KPPAD Kalbar Dorong Remaja Pahami Batasan Sehat di Era Digital
- 11 Agt 2026 17:33 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Remaja perlu memahami batasan sehat dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari upaya melindungi diri, menjaga kesehatan mental dan fisik, serta mendukung proses tumbuh kembang yang aman. Pemahaman tersebut dinilai semakin penting di tengah tingginya penggunaan media sosial dan perangkat digital oleh anak dan remaja.
Komisioner KPPAD Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Nany Wirdayani, ST, SH, menjelaskan bahwa batasan sehat bukanlah bentuk pengekangan terhadap remaja, melainkan pagar yang membantu mereka mengenali ruang aman dalam berinteraksi dan mengambil keputusan.
“Batasan sehat itu adalah garis aman yang kita ciptakan atau kita buat untuk kita sebagai remaja atau sebagai sosok individu agar dihargai, kemudian dilindungi, terlindungi, dan bisa tumbuh kembang dengan baik,” ujar Nany, dalam dialog Pengarusutamaan Gender dan Inklusi, RRI Pro 1 Pontianak, Senin, 10 Agustus 2026.
Menurut Nany, terdapat sejumlah batasan sehat yang perlu dikenalkan kepada anak sejak dini. Di antaranya batasan fisik, waktu, emosional, digital, dan nilai. Pada batasan fisik, remaja perlu memahami bahwa tubuh mereka merupakan bagian yang harus dihargai dan dilindungi. Anak juga perlu dibekali keberanian untuk menolak sentuhan yang tidak diizinkan atau membuat mereka merasa tidak nyaman.
Sementara itu, batasan waktu berkaitan dengan kemampuan anak mengatur keseimbangan antara belajar, bermain, beribadah, beristirahat, dan aktivitas lainnya. Nany mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam membantu anak membangun kebiasaan mengelola waktu.
Untuk batasan emosional, remaja perlu memahami bagaimana menjaga perasaan serta memilih lingkungan pergaulan. Orang tua juga perlu mengajarkan anak untuk mengenali percakapan atau curhatan yang bersifat toksik dan berpotensi memengaruhi kondisi emosional mereka.
Salah satu batasan yang saat ini dinilai paling banyak menghadapi tantangan adalah batasan digital. Penggunaan media sosial dan perangkat digital yang tidak disertai pemahaman dan pengawasan dapat membuka berbagai risiko terhadap anak. Nany menyebut sejumlah persoalan yang dapat berawal dari aktivitas digital, mulai dari cyberbullying, online grooming, doxing hingga penyebaran konten yang seharusnya tidak dipublikasikan.
“Banyak sekali potensi atau indikasi kejahatan itu berawal entry point-nya dari media sosial,” katanya.
Ia mencontohkan, anak yang menerima pesan langsung atau direct message dari orang yang tidak dikenal perlu berhati-hati karena interaksi tersebut dapat berkembang menjadi tindakan yang merugikan, termasuk pelecehan seksual. Selain itu, anak juga perlu memahami konsekuensi ketika menggunakan kamera ponsel untuk merekam perkelahian, perundungan, atau kejadian lain yang seharusnya tidak disebarluaskan.
Menurut Nany, persoalan tersebut tidak cukup hanya diselesaikan dengan melarang anak menggunakan gawai. Orang tua harus memberikan pemahaman mengenai kapan, untuk apa, dan bagaimana perangkat digital digunakan secara aman.
Nany menilai kepekaan orang tua menjadi bagian penting dalam mendeteksi ketika anak mulai menghadapi persoalan atau mengalami pelanggaran batasan. Perubahan perilaku, anak yang tiba-tiba menjadi tertutup, mudah menangis, terlihat takut ditolak, atau menunjukkan kebiasaan yang berbeda dari biasanya dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
“Orang tua harus tahu kebiasaan-kebiasaan hari-hari anak,” ucapnya.
Karena itu, komunikasi antara orang tua dan anak perlu dibangun secara rutin. Nany menyarankan orang tua menyediakan waktu setidaknya 15 menit setiap hari untuk berkomunikasi dengan anak.
Komunikasi tersebut sebaiknya dilakukan melalui pertanyaan terbuka sehingga anak memiliki ruang untuk bercerita mengenai pengalaman yang dialaminya di sekolah maupun lingkungan pergaulan. Ia juga mengingatkan orang tua agar tidak menggunakan kekerasan ketika anak melakukan kesalahan.
“Ketika terjadi kesalahan bukanlah marah-marah itu sesuatu yang menyelesaikan masalah. Itu apalagi sampai memukul, menampar. Itu tidak menjadikan anak takut,” kata Nany menegaskan.
Sebaliknya, orang tua dianjurkan mendengarkan cerita anak sampai selesai, menghargai kejujurannya, kemudian memberikan nasihat dengan cara yang tidak keras dan tidak menggurui. Dalam membangun batasan sehat, remaja juga perlu memahami bahwa mereka merupakan individu yang memiliki perasaan, kebutuhan, serta hak untuk menyetujui atau menolak sesuatu.
Nany mencontohkan, ketika seorang teman meminjam uang sementara kondisi keuangan anak terbatas, anak perlu diajarkan cara menolak secara tegas tetapi tetap sopan. Hal yang sama berlaku ketika ada orang lain yang melakukan tindakan fisik yang membuatnya tidak nyaman. Anak harus memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak boleh dilakukan.
“Sampaikan kepada anak kita harus bisa menjawab dengan tegas. Jangan lakukan lagi bahwa itu adalah sesuatu yang tidak baik,” ujarnya.
Namun, batasan sehat juga tidak berarti seluruh aktivitas anak harus dikontrol secara berlebihan. Orang tua perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kewajiban, kebutuhan, bakat, dan minat anak.
Nany mencontohkan jadwal belajar dan kegiatan tambahan. Anak tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat dan menjalankan hobi agar tidak merasa terus-menerus berada dalam tekanan.
Nany mengingatkan anak yang mengalami pelanggaran batasan agar tidak memilih diam. Anak dapat terlebih dahulu bercerita kepada orang yang dipercaya, seperti orang tua, teman yang dapat dipercaya, guru, wali kelas, atau guru BK. Jika persoalan membutuhkan penanganan profesional, keluarga dapat mencari bantuan tenaga profesional maupun pihak berwenang.
“Yang pertama bisa sampaikan kepada teman yang dipercaya. Kemudian yang kedua tokoh, itu bisa guru, bisa orang tua, bisa wali kelas, bisa guru BK. Kemudian yang ketiga adalah tenaga profesional,” katanya, menjelaskan.
Ia menambahkan, orang tua juga perlu menjadi teladan bagi anak. Perilaku yang ditunjukkan orang tua di rumah dapat direkam dan ditiru anak hingga mereka dewasa.
Karena itu, membangun batasan sehat pada remaja bukan hanya tugas anak, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah, lingkungan, dan masyarakat. Nany berharap orang tua dapat terus membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak tidak takut mengakui kesalahan maupun menceritakan persoalan yang sedang dihadapinya.
“Ketika orang tua menemukan bahwa anak mereka telah melanggar batasan-batasan itu, yang pertama hargai kejujuran. Kedua dengarkan apa yang diceritakan oleh sang anak sampai selesai. Jangan dipotong,” katanya, mengakhiri.
Baca juga: KPPAD Kalbar: Anak Harus Terlindungi dari Kekerasan di Dunia Nyata dan Digital
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....