Yudi Dharma: Klarifikasi Juri Tidak Menurunkan Marwah Pendidikan

  • 13 Mei 2026 13:17 WIB
  •  Pontianak
Poin Utama
  • Dewan Pendidikan Kalbar
  • Kalbar
  • LCC 4 Pilar MPR RI

RRI.CO.ID, Pontianak - Ketua Komisi Pendidikan Menengah Dewan Pendidikan Kalbar, Yudi Dharma, menilai polemik dalam penyelenggaraan kompetisi pendidikan harus menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat nilai keadilan, transparansi, dan profesionalisme dalam dunia pendidikan. Hal tersebut dikatakannya saat menanggapi polemik penilaian dalam kompetisi LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang viral di media sosial.

Menurut Yudi, sebuah kompetisi pendidikan tidak semata-mata berbicara soal menang dan kalah, tetapi juga tentang menjaga marwah pendidikan melalui prinsip kebenaran, keadilan, suportivitas, serta pengembangan karakter peserta didik.

“Peserta didik bukan hanya diuji kecerdasannya, tetapi juga belajar tentang sportivitas, menyuarakan kebenaran, dan menghargai perbedaan,” ujarnya, saat ditemui, Rabu, 13 Mei 2026.

Ia menegaskan, ketika ada peserta maupun pihak sekolah yang menyampaikan keberatan terhadap hasil keputusan lomba, hal itu tidak boleh langsung dianggap sebagai bentuk perlawanan. Menurutnya, langkah tersebut justru merupakan upaya menjaga marwah pendidikan agar keadilan tetap menjadi fondasi utama.

Yudi juga mengajak seluruh pihak, termasuk penyelenggara dan dewan juri, untuk tidak membangun narasi yang menyudutkan pihak tertentu di tengah polemik yang berkembang. Ia berharap kondisi yang viral saat ini menjadi bahan evaluasi agar ke depan setiap kompetisi dapat berlangsung lebih suportif, akuntabel, transparan, dan profesional.

Selain itu, ia memberikan apresiasi kepada para peserta didik yang terlibat dalam ajang kompetisi sebagai bagian dari proses pengembangan potensi diri. Menurutnya, puncak kompetisi bukan hanya soal membawa pulang trofi atau piala, melainkan kemampuan menjaga etika, bersikap adaptif, serta menjunjung tinggi sportivitas.

“Marwah pendidikan harus dijaga bersama. Keadilan harus menjadi napas utama dan kebenaran menjadi tujuan akhir dalam sektor pendidikan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Yudi juga mengapresiasi keberanian seorang peserta bernama Josepha Alexandra, yang dinilai mampu menyuarakan kritik secara tenang, jernih, dan tetap beretika.

Ia menyebut sikap Josepha menjadi cerminan keberhasilan pendidikan, tidak hanya dari penguasaan pengetahuan, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, karakter, dan keberanian menyampaikan kebenaran.

“Mentalitas seperti ini harus dipupuk dan dikembangkan. Pendidikan bukan hanya soal knowledge, tetapi juga karakter dan kemampuan komunikasi yang tepat sesuai konteks,” ujarnya.

Terkait polemik keputusan lomba, Yudi menilai masyarakat sudah dapat melihat adanya persoalan teknis dalam proses penjurian. Ia mengingatkan bahwa dalam sebuah kompetisi selalu ada kemungkinan faktor pengganggu, baik teknis maupun nonteknis.

Menurutnya, di era digital saat ini penyelenggara seharusnya sudah menyiapkan sistem cadangan untuk mengantisipasi berbagai kendala. Ia juga menilai dewan juri perlu tetap profesional, demokratis, dan terbuka terhadap klarifikasi apabila terjadi kekeliruan dalam pengambilan keputusan.

“Ketika ada kekeliruan teknis dan juri melakukan klarifikasi atau membatalkan keputusan, itu tidak menurunkan marwah juri. Justru menunjukkan jiwa besar bahwa pendidikan adalah tempat belajar dan berproses,” pungkasnya.

Baca juga: Polemik Final LCC 4 Pilar, Plt Kadisdikbud: Stop Narasi Menyudutkan SMAN 1 Sambas⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....