhirat hanyalah amal kebaikan," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Tri Wibowo juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan ibadah kurban sebagai sarana pamer kekayaan atau mencari pujian manusia.
Ia mengutip Surah Al-Hajj ayat 37 yang menjelaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari orang yang berkurban.
"Jika motivasi kurban hanya untuk gengsi, ingin dipuji atau disebut orang kaya, maka nilai ibadahnya menjadi sia-sia. Allah melihat ketakwaan dan keikhlasan hati kita," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai pembagian daging kurban memiliki nilai sosial yang sangat tinggi karena mampu mempererat hubungan antarsesama tanpa membedakan status ekonomi maupun latar belakang.
"Melalui kurban, kita belajar berbagi kepada fakir miskin. Tidak ada lagi sekat antara yang kaya dan yang miskin. Semua sama di hadapan Allah SWT," ungkapnya.
Menanggapi pertanyaan pendengar mengenai orang yang mampu secara ekonomi namun belum berkurban, Ustadz Tri Wibowo mengimbau masyarakat agar mengajak dengan cara yang baik dan penuh hikmah.
Menurutnya, belum tentu seseorang yang mampu secara finansial telah mendapatkan panggilan hati untuk berkurban.
"Banyak orang kaya yang mampu, tetapi belum tentu Allah gerakkan hatinya untuk berkurban. Karena itu ajaklah dengan pendekatan hati ke hati, bukan dengan menghakimi," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi panitia kurban agar masyarakat semakin percaya dan terdorong untuk berpartisipasi.
Di akhir siaran, Ustadz Tri Wibowo mengajak umat Islam menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperbaiki diri dan meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT.
"Berbuatlah karena Allah, bukan karena manusia. Ketika kita berkurban dengan ikhlas, maka kurban itu akan menjadi kendaraan menuju pintu surga Allah Subhanahu wa Ta'ala," pungkasnya.
Ia berharap semakin banyak umat Islam yang mampu dan mau berkurban pada tahun-tahun mendatang sebagai bentuk syukur dan penghambaan kepada Allah SWT.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....