Sulit Keluar dari 'Circle' Toxic? Ini Solusi dari dr. Firdaus
- 05 Jun 2026 21:26 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Lingkungan pertemanan memegang peranan yang sangat besar dalam proses pembentukan karakter dan value (nilai hidup) seorang remaja. Proses peniruan perilaku tersebut terjadi karena sistem kerja otak manusia yang terus belajar dari apa yang paling sering dilihat dan didengar di sekitarnya.
Praktisi Kesehatan sekaligus Pakar Neurolinguistic Programming (NLP) dan Hipnosis, dr. Firdaus, menjelaskan bahwa dalam bersosialisasi, remaja tidak boleh bersikap pilih-pilih teman. Namun, ketegasan dan selektivitas mutlak diperlukan saat menentukan siapa orang yang akan dijadikan sebagai teman akrab.
"Berteman dan bersikap baiklah kepada semua orang. Tetapi, kita harus bijak memilih siapa yang kita akrabi, siapa yang kita dengar nasihatnya, dan siapa yang kita lihat perilakunya karena itu yang akan memengaruhi isi kepala kita," ujar dr. Firdaus saat menjadi narasumber program Toserba (Topik Serba Ada) di Studio Pro 2 RRI Pontianak, pada Jumat, 29 Mei 2026 lalu.
Lebih lanjut, dr. Firdaus menjabarkan fenomena psikologis remaja yang cenderung melakukan tindakan ekstrem, seperti aksi kebut-kebutan di jalan atau begadang. Menurutnya, remaja kerap melihat sesuatu hanya berdasarkan reward (keseruan, pengakuan, dan validasi agar dianggap keren). Kondisi ini berbeda dengan orang dewasa yang menilai tindakan berdasarkan risiko (feedback).
Bagi remaja yang merasa canggung atau kesulitan memulai pertemanan karena takut tidak diterima, dr. Firdaus memberikan tips sederhana, yaitu dengan belajar menjadi pendengar yang baik.
"Kesalahan banyak orang adalah berusaha untuk didengar, bukan mendengar. Jika ingin membangun kedekatan (building rapport), cobalah pahami sudut pandang mereka terlebih dahulu dengan bertanya dalam pikiran kita sendiri mengenai alasan di balik perilaku mereka, tanpa harus langsung menyangkalnya," ucapnya kepada pemandu acara, Dipa Revanda.
Ia juga melihat dilema remaja yang sering kali merasa 'tidak enakan' untuk menolak ajakan teman karena takut dimusuhi atau dikucilkan. Menurutnya, batasan diri (boundaries) yang tegas bukan berarti memutus hubungan secara total, melainkan menolak perilakunya, bukan orangnya. Teman yang baik pasti akan menghargai perbedaan tersebut.
Namun, jika remaja sudah terlanjur terjebak dalam lingkaran pertemanan yang tidak sehat (toxic relationship), dr. Firdaus menyarankan dua langkah bijak. Pertama, kurangi intensitas pertemuan secara perlahan sembari mencari kelompok baru yang satu visi. Kedua, fokus melakukan peningkatan kualitas diri (upgrade value).
"Naikkan skill, wawasan, dan pengetahuan kita. Dalam prinsip hubungan, seseorang hanya akan mengikuti (leading) orang yang memiliki kelebihan dibanding dirinya. Dengan meningkatkan nilai diri, kita tidak akan mudah disetir, bahkan bisa memberikan dampak positif dan menjadi agen perubahan (agent of change) di lingkungan pertemanan tersebut," katanya.
Baca juga: Atasi Stereotip Gender, Orang Tua Diminta Ubah Pola Asuh Anak
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....