Viral Ikan Kaleng Dorong Edukasi Publik tentang Makanan UPF

  • 21 Mei 2026 13:09 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Makanan ultra processed food (UPF) kini semakin sering dibahas di media sosial karena dianggap berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas hingga penyakit metabolik. UPF sendiri adalah makanan yang mengalami proses industri tinggi dan biasanya mengandung banyak tambahan seperti pengawet, pewarna, pemanis, serta perisa buatan. Contohnya antara lain mi instan, snack kemasan, minuman bersoda, dan makanan siap saji. Namun belakangan, masyarakat mulai mempertanyakan apakah semua makanan kalengan otomatis termasuk UPF.

Perdebatan ini makin ramai setelah viral pembahasan tentang ikan kaleng, terutama sarden kalengan, yang disebut tidak selalu masuk kategori UPF. Banyak netizen mengira seluruh makanan kemasan pasti berbahaya, padahal proses pengalengan sebenarnya hanya metode pengawetan agar makanan lebih tahan lama dan aman dikonsumsi. Dalam beberapa produk sarden kaleng, komposisinya bahkan cukup sederhana, hanya terdiri dari ikan, saus tomat, minyak, dan garam tanpa tambahan zat kimia kompleks.

Ahli pangan juga menegaskan bahwa penilaian makanan tidak bisa hanya berdasarkan bentuk kemasan atau proses pengolahannya. Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB menjelaskan bahwa yang perlu diperhatikan justru kandungan gula, garam, lemak, serta bahan tambahan dalam produk tersebut. Artinya, ada perbedaan besar antara makanan olahan biasa dengan UPF yang benar-benar dipenuhi zat aditif industri. Karena itu, konsumen disarankan membaca label komposisi sebelum langsung menganggap suatu produk tidak sehat.

Viralnya ikan kaleng juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas dan keamanan produk perikanan di Indonesia. Pemerintah melalui KKP beberapa kali menegaskan pentingnya pengawasan rantai pasok ikan agar mutu produk tetap terjaga. Bahkan pada 2026, pemerintah mendorong transparansi distribusi hasil laut demi memenuhi standar keamanan pangan global. Langkah ini menunjukkan bahwa produk ikan olahan sebenarnya masih memiliki peluang menjadi sumber protein praktis dan bergizi jika diproduksi dengan standar yang baik.

Di media sosial, diskusi tentang ikan olahan juga berkembang menjadi obrolan soal harga pangan dan akses protein murah bagi masyarakat. Banyak warganet menganggap ikan kaleng menjadi solusi ekonomis di tengah kenaikan harga bahan makanan. Di berbagai forum online, masyarakat bahkan membandingkan ikan kaleng dengan makanan cepat saji lain yang kandungan gizinya lebih rendah. Fenomena ini memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap nutrisi mulai meningkat, meski sering bercampur dengan informasi yang belum sepenuhnya akurat.

Pada akhirnya, makanan UPF tidak selalu harus dihindari secara total, tetapi perlu dikonsumsi dengan bijak. Viral ikan kaleng justru membuka diskusi penting bahwa tidak semua makanan olahan identik dengan makanan berbahaya. Kunci utamanya tetap pada keseimbangan pola makan, membaca informasi gizi, dan memilih produk dengan komposisi yang lebih sederhana. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat bisa lebih cerdas memilih makanan praktis tanpa harus terjebak ketakutan berlebihan terhadap semua produk kemasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....