Jaga Saluran Napas saat Kabut Asap, Pilih Air Hangat atau Air Dingin?

  • 30 Agt 2026 20:34 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Musim kemarau yang berpadu dengan kabut asap karhutla di Pontianak membuat banyak warga bertanya-tanya, sebaiknya minum air panas atau air dingin di tengah kondisi udara seperti ini. Pertanyaan ini bukan sekadar soal selera, melainkan menyangkut bagaimana tubuh merespons paparan partikel asap dan udara kering yang bisa mengiritasi saluran pernapasan.

Melansir dari jurnal Chest yang ditulis Saketkhoo, Januszkiewicz, dan Sackner tahun 1978, air hangat yang diminum terbukti meningkatkan kecepatan aliran mukus hidung secara signifikan dibandingkan air dingin. Air hangat yang diminum dengan cara diseruput meningkatkan kecepatan mukus hidung dari 6,2 menjadi 8,4 milimeter per menit hanya lima menit setelah diminum. (ResearchGate) Sebaliknya, air dingin justru menurunkan kecepatan mukus hidung dari 7,3 menjadi 4,5 milimeter per menit (ResearchGate) pada pengukuran tiga puluh menit berikutnya.

Temuan ini penting bagi warga Pontianak yang terpapar kabut asap, sebab mukus hidung yang bergerak lebih cepat membantu menyaring dan mengeluarkan partikel halus (PM2.5) yang terhirup selama musim karhutla, sementara mukus yang melambat berisiko membuat partikel tersebut mengendap lebih lama di saluran napas.

Penelitian lain yang dimuat di jurnal Rhinology oleh Sanu dan Eccles tahun 2008 turut memperkuat temuan ini. Melansir dari jurnal tersebut, minuman panas memang tidak mengubah resistensi aliran udara hidung secara objektif, namun secara subjektif partisipan merasakan hidung yang jauh lebih lega setelah mengonsumsi minuman hangat dibandingkan minuman bersuhu ruang.

Artinya, sensasi lega yang dirasakan warga saat minum air hangat di tengah kabut asap bukan sekadar sugesti, melainkan didukung oleh mekanisme fisiologis yang nyata, meski efeknya bersifat sementara.

Bagi warga Kalimantan Barat yang beraktivitas di luar ruangan saat kabut asap tebal, kebiasaan minum air hangat secara rutin, terutama pada pagi dan malam hari, dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu melembapkan saluran napas yang kering akibat paparan asap. Air hangat juga membantu mengencerkan dahak yang mungkin terbentuk akibat iritasi tenggorokan, sehingga proses pengeluarannya lebih mudah dan tidak memicu batuk berkepanjangan.

Sementara itu, air dingin tetap dibutuhkan tubuh untuk menjaga hidrasi harian, namun sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan saat gejala iritasi tenggorokan atau hidung tersumbat sedang muncul, mengingat air dingin justru dapat memperlambat pembersihan mukus di saluran hidung berdasarkan temuan di atas.

Pada akhirnya, memilih air panas atau dingin bukan soal mana yang lebih unggul secara mutlak, melainkan menyesuaikan dengan kondisi tubuh saat itu. Di tengah musim kemarau dan kabut asap seperti sekarang, air hangat tampaknya lebih disarankan sebagai pendamping harian untuk menjaga kenyamanan saluran pernapasan, sementara air dingin tetap layak dikonsumsi selama tidak berlebihan dan tidak dalam kondisi tenggorokan sedang teriritasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....