Budaya Rijsttafel, Rasa Menyatukan Bangsa
- 02 Mei 2026 06:45 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Selain China, Barat mesti diakui punya kontribusi besar dalam membentuk wajah kuliner Indonesia. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari jejak kolonialisme bangsa Eropa di Indonesia sejak abad XVI hingga paruh pertama abad XX silam.
Riwayat politik, sosial, dan ekonomi kolonial memang telah lama berakhir. Tapi, tidak demikian dengan nilai-nilai budayanya. Bagian ini sulit dihapuskan karena sudah menyatu menjadi kebiasaan kolektif masyarakat. Hal ini sebagaimana tampak dalam wajah kuliner Indonesia.
Pengaruh budaya asing, Eropa, terhadap citra kuliner Indonesia kini memang tampak jelas. Namun sejatinya lingkungan alam dan budaya lokal masyarakat juga memengaruhi dunia kuliner Eropa, khususnya Belanda. Wujud pengaruh itu kentara dari modifikasi bahan makanan serta etika makan di antara dua budaya.
Sebagai contoh, gaya prasmanan adalah gaya penyajian makanan yang sangat lumrah bagi masyarakat Indonesia saat ini. Itu sebetulnya merupakan gaya Eropa yang menggantikan kebiasaan makan pribumi duduk berlesehan atau saprahan di lantai.
Pada paruh kedua abad 19, rijsttafel menjadi budaya makan kolonial Belanda yang paling mengemuka. Melalui rijsttafel-lah pencitraan budaya makan yang ideal, serupa yang dikenal kini, setidaknya mulai dibangun.
Keberadaan dan perkembangan rijsttafel sungguh menarik. Sebab ini soal cara pandang dan cara kemas hidangan pribumi yang membuatnya begitu populer.
Meski alam kolonial dimaklumi sebagai realitas penindasan, rijsttafel menyekam inspirasi tak ternilai bagi perkembangan awal konsep kuliner di Indonesia. Orang Belanda nampaknya mengemas kebiasaan makan di tanah koloninya sebagai gaya hidup juga daya tarik wisata.

Untuk pertama kalinya dalam perkembangan kuliner di Indonesia, makanan tradisional mendapat kedudukan istimewa pada masa kolonial. Bahkan hingga belakangan ini, di Belanda hidangan Indonesia masih menjadi daya tarik wisata melalui budaya makan rijsttafel-nya.
Memasuki awal abad ke 20 yang lalu, rijsttafel mengalami semacam formalisasi yang melahirkan berbagai bentuk inovasi penyajian sehingga menunjukkan perkembangan penting dan menarik.
Rijsttafel memang tidak dapat dipisahkan dari aspek penyajian yang terlihat dalam berbagai unsur, seperti kelayakan tempat dan waktu jamuan, tata cara penyajian, serta penggunaan peranti dan komposisi hidangan.
Sementara itu, pengaruh kuliner Belanda juga tampak sekali pada beberapa jenis variasi hidangan yang disajikan. Sebenarnya beberapa jenis hidangan bukan murni Belanda karena di dalamnya telah terjadi percampuran dan penyesuaian bahan. Beberapa jenis hidangan itu di antaranya sup (soep), perkedel (frikadel), semur (smoor), bistik (biesfstuk), suar suir ayam (zwartzuur) dan lainnya.
Bagi mereka yang pernah mengalami kehidupan di Hindia Belanda, istilah Indis memang begitu akrab, termasuk untuk menyebut segala sesuatu yang berkaitan dengan hidangan pribumi. Di samping menjadi wujud nostalgia dengan kehidupan masa lalu, hal ini juga menunjukkan dampak positif akulturasi budaya, yang mengangkat makanan Indonesia menjadi daya tarik wisata dan dikenal di mancanegara hingga sekarang. (***)
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman
Baca juga: Berkunjung ke RJ Schimmelpennincklaan 3 Den Haag Belanda
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....