HWCI Soroti Fenomena LGBT di Kalbar

  • 13 Apr 2026 09:25 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Fenomena perilaku seks menyimpang yang kerap dikaitkan dengan kelompok LGBT disebut mulai muncul di wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Tidak hanya di kota besar, indikasi tersebut juga dilaporkan mulai ditemukan di daerah pelosok, salah satunya di Kabupaten Kapuas Hulu.‎

Kemunculan fenomena ini menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Bahkan, perilaku tersebut disebut kerap ditampilkan secara terbuka oleh pelaku melalui unggahan di media sosial.‎

Menanggapi hal tersebut, Ketua Humanity Women Children Indonesia (HWCI), Eka Nurhayati Ishaq, mengimbau masyarakat untuk tetap mengedepankan nilai akhlak dalam menyikapi persoalan tersebut.‎

"Kita sebagai masyarakat yang berpegang pada nilai agama tentu memiliki pandangan tersendiri terhadap LGBT. Namun dalam menyikapinya, penting untuk tetap mengedepankan akhlak, tidak membenci orangnya, dan menghindari sikap merendahkan," kata Eka, Senin, 13 April 2026.‎

Eka menekankan pentingnya pendekatan yang bijak dan tidak menimbulkan permusuhan terhadap individu yang terlibat.‎

"Pendekatan yang penuh hikmah, nasehat yang baik, dan doa jauh lebih mulia daripada celaan atau permusuhan. Kami memahami bahwa fenomena LGBT saat ini semakin terlihat di tengah masyarakat, termasuk di Kalimantan Barat. Namun sebagai masyarakat yang berpegang pada nilai agama, budaya, dan norma sosial, kami tidak mendukung maupun menormalisasi perilaku tersebut," tambahnya.‎

Eka juga menegaskan bahwa pihaknya menolak perilaku tersebut karena dinilai tidak sejalan dengan nilai agama, norma sosial, dan budaya. Meski demikian, ia menekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.‎

"Kami memandang bahwa LGBT tidak sejalan dengan nilai agama, norma sosial, dan budaya yang kami yakini. Meski demikian, kami tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Setiap individu harus diperlakukan dengan hormat, tanpa kekerasan, tanpa perundungan, dan tanpa diskriminasi yang merendahkan martabat," sebutnya.‎

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar perbedaan pandangan disikapi secara bijak melalui pendekatan santun dan edukatif, bukan dengan kebencian atau tindakan yang berlebihan.‎

Eka turut menyoroti pentingnya peran orang tua dalam membentuk pemahaman anak sejak dini terkait nilai-nilai yang diyakini dalam keluarga dan masyarakat.

‎"Peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak, terutama untuk memberikan pemahaman bahwa hanya ada dua gander saja, yaitu lahir sebagai laki-laki atau sebagai perempuan sesuai kodrat yang telah ditentukan oleh Allah," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....