Harapan Perempuan di Tengah Tekanan Sosial

  • 24 Apr 2026 15:31 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Perempuan masa kini dinilai memiliki peluang yang semakin luas untuk berkembang, namun masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari diskriminasi hingga tekanan sosial di ruang digital. Hal itu dibahas dalam program TOSERBA Pro 2 RRI Pontianak yang disiarkan pada Senin, 20 April 2026, dengan menghadirkan Luvi Yulianto dari komunitas Family Research Centre of Borneo.

Dalam perbincangan tersebut, Luvi menegaskan bahwa perjuangan perempuan saat ini tidak lagi terbatas pada ruang domestik. Perempuan telah mampu mengambil peran di berbagai sektor, termasuk menjadi pemimpin. Namun, ia menilai kondisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kebebasan yang ideal.

“Perempuan sekarang memang sudah punya banyak kesempatan, tapi belum sepenuhnya merdeka. Masih ada diskriminasi, kekerasan, dan suara perempuan yang belum sepenuhnya didengar, terutama di lingkungan terdekat seperti keluarga,” ujarnya.

Ia juga menilai pentingnya dukungan lingkungan atau support system dalam membentuk kepercayaan diri perempuan. Menurutnya, tanpa dukungan yang sehat, perempuan akan kesulitan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

“Perempuan itu sebenarnya tidak rumit, mereka hanya ingin didengar, dihargai, dan punya ruang aman untuk menjadi diri sendiri,” tuturnya.

Fenomena di media sosial turut menjadi perhatian, di mana Luvi mengungkapkan bahwa perempuan kerap menghadapi komentar negatif yang berdampak pada kondisi mental hingga membuat mereka ragu berekspresi, karena niat sederhana untuk berbagi justru sering dibalas dengan respons yang memicu rasa takut dan overthinking.

Lebih lanjut, ia menilai standar kecantikan yang berkembang di media sosial juga menjadi tekanan tersendiri. Tidak sedikit perempuan yang merasa tidak percaya diri karena tidak memenuhi standar tersebut. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan pentingnya membangun solidaritas antar perempuan, baik di dunia nyata maupun digital, agar tercipta ruang yang lebih suportif dan inklusif.

Selain itu, isu keamanan perempuan juga menjadi sorotan. Luvi menekankan bahwa rasa aman merupakan hak dasar yang harus dimiliki setiap individu, terutama perempuan, baik di ruang publik maupun di dunia digital.

“Perempuan berhak hidup tanpa rasa takut, tanpa kekerasan, dan tanpa diskriminasi. Itu bukan sekadar harapan, tapi hak,” katanya menegaskan.

Dalam menghadapi realitas yang tidak selalu sesuai harapan, Luvi mengajak perempuan untuk tetap optimis dan menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses bertumbuh.

“Tidak semua hal berjalan sesuai rencana, tapi itu bukan alasan untuk berhenti. Justru itu jadi tantangan untuk bangkit dan berkembang,” ucapnya.

Di akhir perbincangan, Luvi menyampaikan pesan kepada perempuan agar terus percaya diri dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Perempuan punya hak dan kesempatan yang sama. Jangan minder, jangan patah semangat. Buktikan bahwa perempuan itu kuat dan mampu,” katanya, mengakhiri.

Baca juga: Saat Perempuan Jadi Penyejuk dalam Moderasi Beragama

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....