Pesan Moderasi Beragama dalam Perayaan Idul Adha untuk Menjaga Kerukunan
- 26 Mei 2026 16:13 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak — Moderasi beragama dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keharmonisan dan persatuan masyarakat di tengah keberagaman agama, suku, dan budaya di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), , dalam program Moderasi Beragama edisi Selasa, 26 Mei 2026. Menurutnya, moderasi beragama dapat dimaknai sebagai jalan tengah yang mengedepankan keharmonisan, toleransi, dan kemaslahatan bersama.
“Moderasi itu jalan tengah, keharmonisan, toleran, bisa juga diartikan sebagai kemaslahatan untuk kepentingan bersama. Moderasi juga tidak ekstrem kanan dan ekstrem kiri karena semua agama memiliki tujuan yang sama, berarti ada jalan tengahnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam menerapkan moderasi beragama adalah munculnya sikap merasa diri paling suci dibanding orang lain.
“Tantangan terbesar adalah merasa diri paling suci. Kalau merasa lebih suci maka akan lebih mudah melempar batu kepada orang lain. Melempar dalam artian verbal maupun fisik,” jelasnya.
Menurutnya, seseorang yang menyadari bahwa dirinya masih memiliki kekurangan sebagai manusia akan lebih mudah bersikap rendah hati dan tidak sombong terhadap orang lain. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa momen bukan sekadar tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga memiliki nilai sosial dan kemanusiaan yang kuat.
Ia menyebut pembagian daging kurban tidak hanya diberikan kepada sesama umat Muslim, tetapi juga kepada masyarakat lain yang membutuhkan tanpa memandang agama, suku, ras, maupun budaya. Menurutnya, hal tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antarumat beragama.
FKUB sendiri, lanjutnya, memiliki program makan bersama saat Idul Adha yang melibatkan masyarakat lintas agama sebagai bentuk silaturahmi dan penguatan kerukunan. Selain itu, ia menilai penerapan moderasi beragama perlu dimulai dari lingkungan sekitar dan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari agar masyarakat dapat saling memahami pandangan agama lain.
Terkait maraknya komentar intoleran dan memecah belah di media sosial, ia mengingatkan pentingnya sikap tabayun atau mengecek kebenaran informasi sebelum menghakimi pihak lain.
“Prinsip yang harus diperhatikan oleh orang beragama, tidak hanya agama Islam tetapi juga agama-agama lainnya, adalah perlu adanya tabayun. Tabayun itu artinya mengecek kembali dan bertanya kepada yang bersangkutan apakah benar seperti itu,” katanya.
Ia menambahkan, sikap tersebut penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi, tidak cepat menghakimi, dan tidak merasa paling benar dibanding orang lain.
Di akhir dialog, ia menegaskan pentingnya menjaga sikap saling berbagi, berbuat baik, dan menghormati antarumat beragama demi menjaga persatuan dan kerukunan, terutama menjelang Idul Adha.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....