Ancaman Radikalisme Anak di Ruang Digital Kalbar Dinilai Mengkhawatirkan
- 07 Mei 2026 07:53 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat Tumbur Manalu, mengungkapkan tingginya ancaman paparan radikalisme dan kekerasan terhadap anak di ruang digital berdasarkan hasil survei nasional. Ia menyebut, hasil survei Badan Siber dan Sandi Negara bersama P3RS terkait peta perilaku pengguna ruang siber Indonesia menunjukkan Kalimantan Barat berada di atas rata-rata nasional dalam sejumlah indikator ancaman digital.
“Berdasarkan survei itu, perilaku ekstremisme kekerasan di ruang digital di Kalbar sudah mencapai 51 persen, sedangkan nasional 45 persen. Artinya kita sudah berada di atas angka nasional,” ujarnya, saat menjadi narasumber dialog ruang terbuka pro1 RRI Pontianak, Rabu 6 Mei 2026.
Selain itu, Tumbur mengatakan penyimpangan perilaku sosial akibat paparan ruang digital juga cukup tinggi. Bahkan, ancaman siber terhadap anak disebut sudah mencapai 44 persen.
“Muncul penyimpangan perilaku sosial, tingkat keterpaparannya sampai 57 persen dan ancaman cyber terhadap anak sudah 44 persen. Artinya ancaman itu ada, nyata dan faktanya sudah teruji,” katanya.
Menurutnya, fakta tersebut terlihat dari sejumlah kasus yang melibatkan anak berhadapan dengan hukum (ABH), termasuk kasus pelajar di Jakarta yang disebut terpapar paham radikal melalui ruang digital. Ia menambahkan, hasil penelusuran Densus 88 juga menemukan adanya sekitar 110 anak di Indonesia yang telah masuk dalam paparan paham radikalisme. Dari jumlah tersebut, Kalimantan Barat disebut turut menjadi perhatian.
“Yang lebih parah lagi, 110 itu diantaranya ada di Kalbar dan menunjukkan eksistensinya beberapa waktu lalu. Artinya apa yang disampaikan badan cyber itu linier dengan fakta di lapangan,” ungkapnya.
Tumbur menilai anak-anak sangat rentan meniru apa yang mereka lihat di media digital. Karena itu, pengawasan dan literasi digital dinilai menjadi hal penting untuk diperkuat oleh orang tua maupun lingkungan pendidikan.
“Ciri anak itu adalah meniru. Kita lihat survei hampir 40 persen masyarakat kita reaktif di dunia maya. Ada sedikit langsung di-share tanpa divalidasi. Anak-anak meniru apa yang dilihat, dan ketika melihat rasa ingin tahunya meningkat,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....