Jodoh Manis Kue Cucor dan Kopi Susu
- 02 Feb 2026 10:31 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Matahari belum tinggi di langit Kota Khatulistiwa, terlihat kabut asap yang mulai menghilang pasaca diguyur hujan sehari sebelumnya. Namun, denyut nadi kehidupan di Jalan Diponegoro No.149 sudah berdetak kencang menyambut hari Senin, 2 Februari 2026.
Di antara deru mesin kendaraan yang membelah pagi Pontianak, ada sebuah tempat di mana waktu terasa berjalan sedikit lebih lambat. Tempat itu bernama Warkop Panorama.
Meja kayu tua berwarna gelap itu menjadi saksi bisu ritual pagi warga kota. Di atasnya, tersaji sebuah komposisi sederhana namun melegenda. Segelas kopi susu panas dan piring kecil berwarna hijau cerah berisi dua keping kue tradisional.
"Kopi susunya, Bang. Sama cucornya baru diangkat," ujar Sur, pengadok kopi warkop ini.
Dengan cekatan namun tetap santai, Sur meletakkan pesanan di meja. Asap tipis masih mengepul dari gelas kaca bening itu.
Kopi khas Pontianak memang beda, pekat, hitam, berpadu dengan susu kental manis yang mengendap di dasar gelas. Saat diaduk, warnanya berubah menjadi cokelat keemasan yang menggoda, mengirimkan aroma yang kuat menembus indra penciuman.
Di atas piring hijau yang kontras, dua kue cucor itu tampak berkilau diterpa cahaya pagi. Bagian tengahnya yang menggembung empuk sering disebut "udel" dikelilingi oleh pinggiran yang bersarang dan renyah. Warnanya cokelat gula merah yang pekat, menjanjikan rasa manis yang legit di setiap gigitan.
Menggigit kue cucor di Warkop Panorama adalah sebuah pengalaman tekstur. Kres!, bunyi renyah terdengar saat gigi menyentuh pinggiran kue yang tipis dan garing bagai renda. Lalu, sensasi itu berganti menjadi lembut dan berserat saat mencapai bagian tengahnya yang tebal.
Rasa manis gula merah lumer di lidah, segera dinetralkan oleh tegukan kopi susu yang hangat dan creamy. Sebuah perpaduan yang tak pernah gagal membangkitkan semangat.
Suasana semakin syahdu tatkala seorang musisi jalanan memetik senar gitarnya di ambang pintu. Bukan lagu bising yang ia bawakan, melainkan melodi akustik lawas yang lembut. Petikan gitar itu menyatu dengan suara denting sendok yang beradu dengan gelas kaca, menciptakan simfoni pagi yang otentik.
Di Warkop Panorama, orang tidak hanya datang untuk minum kopi. Mereka datang untuk merayakan pagi, menyapa kawan lama, atau sekadar diam menikmati sepotong kue cucor hangat buatan tangan, dilayani dengan keramahan yang bersahaja.
Bagi siapa pun yang singgah di Jalan Ponegoro, setangkup cucor dan segelas kopi susu di sini bukan sekadar sarapan. Itu adalah cara Pontianak mengucapkan "Selamat Pagi".
Baca juga: Segelas Kopi dan Kenikmatan Dodol Ubi