Kijing Perkuat Arus Logistik dan Ekspor Kalbar

  • 21 Apr 2026 16:53 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Arus logistik Kalimantan Barat kian menggeliat. Terminal Kijing kini menjadi simpul strategis perdagangan dan ekspor nasional.

Kehadiran terminal yang dikelola PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak ini menjelma sebagai urat nadi ekonomi daerah sejak mulai beroperasi pada 1 Agustus 2022. Perannya semakin vital dalam menunjang pelayanan kargo nonpetikemas sekaligus meningkatkan efisiensi logistik.

Berada di wilayah yang berbatasan langsung dengan jalur perdagangan internasional Selat Malaka, Terminal Kijing menjadi pintu gerbang penting arus ekspor dan impor. Posisi strategis ini memperkuat konektivitas Kalimantan Barat dengan pasar global.

Secara kapasitas, terminal ini mampu melayani hingga 15 kapal sekaligus, termasuk kapal besar berkapasitas 100.000 DWT. Dukungan draft hingga minus 15 meter dan panjang dermaga lebih dari 1.900 meter menjadi keunggulan tersendiri.

Direktur Utama PTP Nonpetikemas Indra Hidayat Sani menyebut Kalimantan Barat sebagai salah satu produsen utama minyak kelapa sawit nasional, sehingga keberadaan Terminal Kijing sangat krusial dalam rantai distribusi komoditas tersebut. “Terminal Kijing menjadi urat nadi ekonomi Kalimantan Barat, terutama dalam mendukung ekspor produk turunan kelapa sawit,” ujarnya.

Selain CPO, terminal ini juga melayani berbagai komoditas seperti batubara, pupuk, bauksit, hingga kargo berat. Fasilitas modern seperti harbour mobile crane, conveyor, dan peralatan bongkar muat lainnya turut menunjang kinerja operasional.

Tak hanya berperan dalam ekspor, Terminal Kijing juga mendukung distribusi logistik untuk proyek-proyek infrastruktur di wilayah barat Indonesia serta menjaga stabilitas rantai pasok nasional. Ke depan, terminal ini diproyeksikan menjadi motor penggerak ekspor-impor sekaligus katalisator pertumbuhan ekonomi, termasuk mendukung program hilirisasi pemerintah.

Dari sisi kinerja, throughput Terminal Kijing terus menunjukkan tren positif. Pada 2023 tercatat 2,27 juta ton, meningkat menjadi 3,09 juta ton di 2024, dan ditargetkan mencapai 3,3 juta ton pada 2025. Hingga pertengahan 2025, realisasi throughput telah menyentuh 2 juta ton dengan dominasi komoditas curah kering.

Pertumbuhan signifikan juga tercatat pada kinerja operasional, termasuk lonjakan produktivitas bongkar muat. Manajemen menyebut peningkatan ini menjadi indikator kepercayaan pengguna jasa yang terus tumbuh, seiring optimalisasi layanan dan efisiensi operasional yang terus dilakukan.

Baca juga: Terminal Kijing Catat Kenaikan Trafik Kapal dan Arus Barang 2025

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....