Perempuan dalam Moderasi Beragama, Peran Besar yang Sering Terlupakan
- 27 Apr 2026 15:10 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Peran perempuan sebagai agen moderasi beragama menjadi sorotan dalam program dialog TOSERBA (Topik Serba Ada) yang menghadirkan Sulimah Marni, Musrifah Pondok Quran Ismuhu Yahya. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya perempuan memiliki ilmu dan keterampilan sebagai bentuk melanjutkan semangat perjuangan Kartini di masa kini.
Marni menjelaskan bahwa makna Hari Kartini tidak hanya dipahami sebagai simbol emansipasi, tetapi juga dorongan bagi perempuan untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Menurutnya, perempuan masa kini dihadapkan pada tantangan untuk menjadi generasi penerus yang berilmu dan berdaya.
Dalam konteks moderasi beragama, Marni menilai perempuan memiliki peran strategis dalam membangun nilai-nilai toleransi, terutama dalam lingkup keluarga. “Perempuan punya peran khusus. Perempuan adalah madrasatul ula, pendidikan pertama dalam rumah tangga. Artinya saat kita memberikan pendidikan yang baik, ini akan menentukan masa depan anak dan bangsa,” ucapnya.
Ia juga membagikan perjalanan pribadinya hingga aktif di Pondok Quran Ismuhu Yahya. Marni mengaku proses tersebut dijalani dengan penuh semangat belajar, termasuk menempuh pendidikan ke berbagai kota untuk memperdalam ilmu agama.
Menurutnya, Pondok Quran mengajarkan keseimbangan dalam beragama, yakni bersikap bijak tanpa merendahkan pihak lain. Ia menegaskan bahwa dalam ajaran agama, setiap individu memiliki kedudukan yang sama sehingga sikap saling menghargai menjadi hal yang utama.
Marni turut menyoroti tantangan generasi muda dalam memahami moderasi beragama di tengah derasnya arus informasi. Ia menyebut kondisi tersebut dapat membuat anak muda terdistraksi dalam memahami tujuan hidup. “Banjir informasi membuat anak muda mudah terpengaruh, sehingga perlu kesadaran untuk terus belajar memahami,” katanya.
Sebagai solusi, ia mengajak generasi muda untuk mulai menerapkan nilai moderasi beragama melalui tindakan sederhana, seperti berbuat baik kepada sesama dan tidak merendahkan orang lain. Sikap tersebut dinilai menjadi cerminan nyata dari pemahaman beragama yang seimbang.
Menutup perbincangan, Marni menyampaikan harapannya bagi perempuan muda agar terus bersemangat dalam menuntut ilmu dan berkarya. “Ayo kita sama-sama belajar, benahi mulai dari diri kita untuk menjadi tonggak penerus perjuangan. Semangat mencari ilmu, berjuang untuk punya karya, dan menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.
Baca juga: Harapan Perempuan di Tengah Tekanan Sosial
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....