DLH Kalbar Terus Pantau Karhutla di Awal Tahun
- 30 Jan 2026 10:01 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat mencatat peningkatan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki awal tahun 2026, seiring mulai mengeringnya kondisi cuaca di sejumlah wilayah. Hal ini menjadi sorotan karena kondisi asap semakin hari semakin jadi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat, Adi Yani, menyebut, karhutla memang menjadi persoalan yang hampir terjadi setiap tahun. Namun pada 2025 lalu, Kalimantan Barat relatif lebih aman karena musim hujan berlangsung cukup panjang.
“Di tahun 2025 kemarin alhamdulillah relatif aman karena musim hujannya panjang. Tapi memasuki pertengahan Januari 2026 ini mulai terjadi musim kering dan titik api sudah muncul,” ujar Adi saat diwawancarai oleh media pada Rabu, 28 Januari 2026.
Berdasarkan pemantauan, jumlah titik panas di Kalimantan Barat tercatat mencapai lebih dari 120 titik yang tersebar di berbagai daerah. Beberapa wilayah dengan jumlah kejadian cukup tinggi di antaranya Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, dan Kota Pontianak.
“Total di Kalimantan Barat ada sekitar 120 sampai 130 titik api, dan yang paling banyak itu Kubu Raya, Mempawah, termasuk Kota Pontianak,” sambung Adi.
Untuk mengantisipasi meluasnya karhutla, Dinas Lingkungan Hidup Kalbar telah mengeluarkan surat kepada seluruh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) agar melakukan pemadaman dini dan sosialisasi di lapangan. Selain itu, pemerintah provinsi juga menyiapkan surat imbauan yang akan ditandatangani Gubernur Kalbar.
“Kami sudah menyiapkan surat imbauan kepada pelaku usaha, seperti perkebunan sawit, pertambangan, dan sektor kehutanan, agar melakukan langkah antisipasi kebakaran di areal mereka,” kata Adi.
Koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat dengan melibatkan BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, hingga kelompok masyarakat seperti Masyarakat Peduli Api dan Desa Peduli Gambut. Menurutnya, peran masyarakat di tingkat tapak sangat penting dalam pemadaman awal.
“Kalau di tingkat tapak, masyarakat peduli api inilah yang paling awal berhadapan dengan kebakaran. Itu sangat membantu agar api tidak meluas,” tambahnya.
Terkait dugaan kebakaran di areal perusahaan, Dinas Lingkungan Hidup Kalbar mengaku telah mengantongi data berbasis citra satelit dan koordinat lokasi. Namun, verifikasi lapangan baru akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Secara data satelit ada dugaan lokasi kebakaran berada di areal perusahaan, tapi kami belum turun ke lapangan. Minggu depan baru akan kami tindak lanjuti,” tutup Adi saat sesi wawancara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....