Kulit Sehat meski Kabut Asap Melanda, Begini Rutinitas Skincare-nya

  • 28 Agt 2026 18:46 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam kesehatan pernapasan, tetapi juga membawa dampak nyata bagi kesehatan kulit warga yang tinggal di wilayah terdampak seperti Pontianak.

Partikel PM2.5 yang menjadi komponen utama kabut asap berasal dari pembakaran hutan dan mengandung berbagai bahan kimia berbahaya seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida, yang tanpa disadari dapat menembus permukaan kulit dan memicu berbagai masalah dermatologis.

Menurut dr Yuli, paparan udara buruk akibat karhutla dapat merusak sawar kulit atau skin barrier, sehingga fungsi perlindungan alami kulit menjadi terganggu. Kondisi ini membuat kulit menjadi kering, bersisik, gatal, serta lebih sensitif dan mudah mengalami kemerahan maupun peradangan.

Selain itu, partikel PM2.5 yang menempel di permukaan kulit turut menyumbat pori-pori, memicu peningkatan produksi sebum sekaligus radikal bebas, yang pada akhirnya dapat memperparah kondisi jerawat atau menyebabkan breakout bagi mereka yang rentan mengalaminya.

Langkah paling mendasar dalam merawat kulit di tengah kondisi kabut asap adalah membersihkan wajah secara menyeluruh menggunakan metode double cleansing. Tahap pertama menggunakan cleansing oil atau balm berguna melarutkan polutan berbahan dasar minyak beserta sisa sunscreen dan makeup, sementara tahap kedua menggunakan pembersih wajah berbahan lembut memastikan partikel debu halus benar-benar terangkat tanpa merusak kelembapan alami kulit. Rutinitas ini sebaiknya dilakukan secara konsisten setiap pulang beraktivitas di luar ruangan, mengingat partikel asap dapat menempel di kulit sepanjang hari tanpa disadari.

Setelah membersihkan wajah, penggunaan produk skincare dengan kandungan antioksidan tinggi seperti vitamin C, vitamin E, atau niacinamide menjadi langkah penting untuk menetralkan radikal bebas yang terbentuk akibat paparan polusi sebelum sempat merusak sel-sel kulit sehat. Kandungan ceramide juga sangat direkomendasikan karena berperan menghadang polutan agar tidak menembus jauh ke dalam lapisan kulit, sekaligus membantu memulihkan fungsi skin barrier yang melemah akibat paparan lingkungan yang keras.

Eksfoliasi ringan juga tidak kalah penting untuk mengangkat sel kulit mati dan sisa kotoran yang menumpuk akibat polusi, namun perlu dilakukan dengan bijak agar tidak merusak skin barrier yang sudah rentan. Penggunaan exfoliator lembut dengan kandungan AHA atau BHA sebanyak dua hingga tiga kali seminggu dinilai cukup untuk menjaga kulit tetap bersih tanpa risiko iritasi berlebihan. Masker wajah dengan kandungan detoksifikasi seperti charcoal atau clay juga bisa dijadikan perawatan tambahan mingguan untuk membantu mengangkat partikel polusi yang tersisa di pori-pori sekaligus menutrisi kulit.

Pada siang hari, penggunaan sunscreen dengan perlindungan broad-spectrum SPF 30 atau lebih tinggi menjadi lapisan pertahanan wajib, mengingat sunscreen tidak hanya melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB, tetapi juga mencegah partikel polutan menempel langsung ke permukaan kulit. Kandungan zinc oxide pada physical sunscreen dinilai efektif memberikan perlindungan ganda terhadap sinar matahari sekaligus debu dan partikel asap yang melayang di udara.

Sementara itu, di malam hari, kulit membutuhkan perawatan pemulihan yang lebih intensif setelah seharian terpapar udara buruk. Penggunaan toner eksfoliasi ringan serta sleeping mask dengan kandungan detoksifikasi dapat membantu mengangkat residu polusi yang masih tersisa di pori-pori sekaligus mendorong proses regenerasi sel kulit secara optimal selama waktu istirahat.

Dengan menerapkan rutinitas perawatan yang konsisten dan tepat sasaran ini, kulit tetap dapat terlindungi dan sehat meski harus menghadapi tantangan kabut asap karhutla yang melanda Kalimantan Barat setiap musim kemarau tiba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....