FKUB Beberkan Pemahaman Tentang Moderasi Beragama

  • 09 Jan 2026 09:31 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Menjaga kerukunan di tengah keberagaman bangsa menjadi kunci stabilitas sosial masyarakat. Terkait hal tersebut, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menekankan pentingnya internalisasi nilai moderasi dalam beragama. Ketua FKUB Kalimantan Barat, Prof. Ibrahim, memaparkan bagaimana cara pandang yang seimbang dapat mencegah konflik di tengah masyarakat yang majemuk.

Moderasi beragama sering kali disalahartikan, namun secara esensial, ia merupakan pondasi bagi kedamaian di Indonesia. Ketua FKUB Kalimantan Barat, Prof. Ibrahim, menjelaskan bahwa secara bahasa, moderasi beragama adalah sebuah cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang mengambil jalan tengah.

Tujuannya adalah membangun keseimbangan agar tidak terjebak pada dua kutub ekstrem atau kutub yang menganggap semua hal serba boleh tanpa larangan, maupun kutub yang terlalu kaku dengan melarang segala hal tanpa ruang dialog.

"Kenapa perlu ada keseimbangan? Supaya tidak terjadi pemahaman keagamaan, praktik beragama, sikap beragama yang terlalu ekstrim. Ekstrim misalnya semua serba boleh, tidak ada larangan. Itu tidak bagus. Atau sedikit-sedikit tidak boleh, ini tidak boleh, itu tidak boleh. Ini juga tidak bagus dalam beragama. Jadi dalam beragama itu harus berimbang, harus moderat," kata Ibrahim saat dialog Pontianak Menyapa dengan tema Memahami Moderasi Beragama di Lobi RRI Pontianak yang disiarkan langsung melalui kanal Pro1 RRI Pontianak, Jumat (9/1/2026).

Lebih lanjut, Prof. Ibrahim menekankan ada dua alasan utama mengapa moderasi beragama menjadi krusial di Indonesia termasuk di Kalimantan Barat. Pertama adalah faktor keragaman. Menurut Ibrahim, dengan adanya enam agama yang diakui secara konstitusional serta berbagai aliran kepercayaan, sikap moderat menjadi satu-satunya jalan untuk memahami keberadaan orang lain yang berbeda keyakinan.

Kedua, adalah besarnya energi atau semangat beragama. Ibrahim menjelaskan, bahwa agama memiliki kekuatan yang luar biasa, bahkan mampu membuat seseorang rela mengorbankan segalanya. Jika semangat ini dibarengi dengan sikap eksklusif atau merasa benar sendiri, maka potensi konflik akan sangat besar.

"Kita hidup dalam realitas agama yang berbeda. Nah karena itu tidak boleh eksklusif, kita harus inklusif. Bahwa kita beragama, kita yakin dengan agama kita benar. Tapi kita tidak boleh menapikan ada orang lain dengan kepercayaan agamanya yang lain. Menganggap benar, itu harus kita siapkan ruang untuk itu," ujar Ibrahim.

Sikap inklusif inilah yaang diharapkan muncul dalam setiap individu. Dengan memberikan ruang bagi keyakinan orang lain tanpa mengabaikan keyakinan pribadi, moderasi beragama menjadi benteng utama agar semangat spiritualitas tidak berubah menjadi pemicu perpecahan.

"Jadi itulah alasan mengapa moderasi beragama harus muncul dalam diri kita adalah supaya semangat beragama ini tidak menjadikan kita konflik karena kita berbeda agama," tutur Ibrahim.

Baca juga : FKUB Ajak Perkuat Toleransi untuk Kalbar Harmoni

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....