Sejarah Makanan 'Salah Kaprah': Kenapa Dinamakan Bika Ambon Padahal Asli dari Medan?

  • 05 Jun 2026 20:34 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Bagi para pelancong yang berkunjung ke Kota Medan, Sumatra Utara, membawa pulang sekotak bika ambon adalah sebuah ritual wajib. Kue basah berwarna kuning cerah, bertekstur kenyal, dan dipenuhi rongga-rongga estetik ini dikenal memiliki cita rasa manis legit dengan aroma daun jeruk yang khas.

Namun, di balik kelezatannya, kue ini menyimpan sebuah misteri geografis yang sering memicu teka-teki bagi masyarakat awam. Kenapa sebuah penganan yang menjadi ikon kuliner tanah Melayu Deli justru menyandang nama 'Ambon' yang merujuk pada ibu kota Maluku?

Fenomena nama yang "salah kaprah" ini bukanlah tanpa alasan. Jika ditelusuri dari akar sejarahnya, ada beberapa versi cerita rakyat dan catatan sejarah yang mencoba mengurai asal-usul penamaan unik tersebut. Versi pertama yang paling populer berakar dari faktor geografis lokal di Kota Medan sendiri. Konon, kue bika ini pertama kali dibuat dan dijual dalam skala besar di persimpangan Jalan Ambon yang terletak di daerah Sei Kera, Medan Perjuangan. Karena kelezatannya yang luar biasa, masyarakat kala itu terbiasa menyebutnya dengan sebutan "Bika Jalan Ambon", yang seiring berjalannya waktu disingkat menjadi bika ambon demi kemudahan penyebutan.

Akulturasi Budaya dan Jejak Bahasa Maluku

Sementara itu, versi sejarah kedua membawa kita pada cerita migrasi antarpulau pada masa kolonial Hindia Belanda. Menurut penuturan sejumlah sejarawan kuliner, nama "Ambon" disematkan oleh seorang warga berdarah Ambon yang merantau ke Medan pada masa lampau. Perantau tersebut membawa resep kue tradisional sejenis apem, lalu bekerja sama dengan warga keturunan Tionghoa di Medan untuk memodifikasi resep tersebut menggunakan santan dan nira lokal hingga menghasilkan tekstur berongga seperti yang kita kenal hari ini. Kombinasi resep lintas budaya ini akhirnya melahirkan nama bika ambon sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul pencetus idenya.

Ada pula teori kebahasaan yang tidak kalah menarik. Dalam bahasa Melayu dialek tertentu, kata "ambon" atau "ambong" memiliki arti khusus, yaitu tekstur yang lembut, kenyal, dan berongga banyak. Dengan demikian, penamaan bika ambon awalnya berfungsi sebagai kata sifat untuk menggambarkan karakteristik fisik kue tersebut yang berongga halus, bukan merujuk pada nama wilayah geografis di bagian timur Indonesia. Teori ini diperkuat oleh fakta bahwa struktur bika ambon memang sangat berbeda dengan kue bika tradisional Jawa atau Sumatra Barat yang cenderung padat dan gurih.

Evolusi Rasa Menembus Batas Wilayah

Terlepas dari perdebatan panjang mengenai asal-usul nama tersebut, bika ambon telah bertransformasi menjadi simbol identitas kuliner Kota Medan yang modern. Jika dahulu kue ini hanya disajikan dalam varian rasa original yang dominan aroma pandan dan daun jeruk, kini produsen lokal telah melakukan berbagai inovasi rasa mulai dari cokelat, keju, durian, hingga moka demi menyesuaikan selera pasar yang terus berkembang.

Kisah di balik bika ambon ini menjadi bukti otentik betapa kayanya khazanah kuliner nusantara yang sering kali terbentuk dari akulturasi budaya, migrasi, dan sejarah yang dinamis. Jadi, saat Anda memotong sepotong bika ambon dan menikmati kelembutannya yang khas, Anda tidak hanya sedang menyantap sebuah camilan manis, melainkan juga sedang merayakan sepotong narasi sejarah unik Indonesia yang berhasil melintasi batas-batas pulau. Sebuah salah kaprah yang berbuah manis dan melegenda.

Baca juga: Masyarakat Gawai Dayak Lestarikan Kue Tumpi dalam Ritual Adat

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....