WALHI Soroti Karhutla Gambut dan Respons Pemerintah

  • 13 Sep 2026 10:02 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Karhutla masih membayangi Kalimantan Barat, sementara kualitas udara sempat mencapai level sangat berbahaya akibat asap pembakaran lahan gambut.

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat, Indra Syahnanda, mengatakan karhutla telah berlangsung sejak Februari 2026 dan meningkat signifikan pada Juli hingga Agustus.

Hal tersebut disampaikan Indra dalam percakapan dengan RRI pada Sabtu, 12 September 2026, saat membahas kondisi karhutla dan kualitas udara di Kalimantan Barat.

Menurut Indra, kondisi kualitas udara sempat berada pada level mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan IQAir yang disampaikannya, indeks kualitas udara bahkan sempat menembus angka 2.000 dan masuk kategori sangat berbahaya.

“Angka 2.000 itu sudah sangat berbahaya. Ini menunjukkan kondisi udara kita memang sudah dalam situasi yang mengkhawatirkan,” ujar Indra.

Ia menjelaskan, fenomena El Niño yang menyebabkan kemarau panjang menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya karhutla. Namun, kondisi tersebut dinilai semakin parah akibat kerusakan ekosistem yang telah berlangsung dalam waktu lama.

Indra mengatakan sebagian kebakaran terjadi di kawasan ekosistem gambut. Karakteristik gambut membuat api dapat membakar hingga ke bagian bawah permukaan tanah dan sulit dideteksi maupun dipadamkan secara tuntas.

“Karena di gambut, apinya bukan hanya di atas. Di bawah permukaan itu masih bisa terbakar dan mengeluarkan asap, walaupun api di permukaan sudah kelihatan padam,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi salah satu alasan asap karhutla dapat bertahan dan terus mengganggu kualitas udara dalam waktu cukup lama.

Dalam proses pemadaman, Indra menilai peralatan dan metode yang digunakan tim di lapangan masih perlu diperkuat. Pemadaman di lahan gambut tidak cukup hanya dengan menyemprotkan air ke permukaan.

Ia menyebut metode suntik gambut dapat digunakan untuk menjangkau sumber api di bawah permukaan tanah sehingga proses pembasahan lebih efektif.

“Kalau gambut, idealnya air itu dimasukkan ke dalam tanah, ditusuk sampai ke bawah, supaya air menyebar ke titik api. Tidak hanya menyemprot dari permukaan,” jelasnya.

Selain persoalan teknis, WALHI Kalbar menilai penanganan karhutla masih cenderung reaktif. Padahal, peringatan mengenai potensi kemarau panjang telah disampaikan BMKG jauh sebelum kondisi kebakaran meningkat.

Indra mendorong pemerintah memperkuat langkah antisipasi melalui pembasahan lahan gambut dan patroli rutin di kawasan rawan sebelum kebakaran meluas.

Menurutnya, pencegahan harus menjadi prioritas karena penanganan karhutla ketika api sudah meluas membutuhkan sumber daya, peralatan, dan biaya yang jauh lebih besar.

WALHI Kalbar berharap pengalaman karhutla sepanjang 2026 menjadi evaluasi untuk memperkuat sistem pencegahan, khususnya di kawasan gambut yang rentan terbakar saat kemarau panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....